Budaya Sistem Kebut Semalam (SKS)

Budaya Sistem Kebut Semalam (SKS)
Oleh:
Yasser Arafat

Datangnya bulan suci Ramadhan biasanya disambut oleh seluruh umat muslim sedunia dengan suka cita. Segala sesuatu sengaja mereka persiapkan guna menyambut kedatangan tamu mulia, Bulan Ramadhan. Tetapi tidak bagi saudara-saudara kita di daerah Bengkulu dan sekitarnya. Penyambutan bulan suci Ramadhan mereka lakukan dalam keadaan duka cita. Gempa bumi telah membuat mereka meninggalkan semua persiapan penyambutan bulan ramadhan.

Seakan seperti sebuah rutinitas, bencana demi bencana silih berganti mendatangi negeri ini. Mulai dari banjir, gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, sampai luapan lumpur. Belum juga selesai permasalahan luapan lumpur lapindo, negeri ini telah dibuat kebingungan dengan adanya gempa bumi yang terjadi di bagian barat Pulau Sumatera.

Pendapat seputar gempa bumi itu pun mulai bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini adalah karena Tuhan sedang murka terhadap kita. Tuhan menganggap bahwa perilaku kita sudah kelewat batas sehingga Tuhan merasa perlu memperingatkan kita dengan perantara bencana tadi. Namun, ada juga sebagian kalangan yang menganggap bahwa pendapat seperti itu keliru. Menurut mereka, bencana alam yang terjadi lebih bersifat alamiah. “Peristiwa gempa –misalnya– lebih banyak disebabkan oleh pergerakan lempengan kulit bumi ketimbang karena perilaku manusia yang mengundang murka Tuhan. Daerah Indonesia sangat rawan gempa jadi wajar kalau gempa.” Tutur seorang cendekiawan muslim.

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, sebenarnya ada hal lain yang lebih penting untuk kita pikirkan bersama. Apa yang harus kita lakukan mengingat adanya bencana yang silih berganti menimpa bangsa ini? Inilah pertanyaan yang masing-masing dari kita harus mampu menjawabnya.

Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa seseorang akan berusaha sangat keras mengerjakan sesuatu jika dia dalam keadaan tertekan. Dalam istilah pelajar sekarang sering disebut Sistem Kebut Semalam (SKS). Sudah menjadi rahasia umum, banyak pelajar yang belajar sungguh-sungguh hanya ketika besoknya mereka akan menghadapi soal ujian. Semalam suntuk mereka habiskan untuk membaca buku pelajaran. Tidak jarang keesokan harinya banyak di antara mereka yang terkantuk-kantuk mengerjakan soal ujian karena semalaman tidak tidur. Kesadaran para pelajar untuk belajar muncul ketika mereka mendapatkan tekanan.

Tanpa disadari sikap seperti itu berulang kali kita lakukan. Seringkali kita kebingungan menghadapi masalah demi masalah karena kita memang sengaja tidak mempersiapkan diri. Persiapan yang baik adalah persiapan yang matang. Salah satu ciri persiapan matang adalah persiapan yang dilakukan jauh-jauh hari. Begitu juga dengan penyikapan kita atas bencana yang terjadi kapan saja dan dimana saja, di pesisir pantai, di lereng gunung, di puncak, tanpa kita ketahui secara pasti. Hal ini menuntut adanya kesadaran kita untuk melakukan persiapan dalam rangka pencegahan maupun penanggulangan bencana.

Salah satu contoh bentuk persiapan –misalnya– seperti di Arab Saudi. Di sana ada yang namanya Menteri Haji dan Wakaf. Mungkin bagi kita terdengar aneh karena memang di Indonesia tidak ada kementrian seperti itu, tetapi tidak bagi Arab Saudi. Bagi mereka hal ini wajar karena memang Arab Saudi tiap tahunnya kedatangan jutaan umat Islam dari seluruh dunia yang hendak melaksanakan ibadah haji. Jadi, karena kegiatan ini berjalan rutin tiap tahun, maka dirasa perlu adanya menteri yang khusus menangani segala macam permasalahan haji.. Negara kita yang nampaknya sering sekali mengalami bencana, apakah juga perlu diadakan kementrian bencana yang khusus menangani segala macam permasalahan bencana? Saya pikir tidak menutup kemungkinan Indonesia dapat segera merealisasikannya. Solusi seperti ini tidak salah mengingat seringnya aktivitas bencana di negeri ini.

Selain itu –menurut saya– menyikapi hidup di negeri yang penuh bencana ini tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan akal pikiran saja, karena sangat banyak hal yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu bencana apa yang akan menimpa kita hari ini atau esok. Kita ini adalah makhluk nisbi. Makhluk yang memiliki banyak sekali kekurangan dan kelemahan. Kekurangan dan kelemahan kita ini menunjukkan adanya sesuatu yang lebih berkecukupan dan lebih kuat dari kita. Dialah Tuhan pencipta alam semesta. Tuhanlah Yang Maha Mengetahui. Dialah Yang Maha Kuasa memberitahu atau mencegah perbuatan apapun sekehendak-Nya. Untuk itu, perbanyaklah berdoa kepada-Nya karena pada dasarnya doa yang kita panjatkan adalah perwujudan penyerahan diri kita kepada Tuhan atas semua masalah yang kita hadapi.[]

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on September 26, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: