BIARLAH ORANG MEMILIH IDEOLOGI

BIARLAH ORANG MEMILIH IDEOLOGI

Oleh: Yulianto*

Pada tanggal 29 Maret 2007, Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS) yang berencana mendeklarasikan dirinya diserang sekelompok massa beratribut Front Pembela Islam (FPI), Laskar Pembela Islam (LPI) dan Forum Betawi Rempuk (FBR). Latar belakang penyerangan karena Papernas dianggap sebagai wujud reinkarnasi partai komunis. Terlepas dari benar tidaknya dugaan tersebut, aksi penyerangan telah mengakibatkan 27 anggota dan simpatisan Papernas mengalami luka-luka dan 15 bus mengalami rusak parah.

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya 23 September 2006 dini hari, sekelompok mahasiswa Akademi Teknik Grafika Trisakti (ATGT) menyerang beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STMAT) Trisakti. Diduga insiden tersebut berlatar belakang perbedaan ideologi kedua kelompok. Mahasiswa ATGT yang berlatar belakang Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti (KAM-TRI) menganut faham ekstrim kiri sedangkan Mahasiswa STMAT yang berlatar belakang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dianggap kelompok kanan. Tindak kekerasan tersebut mengakibatkan lima kader HMI luka-luka.

Dua kejadian diatas menggambarkan betapa perbedaan ideologi masih menjadi pemantik terjadinya tindakan brutal di negeri ini. Seakan-akan perbedaan keyakinan/ideologi merupakan hal yang tabu sehingga dapat menjadi alasan untuk saling meniadakan. Padahal perbedaan merupakan hal alamiah dan dapat menjadi modal untuk saling berinteraksi sehingga memperkaya warna kehidupan. Sinergisitas antar keyakinan, organ masyarakat, maupun kepentingan mestinya dibiarkan berlangsung alami dan tidak perlu dipaksakan terlebih dengan cara-cara kekerasan. Peleburan yang berlangsung alami akan meminimalkan ketegangan dalam masyarakat. Untuk itu dibutuhkan peran negara untuk menjaga agar setiap orang dapat bebas memilih dan meyakini sesuatu bagi dirinya tanpa terganggu dan mengganggu. Termasuk kebebasan meyakini agama, kepercayaan dan ideologi politiknya.
Negara Anti Komunis, Pro Kapitalis?
Negara sampai saat ini masih memihak pada ideologi tertentu dan menganak haramkan ideologi lain. Keberpihakan negara terhadap ideologi kapitalis dapat ditelusuri pada beberapa kebijakan model pembangunan yang pro-modal seperti UU Sumberdaya Air, UU Tenaga Kerja, UU Penanaman Modal dan lain-lain. Sementara Penolakan atas ideologi komunis tersebar di beberapa undang-undang seperti Tap MPRS XXV/1966, Tap MPR I/2003, UU Parpol, UU Pemilu, UU Ormas, KUHP dan sebagainya.
RUU KUHP yang masih berada di tangan Menkum dan HAM kembali menegaskan penolakan tersebut. Pasal 212 ayat (1) mengatur : “Setiap orang yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, dan/atau melalui media apa pun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.” Menurut penjelasannya larangan ini ditujukan terhadap semua paham atau ajaran Karl Mark yang terkait pada dasar-dasar dan taktik perjuangan yang diajarkan oleh Lenin, Stalin, Mao Tse Tung, dan lain-lain.

Menurut Tim Perumus RUU KUHP, kriminalisasi terhadap penyebaran ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme untuk menjaga dan mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Tetapi karena dirumuskan dalam delik formil, maka sudah dapat diberlakukan tanpa harus ada akibat bergantinya Pancasila sebagai dasar negara. Untuk dapat dijerat dengan pasal ini hanya diperlukan bukti adanya maksud sebagai unsur kesengajaan dari terdakwa untuk mengganti atau mengubah Pancasila sebagai dasar negara.

Tidak cukup dengan melarang rencana mengganti ideologi Pancasila RUU KUHP juga memberikan ancaman bagi setiap orang yang; mendirikan organisasi yang menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme; berhubungan dengan organisasi yang berasaskan komunisme dengan maksud mengubah dasar negara ataupun menggulingkan pemerintahan yang sah.


Hapuskan Kriminalisasi Ideologi

Ideologi adalah keyakinan seseorang terhadap suatu nilai tertentu. Dengan demikian sangat tidak mungkin bagi orang seorang, termasuk juga negara, untuk memaksa atau membatasi ideologi yang diyakini orang lain. Negara harus melindungi pilihan ideologi warganya tanpa kecuali. Dalam perannya melindungi kebebasan warganya untuk menganut ideologi tersebut negara dapat mengkriminalisasi tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama ideologi. Larangan mesti diarahkan pada implementasi suatu ideologi yang mengganggu orang lain dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan demikian faham atau ideologi apapun layaknya mendapat tempat dan kesempatan yang sama untuk berkembang di Indonesia kecuali ideologi kekerasan. Ideologi kekerasan mewujud dalam tindakan anti pluralitas, anti dialog, cenderung menguasai dan memonopoli kebenaran. Tindak kekerasan inilah yang kemudian dibungkus dengan simbol ideologi maupun agama tertentu.

Mahkamah Konstitusi yang berperan sebagai penjaga dan penafsir Konstitusi melalui Putusan No. 011-017/PUU-I/2003 telah menilai bahwa pasal 60 huruf g UU No. 12/2003 tentang Pemilihan Umum bertentangan dengan UUD 1945. Salah satu pertimbangan Majelis Konstitusi dalam mengambil putusan karena larangan eks PKI menggunakan hak politiknya sudah tidak relevan lagi dengan upaya rekonsiliasi nasional menuju masa depan Indonesia yang lebih demokratis dan berkeadilan. Terlepas dari tetap berlakunya Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 j.o. Tap MPR No. I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR, orang-perorang bekas anggota PKI dan ormas di bawahnya harus diperlakukan sama dengan warga negara lainnya tanpa diskriminasi.

Mengacu pada pemahaman Konstitusi sebagaimana dirumuskan MK, bahwa tidak boleh ada diskriminasi terhadap warga negara, maka Rumusan Pasal 212-213 RUU KUHP tentang kriminalisasi terhadap ideologi negara harus dihapus.

Penulis: Alumni FH UNS dan Alumni HMI Komisariat FH UNS

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on April 10, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. sepakat
    kata itu cocok untuk tulisan ini…
    tetapi permasalahannya ideolodi negara kita bentuknya yang ideal itu seperti apa apakah pancasila??atau piagam jakarta??
    atau ideologi modal…

  2. sudah saatnya bangsa ini mulai mendidik diri untuk berpikir dan berperilaku seperti layaknya orang dewasa. Toleransi, itulah yang harus kita tanamkan. perkara tidak setuju dengan suatu pendapat, khan bisa kita sikap dengan berdialog dan saling menyanggah.

  3. dunia ini penuh dengan bursa ideologi yang bertebaran dan mendakwahkan ideologinya. ideologi yang baik dikerangka dengan pandangan dunia yang sehat, logis dan argumentatif.
    Dalam kamus ideologi, tidak ada blind follow. Anda bebas memilih ideologi apa saja dan sebebas mungkin mengajak orang untuk menjadi pengikut ideologi Anda jika Anda mampu menyuguhkan argumen rasional atas ideologi tersebut. Jika Anda mampu menjawab tantangan idiom samawi ini, qul haatu burhanakum in kuntum shadiqin..?
    Proses dialiktika menjadi niscaya untuk berkembangnya sebuah ideologi..Anda mampu menjawab tantangan ini?…..

  4. apakah pertanyaan ini berarti bahwa jika saya tidak mampu menjawab maka saya tidak boleh memilih secara bebas dan dengan demikian maka saya juga tidak boleh mengajak orang untuk mengikuti saya?
    saya jadi sangat takut
    karenanya saya berlindung kepada tuhan yang maha perkasa tuhan yang menguasai semua alam termasuk alam ide tentunya
    sedikit gambaran mengapa saya berpendapat seperti tersebut di atas (apakah pendapat saya menjadi ideologi, tentu di luar kehendak saya)
    – saat pertama kali dakwah, rasul menyampaikan secara damai dari orang perorang
    – dalam fase madinah, kaum muslim sempat hidup berdampingan dengan kelompok non muslim bahkan bahu membahu menjaga madinah dari ancaman asing
    – perintah perang ditujukan terhadap mereka yang memerangi kaum muslim
    – bahkan tuhan sendiri mempersilahkan manusia untuk memilih beriman atau kafir (dengan konsekuensinya masing-masing)
    kesimpulan saya, gerakan muhammad adalah gerakan damai tanpa kekerasan karenanya saya berpandangan bahwa setiap orang memiliki kebebasan yang sangat besar dalam memilih ideologi, keyakinan, ataupun agama tetapi dilarang dengan keras memaksakan pilihannya tersebut pada orang lain
    kalau tidak salah ada juga ayat yang berbunyi “la ikroha fi diin”
    demikian panadangan saya dan terima kasih atas tanggapannya

  5. apa yang saya tangkap dari pak eurekamal bahwa semua orang itu bebas memilih ideologinya, tetapi jangan sampai pilihan itu berdiri di atas pijakan taqlid buta. kita harus bisa mempertanggungjawabkannya tentunya dengan argumen-argumen rasional.

    ngomong-ngomong ideologi, bagus juga kalau baca buku FALSAFATUNA karya MUHAMMAD BAQIR SADR.

  6. persoalan ideologi adalah persoalan isi kepala kita. kepercayaan itu yasng tahu diri kita sendiri. nah persoalannya kita sering membohongi pikiran kita sendiri dengan meyakini bahwa kita telah yakin terhadap sesuatu. persoalannya lagi nanti kita juga harus mempertanggungjawabkan hal tersebut.
    di alam berikutnya manusia banyak yang akan kecele karena seolah telah yakin bahwa ia telah meyakini sesuatu yang bahkan tidak pernah diyakini dengan sebenarnya kalau dia telah yakin atau tidak. keyakinan bukan seperti ketika kita sadar dengan sendirinya bahwa kita itu memang telah ada dan benar eksistensinya bahwa kita ada. keyakinan itu aDALAH PERSOALAN KITA MEYAKINI SESUATU dengan sebenar-benarnya terhadap sesuatu itu. mau dibilang ideologi atau telo goreng sekalipun, ketika kita bilang telo ya harus seyakinnya bahwa yang kita sebut telo itu memang telo. bukan getuk, apalagi kayu yang mirip telo. tetapi kalau sejak kecil kita diajarkan bahwa setiap akar adalah telo yang bisa dimakan ya mungkin kita bisa jadi akan sangat meyakini bahwa setiap akar adalah telo yang bisa kita makan sesukaya. meskipun alot, pikiran isi kepala kita telah membentuk sugesti kalau akar itu enak. sukur ketemu akar umbi-umbian yang memang enak.
    ketaklidan kita diajarkan seolah seperti ketika kita sedang belajar bahasa ibu kita. mampu nggak membunuh sosok ibu yang membohongi itu ? hahaha

  7. membohongi pikiran sendiri. biarkan kalau itu sudah pilihan. yang penting jangan membohongi orang lain. membohongi diri sendiri tentu membawa kerugian terhadap diri sendiri. membohongi orang lain? ada dimensi horisontal di sana. kalau proses membohongi disertai dengan pemaksaan, kekerasan, tentu ada aspek kejahatan yang lebih nyata di sana
    memang benar, persoalannya adalah pertanggungjawaban. memilih keyakinan, memilih untuk tidak memilih keyakinan, maupun berpura-pura memilih keyakinan memiliki konsekuensi masing-masing. konsekuensi (akibat) bukan hanya di akhirat tapi di dunia sudah dapat dirasakan
    yakin ada tanggung jawab di alam neohayati ? jangan bohongi orang lain !
    terlebih lagi membunuh. ibu pula

  8. Ar razy (Tegal)

    Rosulullah sedikit membuka rahasia takdir dengan mengatakan bahwa nanti akan muncul orang-orang muda intelek yang berpaham jelek, ayat-ayat Al Qur’an hanya sampai pada kerongkongan mereka (ana pikir penulis termasuk salah satunya). Tasamuh (toleransi) jng diambil penalarannya begitu saja. Islam mengajarkan kita untuk bertasamuh tapi juga untuk tidak bertasamuh terhadap hal-hal yg bisa merusak aqidah umat. Ini bukan terletak pada “LAA IKROHA FII DIN” . Mohon dipahami. (Fajri : salsabila_ups@yahoo.com). Jazakallah bt ikhwah KAMMI dan HMI MPO. kapan ngadain aksi lagi neh?

  9. Ya Allah, jauhkan diriku dari sikap menghakimi seseorang dan merasa diri berada pada jalan petunjuk dan orang yang berbeda pandangan dengan saya sebagai seorang yang sesat.

  10. wah hakim akhirat sudah turun di dunia.
    kenapa kita mengajarkan kemayaan kepada manusia-manusia. merasa telah atau sedang melakukan pencarian kebenaran padahal sesungguhnya hanya mencari jalan kenyamanan. seolah kita sedang kehausan di tengah padang pasir kemudian kita menemukan fatamorgana kilauan air melimpah. lalu kita memutuskan untuk menghentikan pencarian kita atas air tersebut karena merasa fatamorgana sudah bisa menghilangkan dahaga kita. kita ketakutan seandainya meneruskan pencarian air yang sesungguhnya kita hanya kecapaian dan bahkan tidak menemukan apa-apa. bukankah itu lebih berbohong???
    subhanallah Kau ciptakan manusia yang menghempaskan hak-Mu, sementara dengan rahmatlah penciptaan itu terjadi.
    Ya Allah, jauhkan diriku dari sikap menghakimi seseorang dan merasa diri berada pada jalan petunjuk dan orang yang berbeda pandangan dengan saya sebagai seorang yang sesat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: