Pengantar Ideologi

Pengantar Ideologi

Oleh: Iqbal tp[1]

 

Pembukaan

Didalam diri manusia terdapat akal dan naluri. Kedua hal ini merupakan fitrah yang di bawa manusia sejak ia dilahirkan. Akal ini sangat sulit untuk di definisikan, namun saya percaya bahwa akal adalah sesuatu yang ada pada diri manusia yang digunakan untuk menyelidiki dan memahami suatu pengetahuan apapun baik yang ada di alam ini atau yang ada didalam dirinya sendiri, baik itu yang bersifat konkret atau abstrak, dimana penggunaanya digunakan secara sadar. Penggunaan akal manusia untuk berproses mencapai sesuatu yang sempurna (yang paling tinggi) merupakan wujud asli dari manusia yang sebenarnya.

Naluri adalah sesuatu yang ada pada diri manusia dan hewan yang mana penggunaannya di gunakan secara tidak sadar. Naluri ini bisa juga di katakan sebagai nafsu yang di bawa sejak lahir.[2]Naluri tidak dapat di pergunakan untuk memilah sesuatu yang benar dan salah, atau baik dan buruk. Naluri tidak bisa di pergunakan untuk menyelediki (mencari tahu), memahami, dan memberi penilaian pada sesuatu yang ada di alam semesta ini.

Aktivitas manusia terdapat 2 bentuk yakni yang berdasarkan naluri, biasanya bersifat menyenangkan, kemudian aktivitas manusia yang berdasarkan akal, biasanya bersifat politik atau kepentingan.[3] Perbuatan manusia yang bersifat menyenangkan ini biasanya membuat manusia merasa senang untuk melakukannya. Perbuatan tersebut misalkan makan, minum, bercanda, berkumpul ataupun melakukan hobi-hobi yang disukainya. Manusia secara naluri biasanya tidak begitu suka dengan perbuatan-perbuatan yang dapat membuatnya menderita, sedih, atau hal-hal yang dapat membuatnya rugi secara materi atau imateri. Hal ini sama seperti hewan, dimana biasanya hewan tidak akan mau mendekati sesuatu bila nalurinya tidak mengizinkan.

Sedangkan untuk aktivitas manusia yang bersifat kepentingan ini biasanya manusia menyusun suatu perencanaan yang matang, baik itu strategi ataupun taktiknya. Didalam menjalankan aktivitas ini manusia biasanya rela untuk mengorbankan sesuatu yang ada pada dirinya, baik itu materi ataupum imateri. Manusia memperhitungkan dengan benar aktivitas ini sesuai dengan akalnya, baik itu dari segi manfaat, kerugian, peluang, atau hal-hal apa yang dapat menghambat dalam mencapai kepentingannya tersebut.

Terkadang ada juga manusia yang didalam aktivitas kehidupannya bercampur baur antara yang bersifat kepentingan dan bersifat menyenangkan. Manusia pada saat menjalankan aktivitas kesenangannya terkadang ia menggunakan perhitungan akalnya, apakah perbuatan menyenangkan tersebut memiliki manfaat apa tidak bagi dirinya. Ketika manusia menggunakan akalnya didalam menjalankan aktivitas kesenangan tersebut, maka ada kesinergisan antara naluri dengan akalnya. Dengan disesuaikannya naluri terhadap akal maka aktivitas kesenangan manusia tersebut memiliki nilai guna atau manfaat bagi manusia tersebut.

Tapi ada juga manusia yang mempergunakan akalnya untuk memenuhi nafsu (naluri) hewaninya yang bersifat materi. Aktivitas seperti ini merupakan hal yag sangat berbahaya bagi keberlangsungan alam semesta ini, termasuk didalamnya kehidupan ummat manusia. Perbuatan seperti ini merupakan sesuatu yang paling rendah kedudukannya dari naluri. Ketika akal di pergunakan untuk memenuhi naluri hewani, maka ketidak benaran, penindasan, kezaliman, dan ketidakadilan menjadi sesuatu hal yang wajar. Karena dalam hal ini, yang ada hanya penilaian secara keuntungan atau kesenangan pribadinya saja. Akal harusnya di gunakan untuk berproses (bergerak) untuk mencapai sesuatu yang Maha sempurna. Ketika akal di pergunakan dengan benar, maka konsekuensinya kita harus menegakkan keadilan dan kebenaran di alam semesta ini.

Didalam melakukan aktivitas tersebut manusia pasti memiliki suatu keyakinan, mau itu secara naluri ataupun dengan akal. Keyakinan yang dimaksud dalam hal ini adalah keyakinan ada dalam pribadi manusia. Begitu juga didalam kehidupan masyarakat, dimana pasti juga ada keyakinan yang disepakati oleh masyarakat tersebut. Keyakinan inilah yang dituntut didalam ideology. Keyakinan didalam melakukan aktivitas bagi manusia dan masyarakat adalah sesuatu yang pasti, walaupun ketika manusia atau masyarakat bergerak atas nama ketidak yakinan, maka hal tersebut menjadi suatu keyakinan. Karena dalam hal ini ia telah bergerak melakukan sesuatu itu, baik itu secara naluri ataupun akal. Naluri saja ketika tidak yakin terhadap sesuatu maka ia akan menolaknya.

Sejarah Ideology

Istilah ideology ini diperkenalkan pertama kali oleh filsuf asal Prancis yaitu Antoine Destutt de Tracy (1754 – 1836) pada abad ke-18, ia menciptakan istilah ideologie pada tahun 1796, De Tracy memandang ideology sebagai ilmu tentang pikiran manusia yang mampu menunjukkan arah yang benar menuju masa depan.[4] Sebenarnya akar dari ideology ini dapat dilihat pada awal timbulnya pemikiran para filsuf yunani, yakni di zaman plato dan aristoteles. Mereka memperdebatkan permasalahan bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan. Namun pada saat itu belum ada dikenal istilah ideology, atau mungkin bisa jadi kalau kita melihat ideologi secara awal berpikirnya manusia, maka akar ideology ini ada sejak manusia itu di ciptakan oleh Allah swt. Tapi ini akan memakan waktu banyak untuk membahasnya.

Pada zaman Det Tracy ini telah ada istilah penggunaan ideology dalam arti positif dan negative. Tokoh yang menggunakan istilah positif dalam ideology adalah De Tracy sendiri, sedangkan tokoh yang memandang ideology secara negative adalah Napoleon Bonaparte (1769 – 1821).

Dalam hal positif menurut De Tracy, ideology dapat memberikan pencerahan dan dapat memperbaiki manusia untuk menunjukkan ide-ide mana yang salah, dan dapat mengembangkan system pendidikan sekuler yang bisa menghasilkan mnusia yang lebih baik.[5] Sedangkan dalam sudut pandang negative Napoleon menyatakan bahwa ideology ini di gunakan untuk mendukung kepercayaan yang cocok dengan kepentingan mereka yang memiliki keinginan itu.[6]

Memahami ideologi

Ideology ini terdiri dari dua suku kata yaitu, ideo dan logi, ideo artinya pemikiran, gagasan, atau konsep, sedangkan logi artinya logika, ilmu, atau pengetahuan., berdasarkan kedua hal ini dapat kita definisikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan atau cita-cita.[7] Sebenarnya pengertian dari ideology ini banyak macamnya, karena setiap orang terutama para filosof atau pun ideolog itu sendiri memiliki pemahaman yang berbeda-beda terhadap definisi ideology. Dalam memahami pengertian dari ideology ini kita dapat menggunakan 3 pendekatan, yaitu

Ø Pendekatan melalui aliran pemikiran manusia tentang bagaimana dan dari mana manusia mendapatkan pengetahuan.

Ø Pendekatan melalui apa yang menjadi ranah dari ideology.

Ø Pendekatan historis berdasarkan kronologi pencetusnya.[8]

Penjelasan

Untuk pendekatan yang pertama ini tentang bagaimana dan dari mana manusia mendapatkan pengetahuan, terbagi ke dalam tiga aliran, yaitu

a) Aliran rasionalis-idealis, dalam aliran ini di katakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini bersifat maya dan fana. Segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan cerminan dari dunia idea. Hal-hal yang sifatnya sempurna sebenarnya ada pada dunia idea. Manusia pada hakekatnya sudah mengetahui hal-hal yang ada pada dunia idea, karena ia memiliki jiwa. Akan tetapi jiwa ini terjebak ke dalam badan yang bersifat fisik. Untuk menemukan kebenaran manusia harus menggali pengetahuan yang ada dalam dirinya (jiwa) dengan. Karena sesuatu yang ada itu hanya dalam dunia ide saja. Tujuan dari konsep berpikir seperti ini adalah untuk mencari kebenaran sejati yang ada di dalam dunia idea. Kebenaran sejati itu merupakan pandangan subjektif dari sesorang berdasarkan keyakinannya. Dapat disimpulkan bahwa ideology menurut pandangan ini adalah cara berpikir manusia untuk mendapatkan dan menemukan nilai-nilai yang di percayai dapat membantu manusia dalam menjalani kehidupannya melalui proses penemuan jiwa. Tokoh awal yang mencanangkan pemikiran seperti ini adalah Plato, filosuf asal Yunani yang hidup pada abad ke 3 SM.

b) Aliran empiris-realis, menurut aliran ini jiwa dan badan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan. Manusia didalam mendapatkan pengetahuan berdasarkan hal-hal yang bersifat nyata (hal yang dapat di inderai). Sesuatu yang ada itu sebenarnya ada dalam dunia yang terinderai ini, bukan dalam dunia idea. Pengetahuan didapat dengan di awali dari indera kemudian di kirim kepada akal yang kemudian mengolahnya dengan logika, untuk menghukumi benar apa salahnya suatu pengetahuan. Artinya ide itu dibentuk oleh apa yang di dapat oleh indera kita baik itu penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap. Dengan melihat cara berpikir seperti ini dapat di katakan bahwa, ideology adalah cara berpikir manusia untuk mendapatkan pengetahuan dengan cara inderawi yang kemudian di proses melalui logika untuk menghukumi pengetahuan atau kebenaran tersebut, yang kemudian pengetahuan yang didapat tersebut di gunakan dalam menjalani kehidupan manusia. Tokoh utama dari aliran ini adalah murid dari Plato, yakni Aristoteles (384-322 SM).

c) Didalam islam yang bersumber pada al-qur’an di katakan bahwa manusia dapat menggunakan akalnya untuk memperoleh pengetahuan. Ada 3 hal yang dapat di pikirkan manusia bila ingin mendapatkan pengetahuan yaitu alam semesta, sejarah dan hati nurani.[9] Untuk alam semesta dapat di lihat pada Q.S.. Yunus :101 yaitu katakanlah:”perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi “. Ayat ini menunjukkkan pada kita agar selalu mencari ilmu pengetahuan yang ada di alam semesta ini, baik itu apa yang ada diatas langit maupun apa yang ada di bumi ini baik itu diatasnya ataupun yang ada didalamnya, lautan, tumbuh-tumbuhan, binatang dan segala yang ada disekitar manusia. Mengenai sejarah di dalam Q.S Ali ‘Imran :137 mengatakan “bahwa sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah Allah, karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan kebenaran wahyu.” Ayat ini memberikan makna pada kita agar selalu belajar dari masa lalu, baik itu kebenarannya, kesalahan, aib,kesuksesan, kegagalan, nasib baik dan nasib buruk. Dengan mengetahui aturan dan hukum sejarah ini, maka kita akan dapat mengendalikan sejarah kita menuju hal yang lebih baik. Sedangkan mengenai hati hal ini dapat dilihat pada Q.S Fushshilat : 53 mengatakan bahwa “ Kami akan memperlihatkan kepada mereka, tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-qur’an itu benar.” Ayat ni menunjukkan pada kita bahwa pengetahuan tentang kebenaran itu tidak hanya terdapat pada alam semesta ini tetapi juga terdapat dalam diri manusia (hati) juga memiliki kebenaran. Jadi islam lebih luas membahas bagaimana manusia dapat memperoleh pengetahuannya, tidak haya bersifat inderawi saja tetapi juga dapat mengguanakan hati dan akalnya.

Pendekatan apa yang menjadi ranah ideology ini, melihat ideology sebagai kajian dalam bentuk kekuasaan-posisi sosial, sadar-ketidak sadaran, bahasa dan komunikasi.[10] Didalam pembagian ranah ideology ini kita dapat mengambil beberapa pemikiran tokoh, diantaranya adalah :

a) Sigmund Freud (1856-1939), yang mana ia berpendapat bahwa ideology bersumber pada ketidak sadaran manusia. Freud berasumsi bahwa psikis manusia terbagi menjadi wilayah kesadaran dan ketidak sadaran, serta memandang bahwa wilayah ketidak sadaran manusia lebih banyak mempengaruhi tingkah laku dan kepribadian manusia, di bandingkan pengaruh dari kesadaran diri manusia. Pandangan ini berdasarkan adanya tingkah laku manusia yang tidak didasari motif, seringkali manusia bergerak berdasarkan atas naluri (instink) atau nafsu, tanpa di dasari oleh alasan yang rasional.

b) Louis Althuser (1918-1990). Ideology menurut tokoh ini sudah tertanam pada diri manusia secara tidak disadari. Ia memandang melalui aspek strukturalisme, dimana manusia dari sejak lahir sudah di pengaruhi oleh struktur yang ada di sekitarnya, mulai dari struktur keluarga sampai dengan struktur Negara, termasuk diantaranya pendidikan dari Negara. Manusia memandang realitas berdasarkan pemahaman struktur yang telah mempengaruhinya, bukan berdasarkan apa yang ada pada realitas tersebut. Inilah yang disebut sebagai kesadaran palsu.

c) Karl Marx (1818-1883),ideology menurutnya juga dalah kesadaran palsu. Hal ini terjadi di karenakan adanya kesalahan manusia dalam menerima pengetahuan dari lingkungannya. Kesalahan menerima pengetahuan ini dikarenakan tidak mengikuti hukum logika dalam menerima pengetahuan, yang kemudian mengakibatkan terbentuknya ide yang salah pula.

d) Georg Lukacs, ia merupakan tokoh aliran Marxis juga, ia memandang bahwa ideology sebagai kesadaran palsu itu tidak benar. Karena ideology dapat membebaskan manusia dari belenggu penindasan, misalkan adanya kesadaran kelas buruh. Ideology memiliki pengaruh positif ketika ideology tersebut dapat memberi pengaruh pada prilaku dan membantu mengembangkan hidupnya. Lukacs memandang ideology berisi sekumpulan pegetahuan yang di percaya oleh suatu kelas.

e) Pierre Bourdieu (1930- ), tokoh ini memandang bahwa ideology erat kaitannya dengan kekuasaan atau posisi sosial seseorang dalam masyarakat.. Dalam hal ini ia menggunakan istilah doxa, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang diterima begitu saja, sebagai ganti istilah ideology. Sesorang menyebarkan pengetahuan-pengetahuan yang seolah-olah universal dan alamiah yang mana nantinya dapat mempertahankan posisi sosialnya di dalam masyarakat.

f) V.N. Voloshinov, dianggap sebagai tokoh yang pertama kali mengkaji ideologi dari aspek linguistic. Bahasa-bahasa yang ada merupakan ranah dari ideology itu sendiri. Ia mendefinisikan ideology sebagai perjuangan dari kepentingan sosial yang bertentangan pada tingkatan tanda.

Pendekatan historis berdasarkan kronologis pencetusnya. Pendekatan ini lebih melihat pembagian kelompok pencetus ideology mulai dari dan sebelum marxis.[11] Marx di anggap memiliki peran penting didalam mengkaji ideology secara luas, sehingga ia dapat dijadikan patokan didalam mendekati ideology.

Didalam memahami ideology kita harus membedakannya dengan ilmu dan filsafat. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara ketiga hal ini. Perbedaannya dapat kita lihat, yaitu : Ilmu adalah hasil pemikiran manusia tentang alam yang bersifat fisik. Ilmu itu belum tentu dapat merubah pikiran dan sikap orang yang ahli dalam ilmu tersebut.

Filsafat dapat didefinisikan sebagai suatu usaha pencarian ke arah pemahaman terhadap sesuatu yang bersifat umum dan belum diketahui, dimana tidak terjangkau oleh ilmu, seperti mengenai nasib manusia, makna eksistensi, hakekat kehidupan manusia, tujuan penciptaan manusia dan alam semesta, baik itu posisi atau statusnya.[12]

Ideology dapat kita definisikan sebagai ilmu tentang ide yang kemudian menyakininya. Dalam hal ini ideology memiliki tiga tahap yaitu : tahap pertama cara kita melihat dan menangkap alam semesta, eksistensi, dan manusia. Tahap kedua terdiri dari cara khusus dalam kita memahami dan menilai semua benda dan gagsan atau ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kita. Tahap ketiga mencakup usulan-usulan, metode-metode berbagai pendekatan dan keinginan-keinginan yang kita manfaatkan untuk merubah status quo yang kita tidak puas. Ideology menuntut sesorang untuk memihak.[13]

Cara menilai suatu ideologi :

Ø Dapat di buktikan dan diungkapkan secara logis.

Ø Memberikan makna pada kehidupan dan menghapus gagasan yang tak ada artinya pada pikiran

Ø Membangkitkan semangat

Ø Mampu menyucikan tujuan manusia dan tujuan sosial

Ø Membuat manusia bertanggung jawab.[14]

Strategi penyebaran ideology

Menurut John B Thomson seperti apa yang dikutip oleh Bagus Takwin dalam bukunya akar-akar ideology, menyatakan bahwa ada 5 modus operandi dan strategi penyebaran ideology, yaitu :

1) Legitimasi, menurut Max Weber hubungan dominasi yang dibentuk dan dipertahankan harus memiliki legitimasi, dalam arti memiliki kesan bahwa hubungan dominasi secara sosial tersebut harus di pandang sebagai sesuatu yang baik dan layak di dukung. Penilaiannya bisa didasari oleh aspek hukum, politk, moral, religius, budaya atau keseluruhan aspek tersebut. Strategi-strateginya mencakup :

a) Rasionalisasi, yaitu strategi konstruksi simbolikyang membentuk serangkaian penalaran yang cenderung mempertahankan atau membenarkan sebuah hubungan sosial atau lembaga sehingga dapat mempengaruhi orang lain untuk mendukungnya.

b) Universalisasi, yaitu strategi konstruksi yang berusaha menjadikan susunan kelembagaan yang melayani interst sekelompok orang sebagi sesuatu yang seolah-olah melayani interest semua orang. Susunan kelembagaan ini ditampilkan terbuka bagi semua orang yang memiliki kemampuan dan keinginan berhasil didalamnya.

c) Narativisasi, strategi konstruksi untuk menghasilkan klaim-klaim akan legitimasi di dalam kerangka cerita/narasi yang didalamnya masa lalu dan masa kini di tampilkan seolah-olah bagian dari tradisi yang abadi dan agung. Tradisi-tradisi ini sering kali di ciptakan untuk membentuk sense of belonging dalam komunitas dan sejarah bersama sehingga mengatasi dan melampaui pengalaman konflik, perbedaan, dan perpecahan.

2). Disimulasi merupakan usaha untuk mendistorsi atau mengubah realitas dengan cara mengaburkan, menyembunyikan, menutup-nutupi realitas atau memberi pemaknaan lain bagi realitas. Perbuatan ini dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengalihkan perhatian dari kondisi yang sesungguhnya. Perbuatan inidapat di capai dengan strategi:

a) Pemindahan, strategi untuk mengalihkan perhatian dari satu objek ke objek lainnya, sehingga konotasi negative atau positifnya yang ada pada objek pertama beralih pada objek kedua. Objek merupakan segala sesuatu yang dapat dipersepsikan manusia dalam kenyataan.

b) Penghalusan, dengan strategi ini membuat sesuatu yang buruk di perhalus sedemikian rupa sehingga kesan negatifnya hilang berganti dengan kesan yang positif.

c) Trope, strategi dengan menggunakan bahasa figurative, seperti sinekdok (pergeseran semantic antara bagian dengan keseluruhan), metonimi (penggunaan bentuk simbolik yang mewakili karakteristik dari suatu hal untuk memaknai hal itu sendiri) dan metafora (penerapan suatu bentuk simbolik pada suatu obyek atau tindakan). Bentuk-bentuk ini di tampilakan sedemikian rupa sehingga menampilkan kesan positif yang baik, dan negatifnya menjadi tertutupi.

3) Unifikasi merupakan usaha untuk menyatukan proses dan hasil pemaknaan terhadap realitas. Hubungan dominasi dapat dibentuk dengan cara membentuk suatu kesatuan pada tingkat simbolik (kesatuan pemahaman makna) dalam identitas kolektif, tanpa menghiraukan perbedaan dan perpecahan yang ada. Strategi untuk menerapkan ini adalah

a) Standarisasi yaitu strategi yang kegiatannya terdiri dari usaha-usaha penyesuaian bentuk-bentuk simbolik pada kerangka standar / baku yang dianggap milik bersama dan di pandang sebagai dasr pertukaran simbolik.

b) Simbolisasi kesatuan, strategi yang berupa konstruksi simbol-simbol kesatuan, identitas kolektif, dan identifikasi kolektif yang mengatasi kelompok atau pluralitas kelompok-kelompok.

4) Fragmentasi merupakan aktivitas memecah-mecah suatu hal menjadi beberapa bagian. Dalam hal ini kelompok yang dominan dapat memecah individu-individu atau kelompok yang menentang sehingga hubungan dominasi dapat di bentuk. Bentuk lain dari fragmentasi adalah mengarahkan kekuatan dari kelompok oposisi ke sasaran yang di proyeksikan sebagai jahat, berbahaya, atau mengancam. Strategi yang dapat di gunakan adalah:

a) Diferensiasi, strategi ini menekankan perbedaan antar individu atau antar kelompok serta memusatkan pada karakteristik yang memecah belah mereka agar tidak menentang system sosial yang ada.

b) Penolakan terhadap yang lain, strategi ini menggambarkan sebuah kelompok sebagai kelompok yang jahat, mengancam, atau berbahaya sehingga individu-individu atau kelompok secara kolektif melawan atau menolaknya. Strategi ini merupakan cara untuk menciptakan musuh bersama.

5) Reifikasi merupakan kegiatan yang merepresentasikan (menggambarkan) suatu kondisi yang bersifat sementara sebagai kondisi yang bersifat permanent atau alamiah. Kegiatan ini dapat dicapai dengan :

a) Naturalisasi, strategi konstruksi simbolik yang menggambarkan suatu kondisi histories dan sosial sebagai kondisi alamiah atau hasil dari proses alamiah.

b) Eternalisasi, strategi konstruksi simbolik yang menghilangkan aspek histories dari suatu gejala sosio-historis sehingga gejala itu dapat di gambarkan sebagai sesuatu yang permanent, tidak dapat berubah dan selalu berulang.

c) Nominalisasi, strategi konstruksi simbolik dengan mengubah kalimat-kalimat atau bagian dari kalimat yang merujuk pada tindakan atau individu-individu yang terlibat dalam tindakan menjadi kata benda yang berkesan netral.

d) Pasifisasi, strategi konstruksi simbolik yang merubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Nominalisasi dan pasifisasi merupakan strategi konstruksi simbolik yang menghilangakan tanggung jawab sang pelaku tindakan dan merepresentasikan suatu proses dengan benda.

Modus dan strategi ini merupakan kegiatan yang saling mengisi antara yang satu dengan yang lainnya (saling melengkapi). Strategi dan modus ini tidak bersifat baku dan konstruksi simboliknya tidak bersifat permanent tergantung dari kondisi-kondisi yang di hadapi.
——————————————-
[1] Iqbal Tawakkal Pasaribu, Mahasiswa Fakultas Hukum UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG, tlpn-022-70357840/081322374156

[2] Kamus besar bahasa Indonesia , departemen pendidikan dan kebudayaan, balai pustaka, hlm 607

[3] Manusia dan Alam semesta, Murtadha Muthahhari, Lentera, hlm 30

[4] Ideology Politik Kontemporer, oleh Roger Eatwell dan Anthony Wright, hlm 5.

[5] Ibid

[6] Ibid, hlm 6

[7] Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syariati dengan alih bahasa Dr.M.Amien Rais, Shalahuddin Press,hlm 146.

[8] Akar-Akar Ideologi, Bagus Takwin, Jalasutra, hlm 8-9

[9] Manusia dan Alam semesta, Murtadha Muthahhari, Lentera, hlm 47

[10] Akar-akar Ideologi, Bagus Takwin, Jalasutra, hlm 16

[11] Akar-Akar Ideologi, Bagus Takwi, Jalasutra, hlm 23

[12] Tugas Cendikiawan Muslim, Dr Ali Syariati alih bahasa M.Amien Rais, Shalahuddin Press,hlm148

[13] ibid

[14] Manusia dan Alam semesta, Murtadha Muthahhari, Lentera, hlm 56

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Agustus 20, 2007, in Makalah. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. maju terus HMI. Terus berkarya untuk bangsa>>>>>>>>>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: