Penerapan Sistem KBK di Fakultas Hukum UNS

 

Penerapan Sistem KBK di Fakultas Hukum UNS

Oleh: Yasser Arafat *

Rasulullah yang mulia bersabda: “Ilmu itu seperti perbendaharaan yang sangat berharga. Kuncinya adalah bertanya. Bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian; karena dalam hal bertanya itu, ada empat kategori orang yang diberi pahala. Orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengarnya dan orang yang menggemari mereka”.
Suatu saat saya pernah menonton sebuah film yang awalnya saya pikir film itu jelek. Tetapi setelah mencoba untuk mengikuti jalan ceritanya, ternyata film itu memberikan saya sebuah pelajaran berharga. Latar dari film itu adalah Harvard University. Salah satu universitas yang terkenal di dunia.
Di dalam film itu sempat disorot suasana pembelajaran di sana. Ketika dosen masuk kelas, dosen menyapa para mahasiswanya dan melemparkan sebuah pertanyaan –yang menurut saya– pertanyaan itu hanya pertanyaan biasa saja. Dosen itu bertanya, “Siapa yang pernah membaca Novel yang judulnya…” Beberapa mahasiswa pun mengacungkan jarinya. Dan terjadilah sebuah dialog antara mahasiswa dengan dosen maupun mahasiswa dengan mahasiswa. Setelah saya pikir-pikir, ternyata pertanyaan itu dilemparkan untuk membawa suasana kelas menjadi suasana yang sangat dialogis. “Kegiatan belajar mengajar akan efektif jika suasana kelas menyenangkan, kondusif, dan dialogis,”begitu menurut para psikolog.
Kembali lagi ke cerita film tersebut, dosen tersebut bertanya kepada salah satu mahasiswa yang mengaku pernah membaca novel tersebut, tetapi ternyata mahasiswa itu tidak mampu menjawabnya. Sang dosen tidak lantas mengecam mahasiswa tersebut. Dosen tersebut tidak merendahkan harga diri mahasiswa yang tidak dapat menjawab pertanyaannya, di hadapan mahasiswa lainnya. Sang Dosen malah memberikan apresiasi atas ketidakmampuan mahasiswa itu untuk menjawab. Saya pikir apa yang dilakukan oleh dosen tersebut sangat bagus sekali. Hal itu sesuai dengan sebuah penelitian bahwa anak kecil dalam lima tahun, ia bisa menguasai 90 % kata-kata yang dipergunakan orang dewasa tanpa buku tatabahasa dan kurikulum sistematis.

Kemampuan luar biasa itu muncul karena anak kecil belajar tanpa dikecam dan dikritik. Ketika anak kecil jatuh, lingkungan sekitar tidak menutup pintu belajarnya. Orang dewasa di sekitarnya akan mengangkatnya dan menuntunnya untuk berjalan kembali. Ketika ia salah berucap, orang disekitarnya memuji dengan tulus bahkan terkadang orang tuanya meniru kata yang diucapkannya dengan salah.
Dua puluh tahun yang lalu, Jack Canfield menemukan bahwa anak kecil mulai mengalami kemunduran dalam belajar ketika ia masuk sekolah.

Mengapa?

Karena rata-rata setiap hari di sekolah anak-anak menerima 75% komentar negatif. Enam kali dikecam daripada dihargai!
Kecaman terhadap murid adalah senjata yang ampuh untuk melumpuhkan potensi luar biasa mereka. Duduk berdiam diri di kelas adalah penumpulan otak yang paling efektif. Pembelajaran di ruang kelas harus menghilangkan learning shutdown. Kelas harus dibawa dalam suasana yang menyenangkan, menyuburkan apresiasi, seraya mempercepat waktu dalam menyampaikan materi.

Saya melihat beberapa dosen di fakultas hukum UNS ini boro-boro mau mengapresiasi jawaban mahasiswanya yang mungkin salah, malahan dosen itu enggan berdialog dengan mahasiswa. Dosen itu asyik dengan buku yang ada di depannya lalu “mendongengkannya” kepada para mahasiswanya. Jadi seakan-akan yang ada di dalam otaknya itu hanya masuk ruang kuliah, memberikan mata kuliah, lalu keluar dan mendapatkan gaji.
Walaupun memang ada beberapa dosen yang rajin melemparkan pertanyaan-pertanyaan kepada mahasiswa, tetapi mahasiswanya sendiri enggan menjawabnya. Ada beberapa kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan hal itu:
Pertama, Mahasiswa itu ogah-ogahan. Mau jawab kek atau gak kek, bodo amat. Ada beberapa mahasiswa yang berprinsip seperti itu.
Kedua, Mahasiswa enggan menjawab/bertanya kepada dosen karena mereka takut. Sosok seram guru SMA masih terngiang-ngiang di benak mahasiswa hukum UNS.
Ketiga, Mahasiswa emang tidak tau jawabannya.
Saya pikir, point kedua itu dapat kita atas dengan mudah. Dan itu sudah pernah saya saksikan dan rasakan sendiri. Sebut saja mata kuliah hukum Pajak. Sang dosen memberikan kesempatan kepada beberapa mahasiswa untuk mempresentasikan tugas paper yang telah dibuatnya di depan. Dan tahukah Anda apa yang terjadi? Ketika sesi tanya jawab, banyak mahasiswa yang mengacungkan jarinya. Mereka memberikan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan walaupun memang sebagian dari mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan itu dengan tujuan agar mahasiswa yang presentasi tidak dapat menjawab.
Kita lihat perbedaan yang begitu mencolok. Ketika dosen yang “ngoceh” di depan lalu melemparkan pertanyaan kepada mahasiswanya, hanya segelintir saja dari mahasiswanya yang merespon pertanyaan tersebut. Tetapi ketika yang “ngoceh” di depan ruang kuliah itu adalah temannya sendiri, kebanyakan mahasiswa antusias sekali untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan. Mereka saling berebut untuk mendapatkan kesempatan mengajukan pertanyaan. Jadi saya sarankan kepada dosen FH UNS untuk memberikan kesempatan lebih bagi mahasiswa untuk presentasi di depan ruang kuliah. Sungguh egois sekali kalau teknologi OHP hanya dikuasai oleh dosen-dosen. Bagi-bagi donk dengan mahasiswa. Mahasiswa juga ingin belajar tampil di depan layaknya seorang dosen.
Kita jangan menganggap enteng persoalan “bertanya” itu. Orang yang pintar biasanya selalu mempertanyakan sesuatu, dan orang yang bodoh itu selalu menerima. Anak kecil itu sebetulnya memiliki kecenderungan untuk bertanya, dan seringkali pertanyaannya amat bebas. Kalau sudah besar, kita mulai berpikir apakah ada yang harus kita tanya kan atau tidak, tetapi anak kecil tidak berpikiran seperti itu. Dan tidak jarang, orangtua membentak anak kecil itu, padahal dengan bertanya akan membuka perbendaharaan ilmu pengetahuan mereka. Bahkan ada peneliti yang mengatakan bahwa seandainya jiwa bertanya anak kecil itu bisa dipertahankan sampai dewasa. maka hampir dapat dipastikan bahwa semua orang akan menjadi ilmuwan.
Ada baiknya kalau kita mendidik anak-anak dengan sistem bertanya. Kalau ingin mengajarkan sesuatu, hendaknya dimulai dengan bertanya. Misalnya ingin menjelaskan mengenai pengertian hukum adat, maka dimulailah pembelajaran itu dengan melemparkan pertanyaan kepada Mahasiswa. Nanti mahasiswa akan menjawab sesuai dengan pengetahuan mereka.
“Jadi, sebetulnya cara mengajar yang paling baik ialah mengajar yang dimulai dengan pertanyaan. Sang guru membawa suatu benda, kemudian bertanya kepada anak -anaknya, “Tahukah kalian, benda apakah ini?” Kemudian anak-anak mendiskusikan benda itu, sampai mereka menemukan sendiri apa hakikat benda itu.” Kata Jalaluddin Rakhmat
Dahulu, para filosof sering mengajarkan filsafat dengan tanya-jawab. Sampai sekarangpun filosof sering mengambil metode filosof Socrates, untuk mengajarkan filsafat dengan metode tanya-jawab. Al-Quran pun seringkali memulai ayat-ayatnya dengan suatu pertanyaan. Misalnya, “Tahukan kamu orang-orang yang mendustakan agama?” (QS 107: 1) “Bertanya seorang penanya tentang azab yang akan tiba.” (QS 70:1) Dalam bahasa Arab, bertanya itu disebut dengan istifham, yang berarti mencari pemahaman. Dan memang itulah tujuan bertanya yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Sebetulnya Kurikulum Berbasis Kompetensi membawa sebuah semangat yang sangat bagus sekali. Tetapi saya melihat penerapan KBK yang dilakukan oleh FH UNS sungguh tanggung. Sesuatu yang dilakukan dengan setengah-setengah, maka hasilnya tidak akan maksimal. Begitu juga dengan penerapan KBK di FH UNS ini yang terkesan mekso.

Alih-alih ingin meningkatkan kualitas mahasiswanya, malah banyak dari mahasiswa FH UNS mendapatkan nilai jeblok.
Apa indikasinya penerapan KBK di FH UNS itu setengah-setengah? Bisa kita lihat dari fasilitas dan metode belajar di kelas. Fasilitas ruangan kuliah yang bisa memuat 100 mahasiswa. Apakah itu sudah cocok dengan sistem KBK sendiri? Sepengetahuan saya, dalam sistem KBK, satu ruang kelas/kuliah itu maksimal diisi oleh 30 siswa/mahasiswa dengan harapan agar pembelajaran dapat lebih kondusif dan efektif. Sehingga dosen mampu mengenal karakter, kebiasaan, kualitas mahasiswanya satu per satu.
Ngomong-ngomong masalah nilai, Apakah nilai dalam KBK itu hanya sebatas IP? Sepengetahuan saya, IP dalam KBK itu hasil dari perhitungan empat unsur penilaian, yaitu Tugas, Kuis, Mid Semester, dan Ujian Semester. Setelah keempat unsur itu dihitung dengan rumus tertentu, maka jadilah nilai bulat yaitu IP. Apakah hal itu sudah sesuai dengan prinsip KBK? Sepanjang yang saya ketahui prinsip penilaian KBK adalah dari segi Afektif, Kognitif, dan Psikomotorik. Lalu dimana semua nilai itu?
Yang terakhir yang ingin saya sampaikan di sini adalah terkait masalah pemilihan dosen. Menurut saya, hendaknya pemilihan dosen tidak hanya mengandalkan kriteria dia ahli di bidang hukum, dia sudah S 2, dia termasuk praktisi hukum, dll. Tidak hanya itu…!! Seorang dosen juga harus mengetahui dan memahami betul ilmu-ilmu pendidikan, bagaimana cara menyampaikan mata kuliah yang efektif, menyenangkan, menantang, dan kondusif. Saya melihat sebagian dosen FH UNS masih miskin informasi mengenai ilmu-ilmu pendidikan tersebut. Cara yang paling jitu untuk mengetahui apakah dosen itu minimal sudah memahami ilmu pendidikan atau belum adalah dengan di test oleh mahasiswa sendiri pada saat penjaringan dosen baru. Jadi bisa diukur berapa persen dari apa yang dosen itu sampaikan yang dapat dipahami oleh mahasiswa.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya lontarkan di sini. Tetapi karena keterbatasan ruang dan waktu, maka saya cukupkan sekian. []
*Mahasiswa Fak. Hukum UNS 2005 dan korban penerapan KBK yang setengah-setengah

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Januari 28, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: