Kaum Tertindas

Kaum Tertindas

Dalam Hadis Qudsi Allah Swt berfirman, “ Barangsiapa yang ingin menjumpai-Ku maka carilah Aku di tengah orang-orang miskin dan tertindas.”

Alam sejarah perjuangan para pemimpin terkemuka di dunia kita menyaksikan berbagai episode kehidupan yang cukup menakjub-kan. Hampir semua kebangkitan untuk mengembalikan nilai-nilai moral kehidu-pan manusia selalu diawali dengan kebangkitan kalangan minoritas kaum miskin dan tertindas. Mereka bangkit bersamaan dengan protes mereka atas kedzaliman, ketimpangan kebijakan, eksploitasi, penjajahan yang dilakukan oleh kalangan aristokrat dan borjuis. Mereka bangkit melawan bersama pemimpinnya yang dianggap dapat mengantarkan  kepada kemenangan menuju kebebasan.

Konsep  pembebasan yang dikem-bangkan oleh kalangan analis sosial pada umumnya mengatakan perangkat yang paling memungkinkan untuk membangkit-kan perlawanan kaum proletar adalah mengusik sejumlah kepentingan yang menyangkut hajat hidup kaum tertindas. Para pemimpin datang dengan gagasan dan ide perlawanan untuk membangkitkan semangat perlawanan. Dengan gerakan penyadaran seperti inilah kemudian sejarah mencatat kesuksesan demi kesuk-sesan  diperoleh. Gerakan penyadaran ini pulalah yang digerakkan para pemimpinan sejarah untuk membangkitkan semangat pengikutnya.  Sejarah mencatat bahwa berbagai revolusi yang pernah ada di muka bumi seperti revolusi Perancis dan Rusia adalah karena penyadaran itu

Islam sebagai agama Ilahi, juga hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan sesama manusia. Kehadirannya menghilangkan sekat-sekat strata sosial yang dapat melahirkan penindasan, dengan mengerus hak-hak hidup setiap manusia. Islam menghadirkan ajaran kesetaraan kedudukan manusia di dunia dan di mata Tuhan. Manusia hanya dapat diberikan kedudukan lebih tinggi dari yang lainnya jika diukur dengan ilmu, amal dan takwanya. Bukan berdasarkan kekayaan ataupun rasnya.

Dengan Muhammad, kemaslahat-an manusia dan alam mendapatkan jaminan. Nabi Muhammad Saw hadir membawa rahmat ketengah masyarakat yang hampir mengalami kebangkrutan budaya. Masyarakat yang tadinya tidak dikenal sejarah dan peradabannya kecuali kejahilan. Di mana-mana pembantaian, penindasan, peperangan dan pemerkosaan menghiasi berbagai berita. Di tengah kondisi seperti inilah Nabi Muhammad Saw tampil dengan konsep perubahan dan pembaharuan sehingga tatanan peradaban jahiliyah sirna dengan tampilnya cahaya kebenaran. Perubahan dari dzulumat menuju nur, dari jahiliyah ke peradaban Islam, dari kebodohan meraih kecerdasan, dari ketertinggalan mengapai kemajuan dan dari ketertindasan  meraih kemerde-kaan.

Jika suatu kaum mendapatkan dirinya dalam keadaan terpuruk, kaum tersebut harus merubah dirinya menuju kebangkitan positif. Menuju perubahan positif memerlukan pengorbanan baik pikiran, tenaga bahkan  air mata dan darah. Namun perubahan tidak akan pernah tercapai tanpa kehadiran seorang pemimpin. Kehadiran seorang pemimpin niscaya dan mutlak, karena darinya bimbingan, arahan dan  kepemimpinan menentukan arah sebuah perubahan. Perubahan yang akan menuntun dan memberikan advokasi dan pembelaan golongan yang lemah dan tertindas. Situasi seperti ini memang dijanjikan oleh Allah sebagaimana firmannya, “Dan Kami hendak memberikan karunia kepada mereka yang tertindas di bumi, Kami jadikan mereka menjadi pemimpin-pemimpin dan Kami jadikan mereka sebagai pewaris.(QS. 28:5).

Kehadiran pemimpin bukan hanya memberi harapan tapi sekaligus sebagai suluh dan oase bangkitnya api perlawanan dan kehidupan kaum yang tertindas. Ketika mereka dimusuhi oleh bangsawan Quraisy, Rasulullah Saw datang memberikan harapan. Ketika kaum Nabi Mûsâ ditindas oleh Raja Fir’aun, Nabi Musa memperjuangkan kebebasan mereka. Walaupun mereka harus melewati belahan laut merah untuk mendapatkan kemenangan, dan meneng-gelamkan Fir’aun di laut merah. Kemena-ngan memang harus diraih dengan pengorbanan. Kemenangan bukanlah sesuatu yang diberikan tetapi memang sesuatu yang harus diperjuangkan. Apalagi kemenangan untuk mengalah-kan kebatilan dan kezaliman, keme-nangannya bahkan harus dengan pengor-banan darah dan air mata.

Janji-janji Allah dalam surat diatas hanya dapat teralisasi jika pemim-pin hadir memberikan pengayoman kepada kaum tertindas. Pemimpin yang dapat membangkitkan api perlawanan serta kemanusiaan dengan menunjukkan secara jelas jalan yang benar. Seperti contoh yang dapat kita lihat pada Rasulullah Saw dan Nabi Mûsâ as sebagai pembela kaum tertindas dan terampas kemerdekaannya oleh penguasa. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa cara hidup Rasulullah Saw adalah seseder-hana orang yang paling sederhana di kaumnya. Hati Rasulullah Saw tidak tenang sebelum ummatnya terbebas dari kelaparan dan ketertindasan. Bahkan Rasulullah dalam salah satu sabdanya berkata, “Kelak nanti aku akan dibangkitkan bersama dengan orang-orang miskin dan tertindas.”  Hadis ini mengambarkan betapa dekatnya hubungan antara dirinya dengan sahabatnya.

Rasulullah Saw sangat memper-hatikan kehidupan orang miskin. Hampir semua perintah dalam ajaran Islam memiliki indikasi pengayoman terhadap orang miskin seperti haji, puasa, zakat, korban, khumus. Rasulullah Saw hadir untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut menjadi sebuah kenyataan sejarah bukan hanya sebuah retorika. Perilakunya yang sederhana dan selalu membela kaum yang lemah di hadapan para tiran dan kaum penindas menjadikan dirinya dicintai sedemikian rupa oleh kalangan masyara-kat miskin dan tertindas. Jadi adalah sebuah kemuskilan jika peristiwa Surat Abasa (bermuka masam) itu ditujukan kepada Rasulullah Saww.

Di zaman kita, di negeri yang katanya berbudaya santun yang sangat tinggi tapi di mana-mana kita menemu-kan kemiskinan. Bahkan dalam data terakhir BPS tingkat kemiskinan di Indonesia telah mencapai 69% dari total jumlah penduduk. Tetapi ironis bahwa para pemimpin bangsa ini lebih memper-soalkan jatah kekuasaan ketimbang nasib bangsa yang semakin terpuruk. Bahkan dengan tampilnya sejumlah ulama bayaran yang tidak sedikit pun mempunyai kepekaan kemanusiaan. Alih-alih meng-urusi nasib umat, mereka bahkan menyu-lut pertikaian anarkis di antara sesama orang miskin. Kita saat ini kehilangan figur seorang pemimpin yang membela kelom-pok yang lemah dalam ekonomi dan kekuasaan. Kita rindu akan figur seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw, figur pemersatu bangsa, yang memiliki integ-ritas kenegarawanan yang tinggi dan memimpin dengan penuh kasih sayang.

 Kerinduan kita kepada pemim-pin yang mewarisi cita-cita suci Rasu-lullah semestinya memberikan implikasi yang positif. Salah satu implikasi itu adalah menumbuhkan semangat persatuan dan menjauhi perpecahan. Perpecahanlah sebenarnya menjadi sumber kehancuran bangsa-bangsa Islam di hampir semua belahan dunia. Memang Allah Swt telah mengingatkan kita untuk menjauhi perpecahan. Pesan ini di siratkan dalam Quran; “…dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecahbelah agama mereka beberapa golongan tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. 30:31-32) Memang inhern dalam perpecahan itu adalah kehancuran dan satu-satunya semangat di balik perpecahan adalah pintu kemusyrikan.

Dalam periode seperti inilah Rasulullah saw hadir ditengah masyarakat jahiliyah Quraisy. Dan sejarah menunjuk-kan bahwa ditengah kekalutan budaya akibat hegemoni kekuasaan para tiran penindas dari berbagai kabilah yang merasa superior atas yang lainnya, nabi justru menawarkan perdamaian dan ishlah. Persatuan yang ditandai dengan memper-saudarakan setiap orang dari berbagai klan dan golongan yang berbeda menandai kebangkitan peradaban bangsa arab. Dari sinilah awal tumbangnya hegemoni kekuasaan imperium Romawi dan Persia. Kekuatan itu diperoleh justru setelah rujuk ‘nasional’ yang dilakukan nabi mengawali langkah konsepsionalnya dalam membangun masyarakat ‘madani’ di Madinah.

Kita tidak perlu khawatir, seandai-nya keberadaan para ‘kampiun’ demokrasi di negeri ini memiliki integritas kenegara-wanan dan kemanusiaan yang tinggi. Segala tragedi di Indonesia, seperti: Ambon, Poso, Aceh, Sampit, dan lain-lain. tidak akan terulang. Atau, mungkin kita harus bersabar menunggu pemimpin yang dapat menanamkan semangat berjuang melawan penindas, yang menanamkan cinta kepada kebenaran dan keindahan Ilahiah, yang menanamkan kepada manusia kebencian akan maksiat dan dosa, yang menuntun kepada tegaknya hukum dan kepatuhan, yang menanamkan ideologi Islam dan pemeliharaannya, yang mengajar manusia untuk memegang teguh penegakan syari’ah dan melenyap-kan birahi syahwatnya yang rendah, yang menuntun manusia bertaqarrub kepada Allah, berkhidmat kepada sesama manusia serta berbuat baik kepada sesama makhluk Allah. Penantian kita kepada pemimpin seperti ini tidak boleh membuat kita pasif tetapi proaktif dan mungkin salah satu caranya adalah mengkonstruksi ulang pemahaman keberagamaan kita. Atau kita membiarkan bangsa ini ter-cabik-cabik kedalam perpecahan yang menyeramkan.

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Januari 7, 2007, in Buletin. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: