DEMOKRASI ‘ISLAMI’ ALA PKS

DEMOKRASI ‘ISLAMI’ ALA PKS

Oleh: Arif Giyanto  (arifgiyanto_solo@yahoo.co.id)

Kebenaran tak akan bertentangan dengan sunatullah.
—Nurcholish Madjid–

PASCA Orde Baru runtuh, belantara perpolitikan Indonesia kedatangan parpol bendera Islam bernama Partai Keadilan (PK). Ketika suara PK tidak memenuhi electoral threshold dengan 1,2% dukungan dari total jumlah pemilih, dideklarasikanlah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai wadah baru PK untuk kembali berkompetisi dalam Pemilu 2004. Tanpa disangka, mereka berhasil menembus lima besar partai-partai pemenang Pemilu 2004. PKS memenangkan 7,34% dari jumlah total suara dan 45 kursi di DPR.

Terang saja ini fenomena perpolitikan yang layak dicermati, setelah sekian lama, Islam Politik tidak pernah benar-benar berhasil berkuasa di negeri ini. Tampaknya, tren islamisme beberapa tahun belakangan mampu berefek besar pada preferensi para pemilih Islam Politik dalam Pemilu. Seperti diketahui, jilbab, pengajian, sinetron religi, atau produk sejenis mulai mengisi setiap sendi kehidupan di Indonesia.

PKS memang berbeda. Pada konteks politik praktis, sebagaimana partai politik yang lain, ia masihlah sebuah entitas yang selalu mengupayakan berbagai cara dalam mendulang suara ketika pemilu digelar. Akan tetapi, di sisi yang lain, PKS tampak seperti komunitas tarbiyah yang sangat intens pada pembentukan cara pandang, perilaku, dan amal islami melalui gerakan dakwahnya.

Dua model gerakan yang dapat dikemas dalam positioning ‘partai dakwah’ tersebut menimbulkan banyak perhatian, lantaran ketidaklazimannya. Karena, selama ini, publik cenderung beranggapan bahwa politik tidak terkait dengan agama. Ditunjang dengan prestasi parpol-parpol Islam yang ternyata tidak jauh berbeda dengan parpol-parpol non-Islam, kaum Muslimin khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, semakin menanam keraguan yang sangat kepada Islam Politik.

Sebagai konstituen, masyarakat pun lantas menisbahkan beberapa stereotipe kepada PKS. Pertama, sebagian masyarakat tetap beranggapan bahwa PKS adalah partai politik an sich yang lekat dengan akselerasi penggalangan massa. Ia pun disejajarkan dengan semua parpol yang ada. Stigmasi tentang parpol yang sarat manuver dan intrik politik setiap kali menjelang pemilu adalah fakta yang sulit terbantahkan.

Kedua, PKS adalah gerakan dakwah. Konsekuensi label ini membawa PKS kepada struktur gerakan yang mensyaratkan bermacam pendekatan tarbiyah dalam mentransformasikan norma-norma Islam, minimal ke dalam basis komunitasnya. Artinya, PKS sangat intens dalam membangun identitasnya dengan sedikit ‘melupakan’ perannya sebagai parpol. Ia bergerak layaknya ormas-ormas yang telah ada, semisal Muhammadiyah atau NU. Dalam praktiknya, PKS memiliki struktur tarbiyah yang sistematis seperti liqa’, murabbi dan mutarabbi, serta halaqah-halaqah untuk menunjang gerakan dakwahnya.

Ketiga, PKS adalah partai dakwah. Maksudnya, dalam desain gerakannya, PKS memadukan upaya penggalangan massa yang berorientasi perolehan suara pada pemilu dengan praktik dakwah yang kontinu dan sistematis. Hybrid strategy ini sangat efektif untuk menyatukan fungsi dan peran parpol sebagai pengumpul suara di satu sisi, dengan brand dakwah yang bercitra religius di sisi yang lain. PKS seperti ingin membuktikan kalau parpol dapat menginisiasi proses kaderisasi umat dengan keuntungan ganda, yakni ukhuwah dan konstituen.

Pemantik Friksi
Pada kenyataannya, konsep gerakan berbendera partai dakwah menuai efek penting seputar citra aneh di masyarakat. Pertama, format kaderisasi partai yang berbasis dakwah terasa belum sempurna. Kesan bahwa PKS yang mencampuradukkan antara dakwah dan penggalangan massa adalah persoalan serius dalam konteks komunikasi politik. Pewacanaan sinergisitas dakwah dan politik dalam bingkai komunikasi massa yang memadai belum cukup operasional. Selain itu, citra elitis PKS yang intens menggunakan pendekatan syariat dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan belum tampak sesuai dengan preferensi (kelebihsukaan) publik. PKS seperti kesulitan memasyaratkan dakwah sebagai bagian dari perbaikan bangsa lantaran harus memprospek masyarakat untuk menjadi kader inti terlebih dahulu.

Kedua, sebagai realitas yang sangat sulit dibendung saat ini, globalisasi menyisakan persoalan pada minimnya agresivitas kader-kader PKS. Sebab, aktivitas kekinian yang sangat menuntut kecepatan dan keakuratan memaksa mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat luas. Karena beban syariat, kader-kader PKS pun terkesan lebih lambat daripada yang lain. Akhirnya, mereka tampak menggemari defend acceleration dalam berhadapan dengan globalisasi, sangat konfrontatif, dan tidak kooperatif. Mereka sangat berhati-hati dalam mendudukkan perkara sosial, hingga di batas tertentu justru melahirkan prasangka berlebihan seputar kepentingan internal partai.

Ketiga, gerakan dakwah PKS yang kebetulan memiliki lahan sama dengan ormas-ormas Islam melahirkan prasangka yang berlebihan, bahkan friksi. Faktanya, ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan yang lain telah mendahului PKS untuk melakukan aktivitas dakwah. Dengan masuknya PKS pada kegiatan dakwah, sementara platform mereka yang berbeda dengan ormas terang berbuntut pada keraguan massa banyak akan identitas dakwah PKS. Belum lagi seputar ketidakpuasan ormas-ormas tersebut ketika harus ‘bersaing’ dalam mendakwahi jamaah yang ternyata sama.

Keempat, PKS dirasa belum cukup memiliki komitmen demokrasi dan kebangsaan lantaran bernaung di bawah bendera Islam. Cita-cita publik Indonesia yang beraneka ragam agama, bahasa, dan budaya untuk tetap menjaga keutuhan bangsa membutuhkan pembuktian bertahap tentang partai Islam yang demokratis. PKS dianggap termasuk mewakili Islam Politik yang telah terkubur jauh dalam sejarah Indonesia yang dianggap sebagai kekuatan pendamba negara Islam. Kekhawatiran publik luas muncul ketika PKS sering mengedepankan pendekatan syariat Islam ketika menyelesaikan berbagai persoalan.

Muhammadiyah Berang, Lantas…
Ormas pertama yang menyatakan ketidaksukaannya pada PKS adalah Muhammadiyah. Keberatan paling penting di tataran persyarikatan adalah pengambilalihan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yang menurut mereka, dilakukan oleh kader PKS yang ada di struktur internal Muhammadiyah. Selain itu, Muhammadiyah juga menilai, upaya PKS untuk memobilisasi warga Muhammadiyah ke politik praktis sangatlah kentara.

Muhammadiyah tampak sangat bersemangat dalam melakukan penegakan independensinya, meski di beberapa hal, banyak kejanggalan terjadi. Seperti diketahuhi, banyak kader Muhammadiyah yang juga terlibat aktif di berbagai parpol. Semua itu bahkan di-SK-kan oleh PP Muhammadiyah dalam edaran No. 149/2007.

Lebih lanjut, efek buruk dari SK ini terang saja menjadi tampak vulgar di publik. Semula, tidak ada yang ribut mempersoalkan status penyelenggara pengajian atau latar belakang takmir masjid, tapi karena friksi ini, masyarakat lantas lebih selektif dalam menghadiri forum-forum pengajian.

Manajemen dakwah, TPA, atau pengajian pada sebuah desa atau jamaah tertentu tiba-tiba harus disentralkan pada kelompok tertentu. Ada pula kebijakan organisasional yang menggunakan kekuasaan untuk ‘membersihkan’ orang-orang yang dianggap tidak sepaham. Manuver politik Muhammadiyah mulai merasuk bebas ke praktik dakwah dan berorientasi pada penyingkiran atau penggembosan PKS.

PADAHAL, dari perspektif lain, karena Muhammadiyah bukan parpol, secara politik, ormas ini sebenarnya tidak akan bergesekan dengan PKS. Begitu pun sebaliknya, lantaran PKS memang parpol maka publik sah-sah saja menilainya sebagai mesin pendulang suara untuk kepentingan politiknya. Namun, bila Muhammadiyah bergerak layaknya parpol untuk berhadapan dengan PKS, tentu ini sikap yang perlu ditinjau ulang. Artinya, Muhammadiyah tampak memiliki interest politik. Walau dapat dibungkus dengan penegasan eksistensi Muhammadiyah sebagai ormas yang hanya bergerak di bidang dakwah dan amal usaha, publik akan menilai bahwa ia berkepentingan pada politik praktis.

Di sisi lain, jika PKS bergerak layaknya ormas, hingga tampak bersaing dengan Muhammadiyah, tentu ini pilihan yang belum cukup awalannya. PKS sah-sah saja dalam mengaktualisasikan platform-nya yang baru dan berbeda itu, tapi antisipasi akan risiko gesekan pada ormas akibat manuver tersebut juga mesti disusun perencanaannya, hingga akhirnya Muhammadiyah tidak merasa perlu untuk menyoroti partai para ustaz tersebut. Meski mereka berhasil melakukan gerakan tarbiyah yang seperti melupakan politik, orientasi parpol pada dukungan suara menuju kekuasaan akan melahirkan standar ganda PKS, yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Problem lainnya adalah ketika Muhammadiyah hanya berupaya memagari salah satu partai agar tidak memasuki wilayahnya, sementara di sisi lain, ia merestui aktivitas politik warganya, baik langsung maupun tidak, maka ormas besar ini akan tampak paradoks dan terkesan diplomatis. Edaran SK 149/2007 tentang penidakbolehan keterlibatan warga persyarikatan pada politik praktis, kenyataannya hanya mengarah secara tendensius ke PKS. Publik tahu bahwa kader Muhammadiyah juga aktif terlibat bersama parpol yang lain. Mengapa hanya PKS?

Demokrasi ‘Islami’ Ala Islam Politik
Buntut panjang dari friksi ini adalah semakin diragukannya masa depan Islam Politik, karena ‘seperti’ tidak dapat bersinergi dengan demokrasi. Seperti diketahui, persetujuan Islam Politik pada demokrasi menempatkan mereka pada posisi yang sulit. Sebab, Indonesia bukan negara Islam, sehingga basis asas Islam—sebagai pijakan paling penting mereka—justru membuka strategi penyesuaian yang bisa jadi malah diragukan banyak kalangan. Sementara itu, di sisi lain, bila tidak mendukung demokrasi, Islam Politik jelas akan kesulitan untuk berkembang. Pastinya, Islam Politik akhirnya merestui demokrasi sebagai jalan konstitusional menuju kekuasaan state.

Tak ada lagi perdebatan sengit tentang Islam yang berbeda secara diametral dengan demokrasi, lantaran demokrasi juga memberikan ruang akselerasi politik bagi kelompok Islam Politik. Tak ada lagi penilaian negatif terhadap demokrasi yang bukan produk Islam. Praktis, demokrasi akhirnya tampak ‘islami’ di depan kalangan Islam Politik.
Pada konteks friksi Muhammadiyah-PKS, sinyalemen tentang ketidaksinkronan interpretasi PKS dan Muhammadiyah terhadap demokrasi, terutama menuju pemenangan Pemilu 2009, sangatlah kentara. Keduanya belum mampu mengurai posisi masing-masing untuk turut berperan pada ranah demokrasi dengan semestinya.

Ternyata, untuk menyatakan bahwa demokrasi itu ‘islami’ bukanlah pekerjaan gampang. Buktinya, Muhammadiyah yang bukan parpol bisa bergerak mirip parpol, dan membutuhkan banyak konstituen. Sementara itu, PKS yang bukan ormas (baca: benar-benar parpol) masih kesulitan untuk menginstitusionalisasikan kerangka dakwah dalam konteks politik praktis. Tampak jelas bahwa Islam Politik belum mampu untuk mendudukkan demokrasi pada ranah yang benar, yakni menyatakan bahwa agama sebagai basis politik adalah hal yang sah-sah saja.

Bila persoalan ini tidak segera diselesaikan, masa depan Islam Politik tentu akan semakin remang-remang, lantaran resonansi mereka dengan demokrasi masih menyisakan ketidaksinkronan di mata kelompok lain. Dan yang pasti, ukhuwah islamiah juga tengah berada dalam persoalan besar. Islam vs Islam. Nah! Wallahu a’lam bi shawab.

Disampaikan dalam Bedah Buku
BERTARUH CITRA DAKWAH: Membedah Kritis Friksi Muhammadiyah-PKS  (Solo: Era Intermedia, 2007)

Di Wisma Becak, HMI Cabang Surakarta Komisariat Fakultas Hukum UNS

Ahad, 29 Juli 2007 

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on September 26, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. 23 Komentar.

  1. Tulisannya bagus, semoga menjadi pencerahan bagi yang membaca. terlebih budaya saling positip thingking yang dikedepankan. Khan bukan dengan PDS atau bahkan PKI tapi PKS. Mereka berjuang seperti halnya HMI telah berjuang. Semoga melahirkan banyak kader yang progres terhadap perubahan dan tidak stagnan dalam melakukan ijtihad serta memberikan kontribusi untuk kejayaan Islam. Tidak ada gading yang retak begitupula dengan ijtidahnya sebuah gerakan. Semoga ALLAH selalu membimbing kita.

  2. semoga saja PKS-nya bukan Partai Komunis Sejahtera.

  3. Na’am. Tapi PKS-nya adalah Partai Kreatif Sejahtera.

  4. yes. alhamdulillah bukan Partai Keranjang Sampah yach.

  5. ok…..met saum yaser.

  6. Salam kenal,
    Sepertinya ada indikasi kuat bahwa isu ini sengaja diangkat ke permukaan oleh sebuah parpol berlambang matahari yang kelahirannya dibidani oleh beberapa aktivis Muhammadiyah, yang kini makin panas lagi dengan dideklarasikannya sebuah parpol besutan kader-kader AMM. ingat 2009 sebentar lagi bukan? black campaign yang dibungkus bla bla bla. kasihan ya….but the show must go on !

    http://rolays.blogspot.com

  7. @KSATRYA
    bisa jadi asumsi Anda di atas benar. Namun, saya tidak sepakat dengan asumsi Anda.

  8. Pada awalnya saya senang membaca judul tulisan ini, tapi begitu melihat isinya terasa dangkal dan tidak argumentatif, lebih banyak sekedar dugaan. Saya sarankan kepada penulis untuk komparasi kepada “outgroup”-nya biar nggak kedodoran dalam menulis, sayangkhan klo dibaca orang sudah ketahuan “belang” dan arah kemana tujuan tulisan tersebut. Maaf jika menyinggung perasaan, tapi penulis harus belajar banyak membedah PKS secara obyektif dan langsung ke “sumber”nya, jangan hanya berdasar kepada jualan orang yang memang sengaja membuat wacana yang tidak sehat untuk PKS. Buat kader PKS saya diharapkan untuk lebih terbuka menerima kritik dan saran semacam ini, dan buat tulisan “pencerahan” .

  9. Salam kenal,
    Sepertinya ada indikasi kuat bahwa isu ini sengaja diangkat ke permukaan oleh sebuah parpol berlambang matahari yang kelahirannya dibidani oleh beberapa aktivis Muhammadiyah, yang kini makin panas lagi dengan dideklarasikannya sebuah parpol besutan kader-kader AMM. ingat 2009 sebentar lagi bukan? black campaign yang dibungkus bla bla bla. kasihan ya….but the show must go on !

    omongan tanpa dasar…PKS terlalu takabur..merasa besar… lihat aja kali PDi P golkar..akan segera melibas

  10. PKS PARTAI KAMPANYE SELALU>>>gak tau malu..

  11. Tulisannya bagus, terlihat bahwa penulisnya mempunyai pengetahuan luas pada pergerakan tarbiyah. Penyampaian masalah serta kritik terhadap gerakan tarbiyah sangat tepat dan jitu.
    Tetapi permasalahan yang kurang dirumuskan benar adalah tinjauan terhadap demokrasi itu sendiri dan islam di sisi yang lain. Demokrasi, sudah tentu mempunyai latar belakang sejarah pembentukan, definisi demokrasi yang berbeda antara satu dengan yang lain, trus hubungan wacana demokrasi yang dikembangkan dalam konteks sejarah global, dan bagaimana penerapannya dalam sebuah bangsa yang mempunyai kultur dan cara pandang yang berbeda dengan demokrasi itu snediri.
    demokrasi bukanlah suatu nilai universal. keberadaannya tidaklah diakui o;eh semua golongan manusia, termasuk sebagian ulama islam. upaya defensif terhadap suatu nilai yang bertentangan saya rasa itu sangat wajar dalam paham apapun.
    Ingat demokrasi tidak hanya merambah pada wilayah politik, melainkan pada ranah kehidupan sehari-hari. demokrasi terkait dengan isu liberalisme dan pluralisme. keduanya berintikan pada kebebasan berfikir dan bertindak, tanpa ada nilai yang mengikatnya. sudah tentu pandangan tersebut berbeda dengan islam yang lebih menekankan pada ketundukan terhadap nilai-nilai Robbani.
    SIstem negara kita adalah demokrasi. tetapi penerapannya banyak mengalami permasalahan. karena segala konsekwensi dari paham demokrasi itu sendiri tidak selamanya tidak bertentangan dengan kebudayaan di sini. ada budaya lokal yang telah lama eksis, begitu juga budaya yang dipengaruhi oleh agama yang dipeluk penduduk. sedangkan konsekwensi dari demokrasi lebih berwatak terbuka terhadap semua nilai/moral, dan melandaskan diri pada bentuk kebebasan. dan saya kira itu bukan suatu jenis paham yang bersifat universal, karena paham ini tidak sepenuihnya diamini.
    dalam masyarakat indonesia, walaupun mempunyai kemajemukan, keberadaan budaya maupun nilai yang ditawarkan dari luar, mesti terserap lebih dulu. begitu juga dalam islam, dalam kehidupan sehari-harinya segala sesuatu harus ditinjau berdasarkan pada nilai-nilai yang diajarkan kepada para pemeluknya. sehingga bersifat defensif. Defensifitas tersebut, bukanlah suatu hal yang negatif sebagaimana pandangan mas HMI, tetapi sebagai konsekwensi logis dari identitas keislamannya.
    Apabila ia seorang muslim, tetapi di sisi lain tidak menolak nilai-nilai yang bertentangan dengannya, maka identitasnya layak dipertanyakan. walau disisi yang lain kita tidak bisa menghindarkan diri konteks kekinian yang merupakan faktisitas dari keberadaan kita yang terus mengalami dinamika kehidupan. Oleh karena itu, fungsi ijtihad adalah upaya pencarian sintesa antara teks dan konteks kekinian, kita tidak meninggalkan teks sama sekali dan tetap berpegang teguh padanya, tetapi di sisi yang lain tidak melupakan kehidupan masa kini ( wa laa tansa inna nashiibaka minad dunya).
    saya rasa itulah yang ada pada diri PKS. ia merupakan gerakan keislaman dengan identitas keislamannya, tetapi di sisi yang lain ia harus bergumul dalam sistem demokrasi dan konteks masyrakat. saya kira, keberadaan PKS sebagai organisasi islam, merupakan organisasi terbaik diantara organisasi keislaman yang lain. tetapi watak ekslusifitas dari partai tersebut, menyebabkan pergesekannya dengan organisasi dakwah yang telah mapan. salah satunya adalah gesekan antara Muhammadiyah dan gerakan tarbiyah.
    Tetapi tanpa melihat kelemahan yang ada pada diri PKS, saya kira PKS adalah bentuk organisasi yang ideal yang perlu dikembangkan untuk memenuhi dakwah islamiyah pada konteks kekinian.

  12. Yang patut kita acungi jempol dari PKS adalah sistem perkaderan mereka yang sangat rapi, walaupun masih terdapat kekurangan dalam wilayah kultur perkaderannya.

  13. Saya rasa tulisan anda cukup idealis namun provokatif. Jika anda melihat realitas sesungguhnya PKS yang keberadaannya dilahirkan oleh golongan cendekia (kampus) yang notabenenya adalah kader Muhammadiyah seharusnya menyadarkan anda akan pentingnya sebuah kejujuran dan konsistensi dlm berpolitik. Muhammadiyah tdk pernah scr struktural membenarkan untuk berpolitik praktis. PKS yg anda maksud adl Partai yang lupa kacang akan kulitnya. sampai saat ini telah menggerogoti AUM. Ladang dakwah yg selama ini di jaga dan dipelihara hasilnya dituai oleh orang lain. Apakah itu pantas?

  14. Saya rasa tulisan anda cukup idealis namun provokatif. Jika anda melihat realitas sesungguhnya PKS yang keberadaannya dilahirkan oleh golongan cendekia (kampus) yang notabenenya adalah kader Muhammadiyah seharusnya menyadarkan anda akan pentingnya sebuah kejujuran dan konsistensi dlm berpolitik. Muhammadiyah tdk pernah scr struktural membenarkan untuk berpolitik praktis. PKS yg anda maksud adl Partai yang lupa kacang akan kulitnya. sampai saat ini telah menggerogoti AUM. Ladang dakwah yg selama ini di jaga dan dipelihara hasilnya dituai oleh orang lain. Apakah itu pantas?
    Dan juga menjadi catatan anda tidak pernah ada kontribusi yang riil dari PKS dalam hal membantu Muhammadiyah, mengakomodasi kader-kader terbaik Muhammadiyah. Dan yang paling penting pragmatisme PKS dlm berpolitik.

  15. Gitu aja kok repot, ya biarkan saja yang penting buktikan jangan ngomong aja…lihat nanti sejarah akan membktikan siapa yg benar…he..

  16. hampir kebanyakan kita menganut paham aku boleh kamu tidak boleh. sehingga sebaik apapun kerja orang selalu dipandang negatif. baiknya dicurigai apalagi kalau salah “tiada ampun bagimu”
    tetapi kebalikan dalam menilai kinerja sendiri. baiknya dipuji kalau salah minta dimaklumi.

  17. Saya tertarik dengan judulnya, tapi begitu melihat sebelum awal tulisannya mengutip Nurcholis Madjid, jadi terpikir bahwa penulis adalah orang yg mengagungkan Nurcholis majid

  18. mari kita fastabiqul khoirot berlomba-lomba dalam kebaikan tidak usah saling mencurigai saudara sendiri

  19. Memang dieksternal, teman2 muhammadiyah mengatakan muhammadiyah tidak berpolitik praktis namun kenyataannya secara internal mereka berpolitik praktis.Contohnya, menggunakan fasilitas Muhammadiyah dan strukturnya untuk mendukung partai tertentu. Yang katanya partai tersebut didirkan oleh tokoh Muhammadiyah. Hal ini saya sampaikan karena saya pernah terlibat didalamnya ketika awal2 akan didirikannya partai tersebut. Tidak tanggung2 bahkan ditingkat Pimpinan Daerah (PDM Sleman Yogyakarta). Semoga ini menjadi bahan renungan teman2 Muhammadiyah. Semoga apa yang diucapkan sama dengan apa yang dilakukan. Amin.

  20. kenapa banyak yang menhujat pks,padahal yang meghujat itu orang muslim,ketahuilah wahai saudaraku sesama muslim tidak boleh saling menghujat
    PKS pilihan Kami Siip

  21. Mochamad Amin bin Abdullah

    Ya, sebaiknya Muhammadiyah membikin saja suatu partai yang cocok dan sesuai aspirasi seluruh warganya, supaya terwadahi 1(satu) wadah saja, jika warganya bersatu kiranya akan menjadi pemenang pemilu. Sehingga tidak perlu takut/khawatir dengan PKS, …. dan lain-lain.

  22. akan lebih baik ketika seluruh umat Islam dapat bersatu..

  23. kembalilah pada manhaj hidup yang benar, manhaj sAlaful ummah. IKATAN MAHASISWA MINHAJUS SALAF UNS KOMISARIAT FKIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: