Lest mont nes sont past innocences

 

Lest mont nes sont past innocences

 (tiada perkataan yang tidak berkepentingan)

 

oleh: Maspati Winarto*

 

sasatra.jpgDalam sebuah anekdot kuno pernah menceritakan. Tersebutlah seseorang pengembara bernama Germa. Suatu kebetulan dia singgah di sebuah perkampungan yang sedang terkena bencana kekurangan makanan. Germa lalu berujar bahwa di kampung seberang sedang ada pembagian makanan gratis kepada siapa saja yang datang kesana. Meskipun yang disampaikan oleh Germa itu suatu kebohongan tetapi dengan penuh keyakinan cerita tersebut mampu membuat penduduk berbondong-bondong untuk datang ke kampung seberang. Dalam hati Germa kaget dan jadi berpikir jangan-jangan yang dikatakannya sendiri itu ada kemungkinan akhirnya jadi kebenaran. Akhirnya iapun ikut berangkat ke kampung seberang tersebut.

Gambaran anekdot sederhana ini bisa jadi cocok untuk menggambarkan keadaan mahasiswa terlebih lagi gerakan mahasiswa saat ini. Kawan-kawan menyebarluaskan keyakinan dan wacana tentang perubahan kepada penduduk dengan kemampuan retorika dank laim independensinya. Sehingga setiap keyakinan yang disampaikan pada dasarnya seperti tidak ada kepentingan. Meskipun sebenarnya pada awalnya ini adalah bagian dari proses pencarian, kebingungan berpikir dan keharusan untuk meneguhkan eksistensinya atau sebagian kecil untuk belajar mencari sesuap penghidupan dan kepentingan politik. Namun sebagai obyek bergerak setelah masyarakat meyakininya bisa jadi kawan-kawanpun ikut pula meyakininya.

Di jaman yang serba sulit bagi bangsa kita ini persoalan-persoalan yang sifatnya adalah kebutuhan obyek (kemiskinan butuh kesejahteraan, kelaparan butuh makan, bencana butuh pelayanan dan kesehatan, miskin butuh sekolah dan segala macamnya yang gratis) bagi masyarakat akan selalu dirasakan sebagai sebuah harapan. Maka setiap perbincangan janji dan harapan yang sefatnya demikian menjadi menarik atau paling tidak berharap hal tersebut menjadi kenyataan. Dari sanalah sebenarnya kemudian masyarakt merasa bahwa impian yang disampaikan itu adalah sebuah kebenaran yang dapat diraih dan obyek yang dibicarakan benar-benar ada.

Di kalangan mahasiswa saat ini, termasuk kawan gerakan yang ala kadarnya, tradisi intelektual dan basis sudah mulai ditinggalkan. Sehingga setiap perbincangan tentang kesejahteraan, rakyat dan hal-hal sejenisnya seolah menjadi retorika teori yang diperdebatkan dengan retoris. Persoalan-persoalan realitas kemiskinan mau tidak mau sebenarnya adalah kondisi yang tidak dialami oleh mahasiswa namun mencoba diasumsikan oleh mereka. Mengapa demikian ?

Di Indonesia yang saat ini mengalami kemiskinan terstruktur luar biasa, salah satu imbasnya adalah mahalnya pendidikan terutama pendidikan tinggi. Biaya kuliah yang tinggi secara umum memaksa adanya kualifikasi tertentu untuk bia menjadi mahasiswa. Orang dari kelompok berpenghasilan menengah keataslah yang bisa menyenyam pendidikan tinggi. Dan dari rahim ini pula mahasiswa-mahasiswa saat ini dimunculkan. Kelompok yang secara alami tidak merasakan sulitnya mencari penghasilan, makan apalagi merasakan bahwa untuk bisa makan nasi susah sangat. Alih-alih sebenarnya kepentingan menjadi mahasiswa terbatas pada kepentingan untuk mempertahankan kelas sosialnya semata.

Warisan tradisi feudal kita tentang kelas strata social adalah nilai bahwa kita perlu untuk menaikkan standar kehidupan kelas kita. Minimal mempertahankannya. Kalau saat ini kehidupan kita sebagai bagian dari kelompok yang memperoleh hasil dari posisi ilmunya yang menghasilkan ijasah. Sehingga mampu duduk di jajaran birokrasi dan atau structural menengah elite maka minimal kita harus memperoleh hal tersebut untuk melangsungkan kedepan. Atau kalau kita lahir dari kelompok social structural politik maka kita perlu mematangkan diri supaya bisa meneruskan langkah dan jalan kita menuju dunia politik yang diinginkan. Kepentingan-kepentingan tersebut mendikotomi peran pada akhirnya antara kepentingan untuk menjadi seorang intelektual yang independent (organic) atau menjadi kelompok intelkektual teknokrat yang siap menjadi tukang untuk mempertahankan kelas ekonominya.

Dalam sejarah panjang perjalanan starata kelas social yang sinamakan hasil dunia pendidikan (baca: ijasah dan gelar) pendidikan dianggap sebagai saringan kelas untuk memperoleh sebuah kedudukan tertentu. Tentu saja dunia pendidikan formal dengan standardisasi ilmu tertentu menjadi jaminan penguasaan atas sebuah disiplin tertentu kerja dan karya. Orang yang tidak menyenyam pendidikan sarjana hokum mustahil atau minimal kecil kemungkinannya untuk paham seluk beluk formal ilmu hokum. Orang yang bukan lulusan fakultas pertanian tentu juga m,asihg dipertanyakan kaidah teoritik kepertaniannya. Begitu juga yang lainnya. Sementara untuk memperoleh itu semua perlu biaya pendidikan yang berjenjang juga. Misalnya SD 1 ribu, SMP 10 ribu, SMA 100 ribu, Perguruan tinggi strata satu satu juta, Perguruan tinggi S2 10 juta dan sebagainya. SD dapat menjadi seorang buruh kasar, SMP menjadi pegawai kantor Office Boy atau karyawan pabrik, SMA menjadi sales dan marketing rendahan, Perguruan Tinggi S1 menjadi supervisor, S2 menjadi pengajar atau manager. Kalaupun ada pengecualian misalnya SMA menjadi politisi maka bisa jadi karena dia punya kekuatan untuk menjadikan hal tersebut. Hal tersebut identik dengan jaman dahulu tatkala strata menjadi kekuatan kelas tertentu juga. Golongan kuli kenceng, golongan pemilik dan tuan tanah, golongan pedagang pemodal, golongan bangsawan dan penguasa.

*

Mantan ketua umum HMI Cabang Surakarta periode 2005-2006

Manager Pembinaan dan Pengembangan Aparat BPL HMI Cabang Solo

 

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Februari 23, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Bagaimana kawan-kawan HMI? Siapkah Anda untuk terjun ke masyarakat yang paling tertindas sekalipun? Siapkah Anda untuk berbagi dengan mereka? Siapkah Anda untuk berkhidmat kepada mereka dengan memasukkan kebahagiaan di hati mereka?

    Belum Siap? Mau sampai kapan Anda menunggu kesiapan Anda? Sampai seluruh alam semesta ini “digulung” oleh Sang ADA? Sampai ruh ini dicabut Sang Pemilik?

    TERLAMBAT KAWANKU…!!

    MULAI SAAT INI KITA BERGERAK…!!!!

  2. fotonya baguss. sangar bo, he-he-he.

  3. ehm…bentar2 direnungkan dl sebelum memberi tanggapan

  4. iya..fotonya lucu..hi hi..

  5. ye…kirain mau nanggepin tulisannya. ternyata fotonya doank. hihihi:D

  6. Semuanya dari pola pikir materialistik klo dikaji secara filosofis. Akarnya panjang mulai dari perjuangan kelas hingga semangat kapitalisme…Dunia kita sekarang hanya punya satu pemikiran “materi”. Mungkin benar seperti yang dikatakan Fukuyama di bukunya The End of History and The Last Men… Peradaban sudah berakhir dan pemenangnya adalah Kapitalis…Kwe ning ndi Mat???Dolano ning semarang…

  7. sidha kamu skarang dimana ? e mail ada gak. mumpung anak anak gak sering2 up date mending buat nge
    date

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: