Terpidana Versus Tersangka Pemilik Senjata Nuklir

Terpidana Versus Tersangka Pemilik Senjata Nuklir

Oleh: Yasser Arafat*

cool_man.jpgSetelah lantang menyatakan dukungannya terhadap program nuklir damai Iran, tanpa diduga pemerintah RI, bersama 14 anggota DK lainnya, menyetujui Resolusi Dewan Keamanan PBB No.1747 (24 Maret 2007) tentang sangsi yang akan dijatuhkan kepada Republik Islam Iran. Arus protes terhadap sikap pemerintah ini pun mengalir deras dari berbagai kalangan, mulai dari lembaga negara, parpol, organisasi massa. Bahkan sebagian besar anggota DPR berniat menggunakan hak interpelasinya guna meminta keterangan dari pemerintah.

 

Lalu, apa yang menyebabkan pemerintah RI menyetujui Resolusi Dewan Kemanan PBB No. 1747 setelah sebelumnya Indonesia lantang menyerukan dukungannya terhadap program nuklir damai Iran?

 

Dino Patti Jalal, Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Intemasional yang juga Juru Bicara Presiden mencoba memberi argumen atas sikap Indonesia. Menurutnya, Indonesia dihadapkan kepada hanya dua pilihan yakni abstain dan mendukung resolusi. Indonesia memilih mendukung pilihan yang kedua dengan alasan bahwa utusan Timur Tengah sendiri (Qatar) memilih mendukung. Alasan lainnya karena IAEA sendiri belum bisa memberikan jaminan resmi bahwa program-program nuklir Iran adalah untuk tujuan damai. Alasan lainnya ialah karena apapun posisi Indonesia, resolusi akan tetap disetujui (Kompas, 27/3).

 

Sebagai negara hukum tentunya Indonesia mengenal betul apa itu asas praduga tak bersalah. Menurut asas ini, seseorang dianggap tidak bersalah sampai ada keputusan yang berkekuatan hukum mengikat menyatakan bahwa orang itu bersalah dengan bukti-bukti yang kuat. Seharusnya, pemerintah menerapkan asas ini kalau memang pemerintah RI masih ingin khalayak ramai menyebut Indonesia ini sebagai negara hukum.

 

Inti dari permasalahan tersebut atau yang menjadi tersangka adalah Iran. Jadi, kita harus menerapkan asas praduga tak bersalah itu kepada Iran. Kita anggap saja Iran mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai, sampai ada yang membuktikan bahwa Iran benar-benar memproduksi senjata nuklir.

 

El Baradaei sendiri masih belum bisa mengambil kesimpulan yang pasti apakah Iran benar-benar membuat senjata nuklir atau tidak. Hal ini terlihat dalam laporannya yang mencantumkan bahwa sepanjang lebih dari 2000 pemeriksaan dan pengawasan para inspektur IAEA selama empat tahun ini ke berbagai instalasi nuklir bahkan ke instansi di luar itu, tidak ditemukan upaya-upaya Iran ke arah pembuatan senjata dan kepentingan militer. Tetapi di sisi lain ia menyatakan bahwa masih belum bisa diambil kesimpulan yang pasti mengenai program nuklir Iran karena “kurangnya transparansi dan kerjasama” dari Iran. Dua pernyataan inilah yang membuat laporan-laporan El Baradei tampak abu-abu. Anehnya, Indonesia hanya mengambil satu dari kedua pernyataan El Baradeai tersebut untuk kemudian dijadikan landasan sikap Pemerintah Indonesia atas Resolusi No. 1747. Padahal belum dapat dipastikan apakah Iran memang memproduksi senjata nuklir atau tidak.

 

Dengan sikap seperti ini, sebenarnya Indonesia telah mengkhianati asas praduga tak bersalah. Ketika memang belum dapat dipastikan Iran memproduksi senjata nuklir, seharusnya Pemerintah Indonesia bisa bersikap abstain. Tetapi nampaknya pemerintah ini lebih cenderung pada argumen yang hanya berisi asumsi-asumsi dan memprioritaskan kepentingan-kepentingan politiknya dibandingkan dengan mempertahankan idealisme sebuah negara hokum

 

Iran sendiri telah berulang kali mengatakan bahwa pengembangan teknologi nuklir yang mereka lakukan semata-mata untuk tujuan damai, bahkan Iran telah menjanjikan alih teknologi nuklir secara gratis untuk Indonesia.

 

Situs ohmynews.com (29/3) melaporkan, menanggapi resolusi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki menuding Dewan Keamanan PBB melawan hukum. “Aktivitas nuklir Iran tidak bisa disebut ancaman, secara hukum, fakta, atau logika mana pun. Justru sejumlah anggota Dewan Keamanan mencoba membajak proses yang berlangsung di Lembaga Pengawasan Atom Internasional (IAEA) dan mempolitisasi hal itu.”katanya

 

Bahkan, dalam buku Target Iran, penulis Scott Ritter, yang pernah bekerja sebagai pengawas senjata IAEA, mengambarkan politisasi pengawasan senjata di IAEA bersumber dari intervensi intelijen Amerika, Israel, dan Jerman.

 

Mereka menyediakan berbagai informasi bagi IAEA yang sebagian besar palsu. Ritter juga mengakui pernah terjadi tiga kali kekeliruan atas informasi aktivitas nuklir Iran karena informasi palsu.

 

Coba kita membandingkan tuduhan yang dilemparkan kepada Iran yang masih sekedar asumsi-asumsi belaka dengan fakta-fakta yang terpampang jelas di berbagai media. Di Ensiklopedia Wikipedia–misalnya–disebutkan daftar negara-negara yang memiliki senjata nuklir. Salah satu di antaranya adalah Amerika Serikat yang begitu getol menekan dan menuduh Iran telah memproduksi senjata nuklir. Lalu mengapa Indonesia juga tidak mengambil sikap tegas atas kepemilikan senjata nuklir Amerika Serikat?

 

Bahkan–menurut Koran Washington Post edisi Sabtu 15 April 2006–AS berniat membuat hulu ledak nuklir generasi baru. Washington Post mengutip keterangan Kepala Lembaga Keamanan Nasional AS, Linton F. Brooks, yang menyatakan bahwa rencananya, generasi baru hulu ledak nuklir itu sudah bisa diproduksi akhir tahun. Senjata destruksi massal tersebut, menurut Brooks, akan memiliki spesifikasi bisa dibuat non aktif dalam kondisi-kondisi tertentu, misalnya ketika jatuh ke tangan para teroris.

 

Dikatakan juga oleh Brooks bahwa hulu ledak ledak nuklir generasi baru tersebut bisa diproduksi sampai sepuluh tahun ke depan hingga menggantikan generasi lama hulu ledak nuklir AS yang jumlahnya mencapai 6.000 unit. Pembaruan hulu ledak nuklir itu merupakan salah satu bagian dari program pengembangan senjata nuklir yang dimiliki oleh AS.

 

Sebagai penandatangan traktat non-proliferasi nuklir (NPT), AS sebenarnya dilarang untuk mengembangkan senjata nuklir. Akan tetapi, alih-alih mematuhi ketentuan internasional yang ditandatanganinya itu, AS malah sibuk menekan Iran yang memiliki proyek nuklir tujuan damai.

 

Jadi, jika ditanyakan apa keuntungan Pemerintah Indonesia mendukung resolusi tersebut, maka jawabannya adalah status Indonesia sebagai golden boy Amerika Serikat masih disandang. Dengan prioritas mengejar iming-iming yang diberikan AS yang berupa bantuan finansial yang tidak gratis, Pemerintah Indonesia telah mengkhianati prinsip yang paling mendasar dalam dunia hukum, yaitu Asas praduga tak bersalah dan prinsip keadilan. Indonesia lebih membela negara yang sudah “terpidana” memiliki senjata nuklir daripada membela negara yang baru menjadi “tersangka” dalam dugaan kepemilikan senjata nuklir.[]

 

*Kabid PPA HMI Cab. Surakarta Komisariat Fak. Hukum UNS dan Alumnus SMA Plus MUTHAHHARI Bandung

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on April 12, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Yeah Pertamax….

    Btw Koq ga ada yang komentar…sepi jali?

    pada kemana? komisariatnya masih di jalan surya tenggelam itukah?

    daku alumnus FH UNS juga…hehehe tapi bukan HMI….kami terlahir sebagai kaum apatis…

  2. kalau boleh tau alumnus angkatan brapa mas? sekarang kerja dimana? dulu ikutan UKM apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: