Mencari Potensi Kepemimpinan Lokal

 

Mencari Potensi Kepemimpinan Lokal
Oleh: Gianie

Munculnya figur pemimpin baru dalam perpolitikan nasional bisa berasal dari banyak pintu. Selain melalui pintu kaderisasi oleh partai politik, pemimpin baru juga bisa datang dari tokoh yang selama ini berkiprah di daerah, baik dari jalur birokrat, pengusaha, maupun tokoh politik lokal. Kunci utama untuk terjun ke percaturan politik yang lebih tinggi, menurut pandangan publik, tak lain adalah citra bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Peluang elite lokal berkiprah di tingkat nasional terbuka sangat lebar di tengah krisis kepemimpinan yang ditandai oleh ketiadaan tokoh baru untuk menggantikan elite politik nasional yang sudah bercokol sejak lama. Peningkatan jenjang karier dari tingkat lokal ke nasional ini sangat dimungkinkan dan biasa terjadi dalam hierarki politik. Peluang besar bisa jadi dimiliki oleh birokrat daerah yang selama ini sudah memiliki jaringan di pemerintahan.

Menurut penulis politik dari Amerika Serikat (AS), Alfred de Grazia (1962), aktivitas pemerintahan yang terdistribusi secara luas di masyarakat memberi keuntungan tersendiri bagi individu. Individu dapat dengan mudah masuk dan keluar dari kelompok politik dan naik atau turun dalam level hierarki politik yang berbeda. Hal ini umum terjadi di AS dan negara Barat lainnya.

Contoh sukses pemimpin yang meniti karier politiknya dari tingkat birokrasi lebih rendah hingga menjadi orang nomor satu adalah Bill Clinton. Bill Clinton menjadi Presiden AS ke-42 setelah mematangkan karier politiknya di negara bagian Arkansas dengan menjabat sebagai gubernur selama empat periode. Presiden AS saat ini, George W Bush, pun sebelumnya menjabat Gubernur Texas.

Indonesia sebaliknya

Di Indonesia, kita bisa menyebutkan contoh manuver sebaliknya, yaitu pergerakan politik yang dimulai dari nasional dan bergerak ke tingkat yang lebih rendah. Manuver itu, antara lain, dilakukan Agustin Teras Narang, anggota DPR periode 1999-2004. Dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2005, ia terpilih menjadi Gubernur Kalimantan Tengah dengan memperoleh 43,94 persen suara, mengalahkan empat pasang calon lain. Selain itu, Nur Mahmudi Ismail yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Kehutanan, “turun” menjadi Wali Kota Depok, Jawa Barat.

Dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang dilakukan 31 Oktober-2 November lalu, responden di 33 provinsi menyatakan gubernur di wilayah mereka layak untuk kembali memimpin pada periode berikutnya, bahkan untuk maju ke kancah politik nasional. Kelayakan kepala daerah ini untuk maju ke pentas nasional sebagai tokoh politik disampaikan mayoritas responden (57,1 persen).

Penilaian soal kelayakan ini didasarkan pada pertimbangan kinerja kepala daerah yang dianggap cukup memuaskan selama memimpin. Dari berbagai bidang yang ditanyakan, rata-rata responden memberi jawaban memuaskan soal kinerja pemerintahan atas layanan publik, keamanan daerah, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya dan pariwisata, pemberdayaan perempuan, serta olahraga. Kinerja yang belum memuaskan adalah di bidang ekonomi, program pemberantasan kemiskinan, dan pengurangan pengangguran yang terkait dengan kebijakan yang lebih makro.

Meski direstui untuk berkiprah di kancah nasional sebagai tokoh politik, kepala daerah masih diragukan kelayakan dan kemampuannya untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Hal itu dinyatakan sebagian besar responden (54,3 persen). Adapun yang menyatakan kepala daerah layak mengajukan diri sebagai presiden sebanyak 41 persen.

Meskipun demikian, muncul sejumlah nama kepala daerah yang dianggap warga daerahnya layak mencalonkan diri menjadi presiden, sejalan dengan tingkat kepuasan responden yang menilai kinerja kepala daerahnya memuaskan. Mereka adalah gubernur yang terpilih lewat pilkada secara langsung, yaitu Fadel Muhammad (Gubernur Gorontalo), Sinyo Harry Sarundajang (Gubernur Sulawesi Utara), dan Agustin Teras Narang (Gubernur Kalteng). Fadel Muhammad, seorang pengusaha nasional, secara mutlak memenangi Pilkada Gorontalo dengan memperoleh 82,2 persen suara.

Sedangkan Sinyo Harry Sarundajang meraih 38,8 persen suara dalam pilkada dengan persaingan yang cukup ketat. Mantan pejabat Gubernur Maluku Utara ini dinilai cukup berperan dalam perdamaian Malino, upaya mengatasi konflik horizontal di wilayah Ambon-Maluku Utara. Di luar nama itu, figur Imam Utomo (Gubernur Jawa Timur) dan Amin Syam (Gubernur Sulawesi Selatan) juga cukup menonjol.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X dan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga mencuat sebagai calon yang layak menjadi presiden, mengungguli gubernur lainnya. Sultan HB X tergolong tokoh yang sudah dikenal publik karena sudah lama terjun di politik nasional. Sutiyoso kiprahnya berada dekat dengan pusat pemerintahan. Apalagi ia sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden untuk Pemilu 2009.

Bersih dari KKN

Syarat utama yang diajukan publik paling penting dimiliki oleh tokoh daerah untuk berkiprah di perpolitikan nasional, termasuk mencalonkan diri menjadi presiden, adalah citra bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Syarat ini diajukan mayoritas responden (56,8 persen). Syarat kemampuan finansial untuk kepentingan pendanaan menempati urutan kedua (13,2 persen). Adapun popularitas yang diketahui sering mendongkrak perolehan suara dalam suatu pemilihan hanya menempati urutan ketiga (10,4 persen).

Citra bersih dari KKN ini memang selayaknya menjadi penentu terpilihnya seorang pemimpin, mengingat selama ini acap kali diberitakan para kepala daerah tersangkut kasus penggelapan atau penyelewengan dana. Citra negatif yang justru acap kali lebih menonjol merupakan bentuk kelemahan kepala daerah dalam mempromosikan dirinya.

Peluang untuk melebarkan sayap di tingkat nasional juga dimiliki oleh kalangan pengusaha lokal. Kelompok ini, selain punya modal keuangan yang kuat sebagai sumber pendanaan, juga dipersepsi publik memiliki citra yang lebih positif. Citra positif dan keuangan yang kuat diyakini tidak saja membuat pengusaha lokal mampu berkiprah di tingkat nasional dalam bidang ekonomi, tetapi juga di bidang politik.

Tak ada halangan bagi pengusaha untuk berkecimpung di dunia politik. Bahkan, kehadiran dan kemampuannya ditantang untuk memberi nuansa lain dalam perpolitikan dan dapat berkontribusi untuk penguatan perekonomian. Sebagian besar responden (sekitar 60 persen) mendukung kalangan pengusaha terjun ke dunia politik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Sebanyak 65,3 persen responden bahkan setuju jika pengusaha ikut mencalonkan diri sebagai kepala daerah, baik di tingkat provinsi ataupun di kabupaten/ kota.

Akan tetapi, pengusaha lokal belum diyakini mampu mencalonkan diri untuk menjadi presiden/wakil presiden pada Pemilu 2009. Hal ini disampaikan sebagian besar responden (53,6 persen). Sebagian lainnya (42,6 persen) menyatakan sebaliknya.

Keyakinan soal kemampuan pengusaha lokal mencalonkan diri menjadi presiden/wakil presiden dalam pemilu mendatang cukup berimbang. Dalam kenyataannya, perdebatan yang terjadi akan memunculkan contoh nyata, M Jusuf Kalla. Dia adalah pengusaha dari Sulawesi Selatan yang berhasil menjadi Wakil Presiden periode 2004-2009. Bahkan, ada kemungkinan Kalla pada pemilu mendatang maju sebagai salah satu calon presiden.

GIANIE
Litbang Kompas

Sumber: KRHN

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on November 5, 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: