Prospek Kepemimpinan Kaum Muda

 

Prospek Kepemimpinan Kaum Muda
Oleh: Abdul Gafur Sangadji

 

Ikrar kaum muda pada 2007 adalah “saatnya kaum muda memimpin”. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah tonggak sejarah kebangkitan kaum muda untuk berikrar tentang satu Indonesia. Kini makna tersebut makin kabur. Seolah-olah proyek keindonesiaan hari ini sudah selesai. Cita-cita keindonesiaan antara masa lalu, kini, dan masa depan hendak ditakar dalam kadar yang sama, bahwa sepertinya keindonesiaan tuntas ketika lepas dari belenggu penjajahan (merdeka) dan berdaulat secara politik. Salah besar jika ingatan kolektif seperti ini terus dipelihara. Keindonesiaan adalah proyek yang terus bergerak, selalu punya logika kepentingan zaman yang berbeda. Musuh yang amat nyata hari ini bukan Belanda, Jepang, Inggris, dan Portugis yang dulu menjajah kita, melainkan kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, pengangguran, dan korupsi. “Keindonesiaan belum selesai, Bung,” begitulah kata seorang pengamat politik dalam pesan singkatnya kepada saya.

“Saatnya kaum muda memimpin” kemudian menjadi narasi besar pada tahun ini. Gaungnya makin membumi tatkala Pemilu 2009 makin di depan mata. Semua orang, tidak hanya para pengamat yang tiap hari bernyanyi kritis dengan tinta di media massa, tapi juga masyarakat luas, merindukan hadirnya pemimpin muda. Keresahan tentang hegemoni kaum tua dalam lingkaran kepemimpinan nasional, pada perayaan Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu, melahirkan ikrar bersama: saatnya kaum muda memimpin. Tokoh-tokoh muda seperti Sukardi Rinakit, Faisal Basri, Yudi Latief, Ray Rangkuti, Effendi Ghazali, Anies Baswedan, Indra J. Piliang, dan Fajroel Rahman dengan lantang meneriakkan kebangkitan kaum muda. Jaringan aktivis prodemokrasi tak kalah kerasnya mengkampanyekan pentingnya pemimpin alternatif dari kalangan muda. Semua gerah dengan kepemimpinan kaum tua. Kaum tua bukan obat yang mujarab lagi untuk Indonesia hari ini.

Kaum tua gagal meneguhkan cita-cita keindonesiaan yang modern. Kaum tua berdendang dengan lagu lama yang sudah usang. Warisan kultur masa lalu (Orde Baru) masih sangat kuat mempengaruhi cara kepemimpinan politik kaum tua. Bahkan ide reformasi dan demokratisasi pun gagal diterjemahkan dalam formula kebijakan untuk membela kaum kecil. Pemilu gagal melahirkan pemimpin yang revolusioner seperti Soekarno dan Hatta, berjiwa pemberani seperti Hugo Chavez di Venezuela, Evo Morales di Bolivia, dan Ahmadinejad di Iran. Kepercayaan yang diberikan kepada kaum tua untuk memimpin tidak sepadan dengan prestasi yang dihadirkan. Kebijakan ekonomi yang cenderung neoliberal gagal membangun “negara kesejahteraan”. Semangat pemberantasan korupsi tidak sepadan dengan langkah-langkah konkret yang dibuat. Artinya, kekuasaan kaum tua memproduksi kegagalan dan kebangkrutan.

Maka, wacana kepemimpinan kaum muda pada 2009 kemudian dihadirkan sebagai upaya mengembalikan keindonesiaan ke rel sesungguhnya. Cita-cita kita berbangsa dan bernegara hendak dihela kembali pada jalur mulianya seperti tertegaskan dalam Pembukaan UUD 1945: menciptakan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia, melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Sudah tidak bisa lagi berharap kepada “mobil bekas” untuk menaiki tanjakan yang terjal. Kalaupun “mobil bekas” diperbaiki, itu bukan solusi. Lebih baik membeli “mobil baru”. Kepemimpinan nasional saatnya diserahkan kepada kaum muda.

Mungkinkah

Di tengah menguatnya wacana kepemimpinan kaum muda dalam Pemilu 2009, hadir pesimisme: mungkinkah Pemilu 2009 melahirkan seorang anak muda untuk menjadi presiden? Dalam sebuah kesempatan bincang-bincang dengan seorang teman aktivis prodemokrasi di sela-sela perayaan Sumpah Pemuda, saya membuat daftar tantangan-tantangan yang menghalangi tampilnya tokoh-tokoh muda alternatif di Pemilu 2009. Kurang tersedianya partai-partai yang mendukung ide kepemimpinan kaum muda adalah persoalan pokok yang paling krusial.

Saat ini, jaringan pro terhadap kepemimpinan kaum muda lebih didominasi oleh aktivis-aktivis independen yang tidak berafiliasi dengan partai politik. Permasalahan muncul tatkala ide ini kurang direspons oleh tokoh-tokoh partai, tidak mendapat dukungan yang memadai. Sehingga agak sulit memperjuangkannya.

Dalam sistem politik yang dihegemonikan partai, memang terasa sulit bagi jaringan prodemokrasi untuk melakukan gebrakan kalau tidak ada dukungan dari partai. Sebab, pergantian rezim secara berkala dalam demokrasi prosedural yang telah disepakati sebagai sebuah konsensus nasional hanya dimungkinkan dilakukan partai politik. Partai politik berhak mengajukan calon-calon pemimpin untuk dipilih di pemilu.

Karena kebanyakan partai politik, seperti Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Demokrat, dipimpin oleh kaum tua, agak sulit mendorong tokoh-tokoh muda alternatif, baik dari dalam partai maupun di luar partai, untuk dimajukan sebagai calon presiden. Minimnya ketersediaan partai-partai yang pro terhadap kepemimpinan kaum muda akan menyulitkan kekuatan civil society melakukan perubahan. Sebab, bagaimanapun presiden dicalonkan partai politik. Dan seperti yang sudah diramalkan jauh hari, partai-partai hanya akan melakukan daur ulang terhadap tokoh-tokoh tua yang ada.

Kecenderungan antipartai di kalangan aktivis prodemokrasi adalah tantangan yang tak kalah rumitnya. Effendi Ghazali, Fajroel Rahman, dan Indra J. Piliang termasuk aktivis prodemokrasi yang cenderung antipartai. Setiap hari partai politik dicaci-maki lewat berbagai tulisan mereka di media massa. Kritik yang mereka lontarkan tentu sangat berarti bagi proses pematangan demokrasi. Tapi keresahan terhadap partai politik tidak boleh melahirkan kebencian yang mengarah pada sikap antipartai.

Bagi saya, kecenderungan antipartai bukanlah cara terbaik untuk menambal kelemahan demokrasi politik kita. Mestinya partai politik dilirik. Karena partai politik adalah satu-satunya instrumen demokrasi untuk mencapai kekuasaan. Semakin banyak aktivis prodemokrasi tersebar di berbagai partai, akan semakin tersedia ruang melakukan perubahan. Di saat itulah kaum muda bisa didorong untuk menjadi calon pemimpin alternatif.

Harus diakui bahwa menguatnya wacana kepemimpinan kaum muda adalah tamparan yang amat telanjang bagi partai politik. Partai politik gagal merotasi kepemimpinan nasional pada tokoh-tokoh muda yang masih segar. Karena itu, wacana kepemimpinan kaum muda yang tidak didukung partai politik akan membuat partai makin tidak populer di mata publik. Partai akan dinilai sekadar alat akumulasi kekuasaan karena tidak properubahan. Partai yang terlalu bersandar pada orang-orang tua perlahan-lahan akan membajak demokrasi, bukan memberi titik terang bagi jalan demokratisasi. Wacana kepemimpinan kaum muda adalah sebuah isyarat perubahan. Jadi tunggu apalagi.

Abdul Gafur Sangadji
pemerhati politik di Universitas Indonesia, Jakarta

Koran Tempo

sumber: KRHN

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on November 4, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Luar Biasa, tulisan ini menggambarkan semangat penulis untuk mengajak semua aktivis muda ikut berperan dalam kepemimpinan Nasional Tahun 2009.
    sangat mendukung pemikiran Penulis

  2. Mantap….Mari bersama usung kaum muda menuju tahta…..
    Semangat seperti ini lah yang membangkitkan giroh untuk tetap berjuang…..
    GO A HEAD kaum muda…..
    Jangan kembali puang sebelum tiada kita menang
    Meski Mayat Terkapar Di Medan Juang
    Untuk Kebenaran Kaum Muda Berjuang…
    Salam perjuangan……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: