Ekstasi dan Aliran Sesat

 

Ekstasi dan Aliran Sesat
Oleh: Bustanuddin Agus

 

MUI disibukkan lagi dengan munculnya aliran Al Qiyadah Al Islamiyah. Keluarlah fatwa bahwa aliran tersebut sesat dan menyesatkan. Pasalnya Ahmad Mushaddeq alias Abu Salam mengaku diri sebagai nabi baru dan harus dinyatakan dalam syahadat. Hukum siapa yang mengikuti ajaran begini bukan sekedar haram, tapi murtad. Yang dilanggar bukan lagi masalah-masalah penting dalam agama, tapi sudah merambah pada prinsip ajaran. Dua tahun yang lalu MUI juga direpotkan oleh aliran Lia Aminudin alias Lia Eden yang mendakwakan diri mendapat wahyu dari malaikat Jibril. Karena didakwa melakukan penistaan agama, ia dihukum dua tahun penjara, dan baru bebas awal minggu ini. Tapi toh katanya akan menyiarkan lagi ajaran ini. Oktober 2005, umat Islam juga dihebohkan oleh kelompok Madi di Palu. Korban dalam bentrokan antara aparat dan pengikut aliran tersebut pun tak dapat dihindari.

Domain privat?

Bagi yang berpandangan bahwa agama adalah urusan pribadi, fatwa tersebut tentu dinilai sebagai sesuatu yang konyol dan keterlaluan. Menurut mereka, bukankah masalah bagaimana Tuhan yang dipercayai dan bagaimana ajarannya adalah urusan pribadi atau kelompok yang bersangkutan. Bukankah Tuhan itu gaib dan pewahyuan juga gaib. Karena gaib, ia tidak dapat diamati dan diukur dengan pancaindera dan akal manusia, apalagi oleh keputusan lembaga tertentu. Maka apapun pemahaman seseorang atau kelompok tentang Tuhan dan ajaran agama dianggap urusan pribadi.

Karen Armstrong dan Diana Eck, mengungkap pendapat ini dalam berbagai tulisannya. Armstrong misalnya menulis A History of God (1993) dan Eck menulis A New Religious America (2002). Buku ini termasuk best seller di Amerika dan Eropa serta digandrungi oleh kalangan intelektual Muslim di Indonesia. Secara rasional, paham yang diusung oleh negara dan intelektual sekuler, penganut pluralisme, dan perenialisme tersebut, sulit dibantah sehingga pejuang ideologi-ideologi tersebut cukup vokal di negeri yang umat Islamnya mencapai 85 persen.

Tidak heran, yang jadi mainstream di kalangan ilmuwan adalah persoalan spiritual dan ritual. Sasarannya adalah perasaan, tidak rasio dan fisik, serta harus dilakukan demikian saja. Agama, seperti didefinisikan oleh Edward B. Tylor (1832-1917), adalah a belief in spiritual being. Dengan pandangan begini, Eck menilai Amerika yang sekuler itu telah menjadi lebih religius. Berbagai paham tentang Tuhan dan agama tumbuh di Amerika dan berbagai tempat peribadatan dibangun, tanpa mencampuri paham ketuhanan dan cara beribadat satu sama lain. Jadi agama adalah kepercayaan dan ritual.

Amstrong dalam bukunya itu juga sangat memuji Tuhan para mistikus atau sufi dan sangat tidak setuju dengan Tuhan orang syariah dan teolog. Kelebihan para sufi atau mistikus, menurut dia, adalah memahami teks-teks kitab suci secara simbolik dan pemahaman esoterik. Pasalnya, pemahaman agama yang begini bernuansa pluralisme, inklusif, dan wajar diekspresikan dalam berbagai cara. Tidak ada lagi istilah syirik, mutad, dan kafir, tidak seperti pemahaman teolog dan ahli syariah yang cenderung eksklusif dan pada gilirannya minimbulkan tindakan kekerasan, seperti fatwa sesat. Sebagian ajaran Islam juga diakui non-rasional oleh banyak ulama dan mereka namakan yang non-rasional ini dengan ibadah mahdhah. Padahal, dalam Alquran banyak ayat yang ditutup dengan peringatan afala ta’qilun (apakah kalian tidak berakal?) dan afala tatafakkarun (apakah kalian tidak berpikir?). Ibadah itu boleh, bahkan harus, dipahami hikmahnya semampu mungkin tanpa mengatakannya tidak perlu lagi.

Tetapi agama dan Tuhan urusan pribadi juga sangat simplisistis, pandangan yang melihat dengan kacamata kuda. Spiritual dan ritual pun, dalam pandangan Emile Durkheim (1885-1917) sosiolog agama berkebangsaan Prancis, bertujuan untuk mengokohkan solidaritas sosial. Individualitas, menurut dia, larut dalam kolektivitas ketika suatu kelompok melaksanakan acara ritual, seperti menari di sekeliling patung totem.

Agama, apapun namanya, memang mengandung aspek mistisisme, tasauf, atau ‘ubudiyah. Semua agama mengandung ajaran untuk dekat dengan Tuhan yang disembah. Banyak aliran mistisisme, tarikat atau tasauf yang mengajarkan bagaimana bisa cepat bersatu dengan Tuhan. Terangkat dari pengalaman lahiriah, transenden, ekstasi, menjadi tujuan mereka. Pemahaman dari segi tasauf atau mistisisme ini jelas mereduksi ajaran agama menjadi masalah spiritual dan ritual. Apapun agamanya, ajaran tentang keyakinan dan tingkah laku tetap ada.

Individu versus kolektif

Kalau ajaran sesat itu hanya milik individu, fatwa MUI tentu tidak akan keluar. Tetapi ketika sudah sadar, ajaran ini tetap diajarkan kepada pengikutnya dan kepada orang lain yang notabene adalah umat Islam, inilah yang menjadi masalah. Betapa tidak, kalau bayangan yang didapatkan ketika ekstase itu yang jadi acuan, agama tentu akan habis. Yang tersisa hanya mistisisme, esoterik, dan pengalaman mistik yang tidak ada batas dan tolak ukurnya.

Padahal agama adalah akidah dan syariah, moral dan hukum, ibadat dan muamalat, individual dan jamaah, pemahaman rasio dan penghayatan ibadat, bahkan dunia dan akhirat. Agama adalah philosophy and way of life, the ultimate concern (Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia, 2006). Sementara pihak liberal memandang fatwa demikian bertentangan dengan kemerdekaan dan kebebasan beragama yang tercantum dalam HAM. Cap bertentangan dengan HAM, dewasa ini menjadi menakutkan, walaupun yang mengaku diri pejuang HAM itu, seperti George Bush, melanggar HAM secara massif.

Agama yang terinstitusional ini adalah kesepakatan, bahkan keyakinan kolektif umat yang bersangkutan. Sedang pengalaman batin hanya individual, tetapi ditularkan pula kepada orang lain. Keyakinan dan pola hidup kolektif adalah hak kolektif untuk melembagakannya. Sedang pengalaman individual hanya hak individual.

Bustanuddin Agus
Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Andalas

Republika

Sumber: KRHN

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on November 5, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. assalam…………..
    nama saya mulyono. saya ingin tnya mengenai kajian nabi palsu di tinjau dari ilmu sosiologi.kirim ya ke E-mail saya,saya butuh banget.makasiw
    wassalam………

  2. Pernyataan dan Pertanyaan untuk penulis ‘Bebas Mengacau Agama’
    oleh Dildaar Ahmad

    Membaca sebuah artikel berjudul ‘Bebas Mengacau Agama’ karya Bustanuddin Agus, Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Andalas dalam Opini Republika, Rabu (24/02) cukup menarik dan menggelitik. Disebut menarik karena isu ini tetap aktual sampai sekarang dan menimbulkan berbagai diskusi dan dialog. Disebut menggelitik karena artikel tersebut dibuat oleh seorang yang dinamakan Guru Besar Sosiologi Agama di sebuah Universitas terkemuka di tanah air namun dari segi isi miskin dan kering analisa dari segi sosial keagamaan apalagi sosial kesejarahan.

    Ada beberapa poin yang dapat saya ambil dari artikel opini tersebut. Pertama; penulis opini mengakui bahwa umat Islam dan Ahmadiyah hidup berdampingan di Negara-negara Barat karena tidak adanya UU yang senada dengan Undang-Undang nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama. Kedua; Undang-Undang nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama dijadikan dasar agar Ahmadiyah dan aliran yang dipandang sesat supaya dibubarkan. Ketiga; Ahmadiyyah dan aliran semacamnya dipandang sesat.

    Keempat; Pasal 1 UU tersebut melarang siapa pun dan lembaga manapun dengan sengaja menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran sesuatu agama yang dianut di Indonesia. Kelima; penulis opini mengakui bahwa setelah Lia Eden dipenjara karena tertuduh kasus penodaan ternyata ‘tetap tidak kapok-kapoknya, malah tambah agresif menyiarkan ajarannya’. Keenam; karena pimpinan Ahmadiyah di Indonesia bukanlah orang yang menyatakan dirinya sebagai nabi dan organisasi ini cukup kuat dan punya pengikut meluas hampir di setiap daerah maka pemerintah gamang untuk menghukum dan menindak pimpinan mereka.

    Ketujuh; tampak logis bahwa semua yang diyakini dan didakwahkan oleh MUI, Ahmadiyah, Lia Eden, Ahmad Mushadeq dan lain-lain adalah sama-sama hanya penafsiran, pendapat atau keyakinan keagamaan. Semuanya harus dilindungi dan tidak boleh dihukum karena keyakinan. Kedelapan; semua pemeluk agama resmi dipersilakan berkembang asal tidak melakukan penodaan dan tidak mengubah ajaran pokok agama yang resmi. Kesembilan; bila dianggap atau dituduh melakukan penodaan dan mengubah ajaran pokok agama yang resmi agar tidak bersikeras mempertahankan diri sebagai penganut agama tertentu karena itu disamakan dengan mendirikan Negara dalam Negara atau rumah tangga dalam rumah tangga dan harus diperangi (apakah penulis menganjurkan/menghasut kekerasan??). Kesepuluh; penulis menyamakan mendirikan agama dengan mendirikan negara.

    Kesebelas; penafsiran apa pun mempunyai batas-batas. Pertanyaan dari saya siapakah yang menentukan batas-batas penafsiran? Siapakah yang menentukan ini tafsir yang salah, ini yang benar dan ini yang sesat harus dilarang? Keduabelas; penulis opini mengakui bahwa Barat mampu menciptakan kerukunan karena tidak memiliki UU sejenis yang dilatarbelakangi oleh kesepakatan umum bahwa masalah agama adalah urusan pribadi. Beragama atau tidak beragama, apa pun kepercayaan dan keyakinan keagamaannya tidak boleh diintervensi atau diketahui orang lain. Pandangan ini menyatukan mereka.

    Ketigabelas; agama juga diturunkan untuk mempersatukan manusia dari berbagai agama dan mempersatukan manusia dengan flora dan fauna dan segenap makhluk Allah. Keempatbelas; egoisme manusia yang tidak mengakui Tuhan sebagai penguasa dan pengatur alam semesta ini telah menebar penjajahan, peperangan, serta konflik berkepanjangan di kalangan manusia. Kelima belas; agama dan Tuhan itu beda dengan diagamakan dan dituhankan.

    Sejumlah pertanyaan yang muncul dari pernyataan opini diatas adalah sebagai berikut: pertama; kenapa umat Islam di Indonesia tidak mencontohnya? Kedua; secara hukum, kuatkah UU tersebut dijadikan dasar pembubaran organisasi keagamaan? Bagaimana caranya membubarkan sebuah organisasi keagamaan? Apakah pembubaran sebuah organisasi keagamaan dapat menjamin keyakinan dan pemikirannya juga bubar?

    Pertanyaan untuk opini keempat ialah sudahkan dirumuskan dengan jelas dan disertai kesepakatan tertulis oleh semua pemeluk agama resmi tentang pokok-pokok ajaran agama yang dianut mereka? Manakah yang pokok agama dan mana pula yang bukan? Serta siapakah yang berwenang mendeskripsikannya? Benarkah merupakan pokok ajaran mereka ataukah hanya penafsiran belaka bila seseorang atau lembaga manapun tidak boleh menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran sesuatu agama?

    Untuk opini kelima pertanyaannya ialah bila terbukti pemenjaraan atau pemidanaan itu tidak membuat orang yang meyakini ‘kesesatan’ itu jera lalu bagaimana efektifnya? Apakah mau menggalakkan hukuman mati seperti Raja dan Gereja di Eropa abad pertengahan menyelesaikan masalah perbedaan keyakinan atau penafsiran atas agama? Pertanyaan untuk opini keenam ialah apakah kuatnya organisasi dan jumlah pengikut yang meluas ke berbagai daerah menjadi patokan ketiadaan penindakan yang dimaksud? Kalau demikian berarti organisasi agama yang sudah mapan terbebas dari ancaman dituduh menodai agama apalagi dihukum.

    Pertanyaan untuk opini kedelapan: apakah definisi praktis dan jelas dari kata penodaan agama? Bagaimana bila penganut satu agama resmi menodai agama resmi lainnya walaupun keduanya sama-sama mengidentikan diri sesuai nama agamanya sendiri-sendiri? Apakah yang mempersilakan agama-agama berkembang itu anda/Bpk. Bustanuddin Agus atau Tuhan sendiri? Ataukah bahkan anda sendiri seperti Tuhan yang menentukan mana agama yang boleh berkembang dan mana yang tidak boleh?

    Pertanyaan untuk opini kesembilan dan kesepuluh: Benarkah analogi ini bahwa mendirikan agama sama dengan mendirikan Negara? Siapakah yang berhak menuduh seseorang atau sebuah lembaga menodai dan mengubah ajaran pokok suatu agama? Bukankah para nabi dan rasul dianiaya, diusir, diperangi dan dibunuh pengikut-pengikutnya karena menegakkan sebuah ajaran? Lalu kenapa orang-orang yang mengaku pengikutnya berbuat serupa kepada orang lain? Siapakah yang memiliki hak paten sebuah agama dan nama agama baik ‘resmi’ maupun tidak resmi sehingga membuatnya merasa berhak menghukum atau mengajukan tuntutan hukuman pada orang yang mengkopi-paste nama agamanya? Apakah dia yang membuat atau mendirikan atau menciptakan agama tersebut? Merasa dialah yang mempunyai agama itu? Yang lain tidak boleh meniru, memakai namanya kalau tidak sesuai dengan ajaran yang dibuatnya. Bukankah Allah yang sebenarnya berhak menuntutnya karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu termasuk manusia beserta seperangkat jasmani dan rohaninya? Perbedaan pemikiran manusia, tradisi, kepercayaan dan agama adalah suatu fakta.

    Oleh karena itu, biarlah Dia yang menghakimi perbedaan keyakinan dalam hati ini sedangkan tugas manusia mendiskusikan dengan baik agar nanti muncul kebaikan dari masing-masing kepercayaan sehingga terlihat mana yang terbaik menurut tiap-tiap orang.

    Pertanyaan untuk opini kesebelas ialah siapakah yang menentukan ini tafsir yang salah, ini yang benar dan ini yang sesat harus dilarang? Pertanyaan untuk opini keduabelas; penulis opini mengakui bahwa Barat mampu menciptakan kerukunan karena tidak memiliki UU sejenis yang dilatarbelakangi oleh kesepakatan umum bahwa masalah agama adalah urusan pribadi. Beragama atau tidak beragama, apa pun kepercayaan dan keyakinan keagamaannya tidak boleh diintervensi atau diketahui orang lain. Pandangan ini menyatukan mereka. (Bukankah ini bagus, Why not/kenapa tidak diambil dan dipraktekkan?).

    Pertanyaan untuk opini ketigabelas dan keempatbelas ialah apakah ide anda ini sesuai dengan tujuan agama diturunkan yaitu untuk mempersatukan manusia dari berbagai agama dan mempersatukan manusia dengan flora dan fauna dan segenap makhluk Allah? Atau justru menimbulkan potensi seperti yang disebutkan dalam opini keempatbelas yaitu egoisme manusia yang tidak mengakui Tuhan sebagai penguasa dan pengatur alam semesta ini telah menebar penjajahan, peperangan, serta konflik berkepanjangan di kalangan manusia? Ia menyatakan mengakui Tuhan namun perilakunya sendiri menunjukkan ia berlaku bak Tuhan yang menentukan dan menghukum mana yang sesat, mana yang benar dan mana yang menodai kebenaran atau agama. Manusia egois mengukur kebenaran dari pendapat pribadinya sendiri sembari memaksakan orang lain agar mengikutinya. Ia mengancam, menjajah, memerangi dan akhirnya timbullah konflik berkepanjangan di kalangan manusia. Pertanyaan untuk poin kelima belas: apa itu agama dan Tuhan? Apakah bedanya dengan diagamakan dan dituhankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: