Penyakit Fallacy Mendera

Penyakit Fallacy Mendera
Oleh: Yasser Arafat * 

 

Suatu saat pernah ada seorang kawan saya datang sembari berkeluh kesah. Saya tanya mengapa dia terlihat begitu kesal. Dia bilang bahwa dirinya baru saja “diceramahi” oleh seorang mahasiswa beriman. Mahasiswa beriman itu menceramahi kawan saya seraya mendiskreditkan salah satu organisasi kemahasiswaan sebut saja organisasi itu bernama “H”. Dia bilang bahwa kamu jangan masuk H karena H itu organisasi sesat. Kamu jangan terlalu dekat dengan anak-anak H, mereka itu pemikirannya sesat. Kader-kadernya banyak yang nyeleneh. Kebetulan kawan saya ini merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang dekat dan sering bergaul dengan kader-kader H.

Setelah mendengar ceritanya, saya bilang saja sama dia bahwa mahasiswa beriman tadi sudah terjerumus pada kesalahan berpikir atau dalam bahasa Yunani biasa disebut fallacy. Fallacy dapat terjadi karena ketidakdisplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, baik secara sengaja (Sofisme) maupun tidak (paralogisme). Umumnya yang sengaja berfalasi adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Fallacy sangat efektif untuk melakukan sejumlah aksi amoral, seperti memutar balik fakta, pembodohan publik, dan pembunuhan karakter. Bentuk Fallacy yang mendera mahasiswa beriman itu adalah generalisasi.
Generalisasi adalah pemberlakuan secara umum suatu atau beberapa hal atas semua hal tanpa bukti yang cukup. Contohnya seperti pernyataan berikut: “Kamu (orang sunda) jangan kawin dengan orang jawa. Kalau kamu kawin dengan orang jawa, hidup kamu akan susah, karena menurut pengalaman kalau orang sunda kawin dengan orang jawa, hidupnya akan selalu diliputi kesusahan.” Inilah salah satu bentuk dari pola pikir generalisasi. Mungkin orang itu pernah mengetahui beberapa orang sunda yang menikah dengan orang jawa lalu hidup mereka serba kesusahan. Tetapi apakah semua orang sunda yang menikah dengan orang jawa hidupnya akan susah? Sepanjang yang saya ketahui, sampai sekarang belum ada satu pun penelitian ilmiah yang menyimpulkan bahwa setiap orang sunda yang menikah dengan orang jawa dapat dipastikan hidupnya akan susah. Mungkin saja orang itu sudah merasa melakukan penelitian sehingga mendapatkan kesimpulan itu, namun sayangnya penelitian yang dilakukannya adalah penelitian yang dibangun di atas pondasi imajinasi dan asumsi dia sendiri alias non-ilmiah.
Kita kembali kepada mahasiswa beriman tadi. Pola pikir generalisasi yang digunakan mahasiswa beriman tadi terlebih dahulu diawali dengan pola pikir yang terpatok pada fenomenologi atau dalam epistemologi dikenal dengan mazhab pengetahuan empirisme. Mazhab pengetahuan yang pertama kali diperkenalkan oleh filsuf dan negarawan Inggris bernama Francis Bacon pada awal abad ke-17 yang kemudian di desain oleh John Locke secara sistematis dalam bukunya “Essay Concerning Human Understanding (1960)”. Menurutnya bahwa akal manusia pada awal lahirnya adalah ibarat sebuah tabula rasa, sebuah batu tulis kosong tanpa isi, tanpa pengetahuan apapun. Lingkungan dan pengalamanlah yang menjadikannya berisi. Pengalaman inderawi menjadi sumber pengetahuan bagi manusia dan cara mendapatkannya lewat observasi dan pemanfaatan seluruh indera manusia.
Pengetahuan mengenai H yang didapatkan oleh mahasiswa beriman tadi berasal dari apa yang ia tangkap melalui pengalaman inderanya. Dia melihat kader H yang nyeleneh –menurut pandangannya– lalu membuat sebuah kesimpulan bahwa organisasi H itu nyeleneh sehingga kita harus berhati-hati terhadap H jangan sampai kita masuk menjadi kader organisasi H.
Sangat disayangkan mahasiswa yang seharusnya dapat menjadi agent of change dan kaum intelek tanpa disadari terjebak pada fallacy atau kesalahan berpikir. Ia merasa yakin bahwa pemikirannya benar dan kokoh, padahal kalau kita telaah lebih mendalam lagi, bangunan pemikiran yang dibangunnya –kalau boleh meminjam istilah Hasan Nashrullah– tidak lebih kokoh dari sarang laba-laba.
Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bisa mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Boleh jadi karena kemalasan untuk berpikir atau hatinya memang tidak tergerak untuk terus berupaya meraih berbagai argumen yang lebih valid telah mengakibatkan seseorang bisa terjebak pada aneka fallacy sehingga ia tidak mempunyai argumen yang kokoh. Andakah itu? []*Kabid PPA HMI Komisariat Fakultas Hukum UNS

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Agustus 14, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: