Kearifan Teologi, Inklusifisme dan Pluralisme Nurcholis Madjid

 

Pengantar Diskusi Panel “Memahami Pemikiran Pluralime Cak Nur” di UNISBA Bandung, 12 Januari 2006

 

Kearifan Teologi, Inklusifisme dan Pluralisme Nurcholis Madjid
Andito*

Perkenankan saya memulai tulisan pengantar diskusi ini dengan mengedepankan pemetaan menarik tentang Islam yang dilakukan oleh Prof. DR. Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal). Kang Jalal mengenalkan dua kategori: Pertama, “Islam Konseptual” yakni konsep Islam yang berupa nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an, Sunnah Nabi, narasi buku-buku keislaman dan ceramah-ceramah keislaman. Kedua, “Islam Aktual” yakni nilai dan etos keislaman yang teraktualisasi dalam perilaku pemeluknya.

Boleh saja kita berdasarkan Islam Konseptual membenci kemungkaran, kedzaliman, ketidakadilan dan sebagainya. Tetapi konsep ini tidak akan dapat menghilangkan sistem-sistem “kemungkaran” itu. Sebab hanya Islam Aktuallah yang dapat mengubah kehidupan seseorang dan sejarah dunia. Dengan kata lain “Kekuatan kaum Muslim terletak dalam tindakan mereka, bukan pada teks-teks suci yang mereka yakini”.1

Pemetaan dengan kategori di atas penting, karena berpijak pada kondisi realitas umat “Islam yang seharusnya” (numena) dan umat “Islam yang senyatanya” (fenomena), menggunakan bahasa ilmu tafsir al-Qur’an, realitas-realitas inilah “abash al-nuzul” atau dalam ilmu Musthalah al-hadis “asbab al-wurud”, menjadi pendorong dan basisi sosio-budaya ijtihad-ijtihad intelektual setiap cendikiawan— tidak terkecuali Cak Nur— dalam memecahkan problem dan solusi yang dihadapi diri dan umatnya.

Nah, kaitannya dengan Diskusi Panel “Memahami Pemikiran Pluralisme Cak Nur” sebagaimana panitia informasikan, saya merasa sangat penting untuk mengatakan bahwa sangat bijak dan arif mempertimbangkan tawaran konsep “Teologi Inklusif dan Pluralis” yang Cak Nur lakukan secara konsisten dan penuh amanah, berpijak kokoh dan penuh keyakinan (optimisme) kepada ilmu dan kebenaran ajaran Islam yang diyakininya sampai akhir hayatnya. Teologi ini sangat urgen berkaitan dengan Indonesia yang merupakan “Nation States” (Negara bahasa), dan perkembangan Indonesia modern serta dunia global (global village).

Agama sebagai Pesan dan Nasehat Ketuhanan (al-Din Nasihah)

Secara keimanan (teologis), pemikiran dan ijtihad-ijtihad intelektual Cak Nur berupaya mengelaborasi dan memaknai pesan-pesan ketuhanan yang terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dalam banyak kesempatan Cak Nur menegaskan bahwa al-Quran merupakan pesan (washaya) dan nashihah Tuhan (Allah). Berbicara pesan Tuhan, maka, selain al-Qur’an, kita mengenal Kitab-kitab Suci (Zabur, Taurat, Injil dan al-Qur’an) yang diturunkan Allah kepada Nabi-nabi sebelum Muhammad saw, Sang Khatam al-Rusul wa al-Anbiya. Dan Rasulullah mengenalkan jumlah Nabi sebanyak 124.000, diantaranya 313 merupakan Rasul. (HR. Ahmad).

Pesan-pesan ketuhanan yang menjadi “titik temu” (common platform) dalam perjalanan panjang agama-agama (komunitas) itu bermuara pada “Kesadaran Ketuhanan” (takwa) dan keharusan keyakinan hanya ada satu “Tuhan Yang Esa” (tawhid). Berbicara kitab-kitab suci sebelum al-Qur’an, misalnya The Ten Commandement-nya Nabi Musa dan Injil-nya Nabi Isa, kita akan temukan pesan-pesan: untuk hanya menyembah Tuhan Yang Esa (tawhid) dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, tidak boleh membunuh/ berzinah/ mencuri/ memfitnah/ tidak bersaksi palsu dan dusta/ jangan menginginkan harta/ istri orang lain dan keharusan berbuat kebaikan. Inilah kalimat-un sawa (titik temu) antara agama-agama yang dikenal manusia dan orang-orang Islam diperintahkan sebagai landasan hidup bersama2. Inilah pesan-pesan yang bersifat universal dan menjadi inti dan “kesamaan” pada semua agama yang benar.

Menarik, untuk membincangkan pesan dasar yang merupakan perjanjian primordial kita untuk mengakui hanya ada “Satu Tuhan” (tawhid). Tawhid berkaitan dengan sikap percaya atau beriman kepada Allah, dengan segala implikasinya. Namun tawhid sebagai ekspresi iman, tidak cukup hanya dengan percaya, tetapi menyangkut juga pengertian yang benar tentang siapa Allah yang sejati, yang wajib dipatuhi dan sembah.3

Pluralisme dan Tiga Sikap Keagamaan

Berbicara pemikiran Cak Nur tentang pluralisme, sama sekali berbeda jauh dengan definisi pluralisme yang dipahami dan diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Pluralisme (Agama): paham bahwa semua agama sama dan kebenaran setiap agama adalah relative: setiap pemeluk agama boleh mengklaim hanya agamanya yang benar/ semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga”.4

Dalam konteks definisi MUI di atas, penulis kedepankan sejarah pergumulan dan tiga sikap keagamaan umat Kristen mensikapi agama-agama di luar dirinya, dan umat Islam bisa melihat dirinya dan kaitannya dengan teologi pluralisme Cak Nur.

Pertama, Sikap Ekslusif. Sikap keagamaan yang tertutup dan memandang bahwa keselamatan hanya ada pada agama dan teologinya. Bagi Kristen, keselamatan hanya ada dalam gereja (ekstra ecclesiam nulla salus) atau tidak ada nabi di luar gereja (etraecclesiam nullus proheta). Pada umat Islam, sikap dan pandangan-pandangan semacam ini didasarkan pada Surah dan Ayat-ayat QS:al-Maidah/5:3), al-Imran/3:85 dan 19.5

Kedua, Sikap Inklusif. Sikap keagamaan yang membedakan antara kehadiran penyelamatan dan aktifitas Tuhan dalam ajaran-ajaran agama-agama lain, dengan penyelamatan dan aktifitas Tuhan hanya ada pada satu agama (Kristen). Dalam Islam sikap dan pandangan-pandangan seperti ini dikembangkan oleh Ibn Taymiyah (tokoh yang menjadi konsentrasi disertasi doctoral Cak Nur di Chicago). Sikap dan pandangan kelompok yang disebut dengan Islam Inklusif ini didasarkan pada Surah dan Ayat QS:al-Imran/3:64 yang berbicara tentang “titik temu” (kalimat-un sawa) agama-agama dan al-Maidah/5”48. yang menjelaskan adanya syir’ah (jalan menuju kebenaran) dan minhaj (cara atau metode perjalanan menuju kebenaran).6

Ketiga, Sikap Paralelisme, Sikap keagamaan yang memandang bahwa keselamatan ada pada semua agama. Pengembangan sikap keagamaan ini melihat semua agama yang ada di dunia ini prinsipnya sama. Semua agama, dengan ekspresi teologi keimanan dan ibadahnya yang beragam, prinsipnya sama. Tidak ada bedanya antara Yahudi, Kristen, Islam dan agama lain semisal Budhisme, Shintoisme, Konfucuisme. Semuanya mengajarkan keselamatan dan akan selamat.7

Pangkal Tolak Teologi Pluralime Cak Nur

Pluralisme Cak Nur berdiri tegak atas fundamen ajaran dan nilai etis al-Qur’an seutuhnya. Teologi ini berangkat dari kesadaran kemajemukan atau pluralitas umat manusia yang merupakan kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Tegasnya bahwa Allah menciptakan umat manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai (QS.49:13). Dan bahwa perbedaan antara manusia dalam bahasa dan warna kulit merupakan pluralitas yang mesti diterima sebagai kenyataan yang positif dan merupakan salah satu kebesaran Allah (QS. 30:22).

Surat lain menegaskan bahwa perbedaan pandangan hidup dan keyakinan, justru hendaknya menjadi penyemangat untuk saling berlomba menuju kebaikan. Kelak di akhirat, Allah lah yang akan menerangkan mengapa dirinya berkehendak seperti itu dan keputusan yang paling adil di tangan-Nya (QS.5:48)

Pemahaman yang didasarkan kesadaran kemajemukan secara social-budaya-religio yang tidak mungkin ditolak inilah yang oleh Cak Nur disebut sebagai pluralisme. Yaitu sistem nilai yang memandang secara positif-optimis dan menerimanya sebagai pangkal tolak untuk melakukan upaya konstruktif dalam bingkai karya-karya kemanusiaan yang membawa kebaikan dan kemaslahatan.8

Secara tauqifi (panduan pasti), menarik sekali bagaimana semangat pluralisme ini dicontohkan oleh Rasulullah, manusia teragung dan termulia dan tauladan sejati yang dipesankan al-Qur’an. Bermula dengan kehadiran serombongan pendeta Kristen dari Najran pada tahun IX Hirjah untuk berdebat dengan Rasul tentang keyakinan dan akan ketuhanan Isa as. Diskusi berlangsung beberapa hari di dalam Masjid Madinah, dan Rasul membolehkan mereka melaksanakan shalat sesuai dengan ajaran Kristen di dalam masjid. Diskusi tidak mencapai kata sepakat, sehingga akhirnya Rasul ber-“mubahalah”9

Pada tataran sosio-politik klasik, Rasulullah meletakkan “Konstitusi Madinah” yang terdiri dari 47 pasal. Berikut sedikit isi sebagian mukaddimahnya: “…..dan tidak satu pun bangunan dalam lingkungan kanisah dan gereja mereka yang boleh dirusak, begitu pula tidak dibenarkan harta gereja itu masuk untuk membangun masjid atau rumah orang-orang Muslim. Barang siapa melakukan hal itu…telah melanggar perjanjian Allah dan melawan Rasul”.

Pasca Rasulullah, Khalifah Pertama, Abu Bakar mewasiatkan kepada tentaranya untuk menjaga keutuhan dan keselamatan “orang-orang sedang beribadah, tempat ibadah (gereja), anak-anak, orang tua dan perempuan”. Khalifah Kedua, Umar ibn Khattab melakukan “Perjanjian/ piagam Aelia” dengan penduduk Yerussalem, ketika kota itu ditaklukkan. Bahkan Umar melaksanakan shalat diteras gereja10. Dalam banyak karya tulisnya, Cak Nur sering mengutip pendapat Ibn Taymiyah sebagai berikut: Oleh karena pangkal agama, yaitu “al-islam” (sikap tunduk dan pasrah kepada Tuhan Yang Esa) itu satu, meskipun syariatnya bermacam-macam, maka Nabi saw bersabda: “Kami golongkan para nabi, agama kami adalah satu, “dan “Para nabi itu semuanya bersaudara, tunggal ayah lain ibu”, dan yang paling berhak kepada Isa putera Maryam adalah aku”. (Islam Doktrin dan Peradaban hal 182).

Prinsip Kemajemukan Keagamaaan

Apa yang dimaksud kemajemukan keagamaan (religious plurality) sebagaimana al-Qur’an ajarkan? Cak katakan:

Ajaran (pemahaman) ini tidak perlu diartikan semua agama sama dalam bentuknya yang nyata sehari-hari (dalam hal ini, bentuk-bentuk nyata keagamaan orang-orang “muslim” pun banyak yang tidak benar karena secara prinsipil bertentangan dengan ajaran dasar Kitab Suci al-Qur’an, semisal pemitosan kepada sesama manusia atau makhluk yang lain, baik yang hidup atau yang mati) akan tetapi ajaran kemajemukan keagamaan itu menandaskan pengertian dasar bahwa semua agama diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh para pengikut agama itu masing-masing, baik secara pribadi maupun secara kelompok. (Islam doktrin dan Peradaban, Paramadina, hal. 184)

Prinsip-prinsip dan Landasan Pluralime Cak Nur

1. Prinsip Pluralitas Merupakan Takdir Tuhan (QS:2:213, QS;5;48)
2. Prinsip Pengakuan Hak Eksistensi Agama di luar Islam (QS:5:44-50, QS:22;38-40)
3. Prinsip titik temu dan kontinuitas Agama-agama, Nabi dan Rasul (QS:2;136-165, QS:2:285, QS:42:13, QS:4:163-165, QS:2:136, QS,29:46 QS,42:15, QS,5:8)
4. Prinsip tidak ada paksaan dalam Agama (QS, 2:256, QS,10:99, QS,22:38-40)
5. Tiga Prinsip Esensi Agama: Keimanan kepada Tuhan, Hari akhirat dan Berbuat Baik (QS,2:62, QS,5:26)
6. Prinsip Menjunjung Nilai-nilai Kemanusiaan (HAM) (QS,5:32)

Atas dasar semua itu Cak Nur mengatakan. ”…meskipun tidak sepenuhnyua sama dengan yang ada di zaman modern ini, namun prinsip-prinsip kebebasan beragama dalam Islam klasik itu sama dengan yang ada sekarang. Bahkan tidak berlebihan … merupakan pengembangan lebih lanjut dan konsisten yang ada dalam Islam klasik. Wallahu a’lam bi al-Shahawab.

Referensi

1). Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual, Mizan, 1991, hal 1


2). ‘Katakanlah olehmu (Muhammad): Wahai Ahli Kitab! Marilah menuju ke titik pertemuan (kalimat-unsawa”) antara kami dan kamu: yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan tidak memperserikatkan-Nya kepada apapun, dan bahwa sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai “tuhan-tuhan” selain Allah. Tetapi jika mereka (para penganut kitab suci) itu menolak, katakanlah olehmu sekalian, Jadilah kamu sekalian (wahai penganut kitab suci) sebagai saksi bahwa kami adalah orang-orang yang pasrah kepada-Nya (QS. al-Imran/3:64). Lihat juga seruan kepada nasehat yang sama yang diberikan kepada Nabi Nuh,Ibarahim, Musa dan Isa (QS: al-Syura/42:13)

3). Dalam konteks peng-Esa-an Tuhan ini sekalian untuk dibincangkan lebih jauh bagaimana Cak Nur mengelaborasi dalam ranah social-politik. Tahun 70-an umat Islam Indonesia disuguhi debat menarik dan “menggairahkan” dunia intelektual akademis keislaman. Pemicunya adalah kontroversi semantik yang digunakan Nurcholish Madjid (alm) sekitar: rasionalisasi, sekulerisasi dan desakralisasi. Tesis Cak Nur adalah bahwa umat Islam perlu dibebaskan dari sakralitas semu dan ideologi-ideologi keagamaan yang membelenggu pontensi inteleknya dan menjadi “tembok-tembok tebal dan tinggi” penahan laju dan penghambat kemajuan peradabannya. Maka, kira-kira dalam pikiran Cak Nur sebagai berikut: umat ini tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar disebut agama dan mana yang hanya sekedar pemahaman dan pendapat seorang ulama. Untuk itu, umat perlu melakukan profanisasi masalah-masalah duniawi yang pendekatannya membutuhkan sikap obyektif-rasional dari masalah-masalah iman, akidah dan ibadah yang bersifat spiritual-ruhaniyah.

Cak Nur mengharapkan umat mampu ‘diliberalkan’ dari absolutisme dan munculnya otoritas keagamaan. Cak Nur memimpikan umat dapat dimerdekakan dari sikap-sikap kurang dewasa dalam beragama, keberagamaan yang penuh kuah claim of truth, kaveling-kaveling kurang kebenaran hanya bagi diri dan kelompoknya, kesombongan intelektual, otoritas dan institusi keagamaan bak penjaga iman dan akidah, beragama yang serba formalistik-normatif. Berangkat dari itu Cak Nur menyodorkan keislaman yang inklusif, semangat al-hanafiyah al-samhah, egaliter, pluralistik dan demokratis.

4). HU. Republika

5). Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis, Paramadina, hal. 44-48

6). Ibid

7). Ibid

8). Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Paramadina, 1995

9). Lihat uraian indah dan menarik Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, surat al-Imran. Quraish menguatkan pendapatnya dengan mengutip pendapat al-Qurtubi dan Syaikh Muhammad Sayyid Thantawi, Pemimpin Tertinggi al-Azhar, Mesir.


10). Nurcholish, Op.Cit.

*Aktivis MAULA (Masyarakat Universal Lintas Agama)

Sumber: http://www.forum-rektor.org

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Januari 11, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. hey…nggak nyangka, akhirnya ketemu juga ama bg andito di dunia maya. walaupun cuma tulisannya. thanks yach udah nyempetin ngasih materi di LK II kemaren di Pontianak. semoga nggak kapok!!! yakusa…. dari Fitri UNiv. Tanjungpura Ptk, KALBAR. kalo’ mau e-mail segera ke vit@x-presi.com

    sekalian silaturrahmi ma kawan2 HMI di UNS

    ditunggu kabarnyaa…

    cu

  2. Assalamualaikum Wr, Wb.

    Salam Perjuangan

    HmI Komisariat Nunukan Cabang Tarakan (Persiapan) adalah komisariat yang berada di depan pintu gerbang perbatasan Malaysia…. dengan berbagai macam permsalahan HmI Kom. di Nunukan pun Hijau Hitam ada belum setahun…………

    Mohon Saran……………….. untuk mengeksistensikan HmI di pintu gerbang perbatasan…

  3. kalau menurut saya, rekrut kader-kader dan didik mereka. bina mereka dengan nilai-nilai Keislaman dan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI. insya Allah bermanfaat

  4. saya sependapat dengan pendapat ressay di atas, sebab untuk menciptakan kader-kader militan yang mempunyai nilai-nilai keislaman kuat, harus dimulai dari nol,,rekrut kader-kader dan gembleng mereka dengan metode khas HMI, insyaallah bermanfaat

  5. Tugas berat bagi PPA adalah bagaimana kader itu sadar melaksanakan ajaran Islam dan bagaimana kader dapat memahami NDP sebagai ideologi HMI.

  6. boleh tuh artikel2 Antum dikirimkan ke hmi_becak@yahoo.com untuk dimuat di sini.

  7. MENURUT SAYA, buat apa rekrut banyak-banyak kader, tapi esensi dalam diri kader kosong. salam kenal hijau hitam. kalau kawan-kawan mau kenal saya lebih dekat, jangan lupa kunjungi gubug saya di :
    http://www.212baca.wordpress.com
    YAKUSA………………………………………………..

  8. Asalamualaikum
    Kawan2 HMI gmana nih peta Poltik Nasional
    Hijau Loreng atau Hijau Hitam hehehe
    oya gmana juga masalah NDP?NDP Lama atau yang sudah disahkan di Makasar?
    Yusran_HMI Cabang Tarakan

  9. Aku punyanya peta solo mas. hehehehe….

    Belum tahu lagi kelanjutan masalah NDP itu. Belum dapat kabar dari PB.

  10. wimmyHMIfisipMALANG

    Assalamualaikum Kawan!
    cuma sedikit yang ingin saya sampaikan…
    saya dengar kabar LK II akan dilaksanakan di bogor tgl 19 Oktober ini..
    sayang skali saya g bisa dateng…T_T
    semoga kawan-kawan yang dateng bisa berbagi!!
    hidup pluralisme!
    perbedaan itu indah!
    hidup mahasiswa!
    hidup HMI!
    yakusa!
    Wassalamualaikum….!!!!

  11. salam
    yang saya tahu tanggal 25 oktober.

    Salam untuk temen2 di Malang.

    wassalam.

  12. bismillah…subhanallah klo HMI ingin memperjuangkan islam secara sungguh2…tlong skarang banyak isu miring tentang HMI..banyak arek2 HMI yng pacaran, mabuk2an, diskotik dkk..ini adalah testimoni teman sy yng jdi korban HMI khususnya di Malang, UB..perbaiki ini….salam Santo KAMMI MALANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: