Telaah Universalisme Keadilan Islam

 Telaah Universalisme Keadilan Islam *

Oleh: Arif Giyanto ** 

MESKI W. Montgomery Watt—seorang orientalis Eropa terkemuka—pernah berkomentar tentang kelemahan agama yang hanya menjadikan Tuhan sebagai sumber nilai dan memberikan konsekuensi wajib patuh bagi manusia, tapi sepenuhnya ia juga meyakini bahwa hanya agamalah yang akan membawa manusia ke arah tata tertib dan kestabilan peradaban dunia. Watt menggarisbawahi agama secara fungsional, yakni sistem sosial yang memiliki nilai kegunaan tinggi. Konklusinya, agama tak akan dinilai lemah bila dapat berguna bagi keberlangsungan hidup manusia yang selalu mendamba kemakmuran, kesejahteraan, juga keadilan sosial.

Memang benar, sejak awal munculnya agama, pembentukan akhlak dan budi pekerti adalah tujuan utama manusia dalam beragama. Hal ini bisa dilihat dari pola ritual aliran-aliran agama dunia baik itu dinamisme, animisme, politeisme dan terakhir, monoteisme. Kalau paham dinamisme berupaya mendapatkan kekuatan yang ada di dalam benda-benda, paham animisme dan politeisme mengusahakan agar roh dan dewa-dewa tidak marah, maka aliran monoteisme tak lagi berkutat pada persoalan supranatural. Pada paham ini, agama difungsikan guna mengatur tata perilaku manusia di dunia.
Pada klasifikasi agama berdasarkan paham ketuhanan (teologi), Islam masuk dalam kategori monoteisme. Maksudnya, agama yang meyakini bahwa Tuhan itu Esa (kalimat syahadat). Dari perspektif historis, Islam lahir di tengah kondisi masyarakat—Makkah—yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Muhammad Saw. membawa misi perdamaian dan kesejahteraan umat dengan Al-Quran sebagai pedoman.
Sementara itu, metode memahami Islam adalah dengan mempelajari tahapan-tahapan tertentu, yakni akidah, syariat, ibadah, dan akhlak. Akidah adalah konsepsi awal untuk mencari keterangan tentang ketauhidan—Allah Swt. Syariat adalah silabus khusus bagaimana Muslim menjalankan keagamaan. Ibadah mengatur aktivitas keseharian Muslim, baik kepada Allah maupun sesama manusia. Sedangkan akhlak adalah perwujudan dari ketiga hal sebelumnya, dalam bentuk sikap dan perilaku. Keempat tahapan ini tidak boleh dipelajari parsial, dalam arti sepotong-potong. Semua itu harus dipahami dan dijalankan secara komprehensif serta melalui proses transformasi dialogis. Karena, keparsialan ini akan berpengaruh pada keyakinan Muslim dalam berislam.
Muslim diwajibkan untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt. Artinya, Muslim harus menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jadi, Muslim mesti meyakini aturan-aturan agama untuk keselamatan di dunia dan akhirat. Tampak jelas bahwa banyak sekali nilai-nilai Islam yang lantas wajib dimanifestasikan dalam kehidupan.
Keadilan dalam Islam

Dalam Al-Quran, Allah berfirman tentang, meminjam istilah Harun Nasution, ‘ajaran persaudaraan seluruh umat.’ Ada beberapa ayat yang menyerukan hal ini. Pertama, QS 18:29, Siapa yang mau percayalah ia, siapa yang tidak mau janganlah percaya ia. Dalam ayat ini, Islam menawarkan nilai yang sama sekali menjunjung tinggi preferensi (kelebihsukaan) masyarakat untuk beragama. Betapa memang Islam meyerahkan sepenuhnya kepada pilihan yang paling diyakini. Tentunya dengan standarisasi yang sangat memenuhi bagi sang pemilih—tidak dengan proses taken for granted (menerima apa adanya) semua nilai tanpa ada proses bertanya dan perenungan.
Kedua, pada QS 2:261, Allah berfirman, Tidak ada paksaan dalam agama. Pada ayat ini, Islam mendulang toleransi dalam beragama. Karena, ketika aktivitas beragama dijalankan dengan paksaan maka akan sangat berpengaruh pada jiwa seseorang, terutama dalam melakukan aktivitas ritual keagamaan ketika menghubungkan diri dengan Sang Pencipta. Dan tentunya pula ketika menerapkan ajaran agama pada aktivitas kesehariannya. Dalam hal ini, Islam menganggap bahwa agama termasuk hak asasi manusia yang wajib dihormati sebagai keputusan personal seseorang. Nilai ini diyakini Muslim, bahkan jauh sebelum isu HAM mendudukkan diri pada skala prioritas utama demokrasi bersama isu gender, lingkungan hidup, atau globalisasi.
Ketiga, QS 109:6. Allah sekali lagi berfirman tentang penghormatan terhadap pluralitas, Berpeganglah engkau pada agamamu, dan biarlah aku berpegang pada agamaku. Menyoal fitrah manusia sebagai makhluk zoon politicon maka adalah hal yang sangat wajar bila kemudian penghargaan terhadap kepluralan beragama adalah sebuah kewajiban, bahkan dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Islam tidak mengajarkan fanatisme yang chauvinistis dengan menganggap diri paling benar, tanpa mendialogkan pemahaman beragama dengan agama lain. Apalagi bila menghadapkan keimanan dengan dalih sekadar mengalahkan atau bahkan, sekadar merasa berbeda. Islam itu terbuka pada kedinamisan manusia maka kemudian, Kitab Suci Al-Quran diyakini sebagai kitab yang selalu relevan di sepanjang zaman.
Islam juga mengenal hablumminannas (berhubungan dengan sesama manusia) selain ajaran tauhid dalam Hablumminallah (berhubungan dengan Tuhan). Dalam Islam, semua manusia dianggap sama derajatnya di hadapan Tuhan, dan yang membedakan hanyalah pada tingkat ketakwaan seseorang. Artinya, Islam tidak membeda-bedakan manusia dalam bentuk ras, negara, darah, warna kulit bahkan pada tingkat kepercayaan beragama. Konsep ini lazim dikatakan sebagai nilai egalitarianisme Islam.
Terakhir, terbentuknya tingkah laku Muslim yang sangat luhur, yakni dengan sangat menghargai seluruh ciptaan Allah sebagai sesuatu yang harus dijaga. Islam mengajarkan revolusi pemikiran, pentingnya etos kerja, disiplin, kebersihan hingga tersenyum kepada orang lain. Misi pastinya adalah kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Minornya Isu Formalisasi Keadilan Islam

Sewaktu founding fathers negeri ini merumuskan fondasi kenegaraan, Ki Bagus Hadikusumo, salah satu tokoh penting Muhammadiyah yang sangat berpengaruh pada waktu itu, akhirnya menyetujui konsep Demokrasi Pancasila. Ketika itu, Ki Bagus hendak memasukkan pelaksanaan syariat Islam bagi pemeluknya pada konstitusi negara.

Menurutnya, bila Islam ditegakkan hingga ke dasar negara, semua persoalan, terutama akomodasi kepentingan minoritas, akan dapat teratasi dengan ideal. Namun, logika tentang kebhinnekaan dan spirit liberalisasi dalam demokrasi membuatnya harus menerima realitas objektif yang tengah menggejala kuat pada era Revolusi Kemerdekaan Indonesia itu.
Sementara itu, saat Natsir menjabat Perdana Menteri di masa demokrasi parlemen, ia tidak serta-merta menjadikan Indonesia sebagai negara Islam seperti Arab Saudi, Mesir, Pakistan, atau Iran. Ia lebih memilih untuk mengedepankan praktik nilai-nilai keislaman, daripada memformalkannya dalam konstitusi negara. Setelah citra Islam politik dihancurkan Orde Lama, Natsir akhirnya justru semakin kesulitan untuk bergerak, melanjutkan semua agenda penegakan syariat Islamnya melalui politik.
Di masa kini, Jaringan Islam Liberal (JIL) seperti rutin mendapat reaksi keras dari FPI, Hizbut Tahrir, atau elemen-elemen Muslim lainnya. Setiap kali JIL memberikan perspektif baru tentang apa pun, mereka senantiasa di-counter dengan argumen penunjang yang berseberangan dan juga ilmiah. Tentu saja, dialektika seputar formalisasi agama, juga tidak luput dari perbincangan mereka. Di satu sisi, ada yang beranggapan bahwa kedaulatan negara berada di tangan Tuhan (teokrasi), sementara itu di sudut lain, ada kalangan yang percaya bahwa pendapat tentang kedaulatan negara di tangan Tuhan akan mendistorsi ke-Mahasucian Tuhan sendiri. Sebab, penafsir berbagai pihak tentang nash Tuhan yang suci terkadang memiliki pendekatan berbeda. Hingga sudut tertentu, masing-masing kelompok bahkan saling memberikan label kepada cara pandang dan pola gerakan lawan mereka. Di situs-situs resminya, bertebaran polemik berkepanjangan tentang argumentasi pendukung mereka pada setiap langkah yang diambil.
Bagi negara-negara Barat, mullah-mullah Iran, sebagai wakil para intelektual dan negarawan agama, memang memiliki reputasi rasionalitas brilian. Mereka selalu belajar Islam dengan sungguh-sungguh, mendukung gerakan anti-Barat, dan sulit untuk menyepakati pemikiran para pendahulunya. Pemikir Islam Iran sering kali tidak mengemukakan satu ayat Al-Quran pun dalam berdialog dengan pemikir-pemikir Barat. Mereka cukup mendasari semua argumennya dengan epistemologi; sebagian kecil dasar ilmu dalam mempelajari Islam. Akan tetapi, bukti tentang keanti-patian negara-negara Islam lain yang didominasi kalangan Sunni, tentu sulit untuk mendukung keholistikan Revolusi Islam mereka. Mereka sanggup eksis sebagai sebagian kecil kelompok beridentitas, tapi tetap saja gurem di depan penduduk global, bahkan di mata sesama kaum Muslimin. Sulit diramalkan, bila kemudian Revolusi Islam mereka akan berubah menjadi Revolusi Dunia Islam, lantaran tidak didukung oleh semua kalangan Muslim.
Jamaluddin Al-Afghani, tokoh penting gerakan Pan Islamisme, bisa jadi tidak terlalu kesulitan untuk mendeskripsikan kelebihan dan kesempurnaan Islam sebagai agama yang benar. Di semua telaahnya, Islam tampak seperti garansi keabadian yang memang dapat dimengerti semua kalangan. Islam akan sangat berguna sampai kapan pun sebagai spirit, nilai, bahkan gaya hidup. Namun, ia hanya bisa kelu dan menangis, saat Eropa bertanya tentang negara-negara Islam yang masih dekil, miskin, dan tidak berperadaban.
Turki yang ditertawakan Eropa dengan masa lalu The Sick Man-nya, Lebanon yang hanya dipandang sebelah mata oleh Israel, Saudi Arabia yang takluk di depan dominasi AS, Mesir pemilik Al-Azhar yang selalu di bawah tekanan penguasa militer, Pakistan yang penuh konflik dalam negeri, dan Indonesia yang dicitrakan sebagai sarang teroris, tentu bukan hanya propaganda sederhana kalangan Islam fobia. Lebih dalam untuk bermawas diri, kini dunia tengah dihadapkan pada paradoksi sulit tentang nilai Islam yang holistik di satu sisi, tapi tidak tampak nyata pada bukti dan realitas yang kasat mata di sisi yang lain. Setelah diperparah dengan reaksi balik kaum Muslimin yang tanpa didukung konsolidasi memadai, memaksa citra Islam harus semakin ‘mengkhawatirkan’ di Barat.

Keadilan Universal Islam

Suatu ketika, Paus Yohanes Paulus II, pemimpin spiritual umat Katolik, pernah menyampaikan permintaan maaf kepada umat Islam atas semua kelakuan umat Kristiani di masa Perang Salib. Ia menyatakan bahwa Perang Salib bukanlah perang agama, melainkan perang ketidakadilan. Jadi, energi dan spirit yang mendasari kaum Nasrani untuk memerangi Islam pada waktu itu bukanlah ajaran agama, tetapi kepentingan politik semata. Paus ingin mengabarkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang baik dan patut dihormati kebenaran nilai-nilainya. Ia bahkan sangat getol untuk membuka ruang dialog antara tafsir nilai agamanya dengan produk-produk pemikiran intelektual Muslim seputar nilai-nilai Islam.
Belakangan, Paus Benedictus XII, penggantinya, menuai protes keras dari kaum Muslimin seputar kutipannya atas pernyataan tokoh Eropa di masa lalu yang menyatakan bahwa Islam adalah agama terror. Paus yang satu ini pun tidak segan untuk meminta maaf kepada umat Muslim di seluruh dunia. Gereja Vatikan kemudian juga mengagendakan lawatan berantai pada sejumlah negara berpenduduk Muslim untuk berbagi cara pandang keagamaan, mirip gerakan yang dilakukan Paus Yohanes Paulus II. Paus sadar bahwa Islam adalah kekuatan nilai yang sulit disangkal keholistikannya.
Artinya, dari sudut pandang nilai, seluruh stakeholder dunia telah mengakui kesempurnaan Islam. Ditunjang dengan sejarah kejayaan Islam di masa lalu, termasuk kebrilianan Rasulullah Saw. sebagai aktor paling penting dalam mentransformasikan nilai-nilai ilahiah ke semua spektrum kehidupan, hanya dalam hitungan dekade, dunia akan sulit menyangkal eksistensi Islam.
Bila orang-orang Barat meyakini Newton sebagai sosok ilmuwan paling berpengaruh di sana, dunia justru mencatat Ibnu Sina sebagai ilmuwan penting yang menginspirasi Eropa membangun peradabannya. Bila Barat sangat mengagumi Weber sebagai peletak dasar sosiologi modern, dunia tentu tidak sungkan memberi predikat filsuf kenamaan bagi Ibnu Rusyd. Tanpa Rusyd, kesadaran Barat terhadap pentingnya rasionalitas-positivisme akan sulit diperkirakan. Belum lagi seabrek temuan fantastis pemerintahan Abbasiyah di berbagai bidang, yang hingga sekarang masih terus dikembangkan oleh Barat.
Nah, bila agama telah menemukan kadar pembuktian yang cukup, setidaknya moralitas pemeluknya, formalisasi isu-isu agama, terutama keadilan, tentu bukan perkara sulit. Sebab, salah satu tugas penting Rasulullah Saw. dalam menegakkan Islam adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tuntutan publik tentang keadilan adalah hal nyata tentang ampuhnya nilai. Agama akan tampak monolog bagi orang-orang yang tidak memeluknya, lantaran hanya diperkenalkan dengan pola aksiomatis dan dogmatis.
Kesadaran untuk menerima perbedaan adalah persoalan selanjutnya, bila agama hanya menjadi konsumsi utopis dan elitis. Maksudnya, kesan bahwa agama seperti tidak memiliki hubungan dengan aktivitas duniawi harus segera diurai dengan pendekatan yang lebih material. Selain itu, agama juga bukan konsumsi orang-orang terbatas, dengan beranggapan bahwa pendidikan agama itu merupakan privasi.
Di tengah pragmatisme yang menggejala kuat, dengan mulai dilupakannya kesakralan nilai, pembuktian tentang kebenaran nilai tentu adalah hal penting. Pada tahap ini, pemeluk agama semestinya harus terus-menerus mengeksplorasi potensi internal mereka untuk memberikan yang terbaik pada dunia dengan membuktikan semua kebenaran nilainya dalam produk-produk peradaban yang dibutuhkan dunia… untuk keadilan dunia. Wallahu a’lam bi shawab.

Damai dan selamat bagimu
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
One justice…
One united world… under God.

* Disampaikan dalam LK II HMI Cabang Surakarta 06-15 Juli 2007

** Penulis adalah Presidium Korps Madani Solo, Mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Sukoharjo Periode 2003-2004, Penulis buku “Membedah Kritis Friksi Muhammadiyah-PKS terbitan Era Intermedia SOLO

Alamat Kantor:

Penerbit Islam Era Intermedia

Jl. Slamet Riyadi No. 485 H

Ngendroprasto Solo 57146

Telp. 0271 – 726283

Faks. 0271 – 731366


http://www.eraintermedia.com

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Agustus 17, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: