Fallacy (Kesalahan Berpikir)

Fallacy (Kesalahan Berpikir)

Disampaikan dalam Sekolah Revolusi Kesadaran Materi Fallacy 

 

Suatu saat pernah ada seorang kawan datang sembari berkeluh kesah. Aku tanya mengapa dia terlihat begitu kesal. Dia bilang bahwa dirinya baru saja “diceramahi” oleh seorang mahasiswa beriman. Mahasiswa beriman itu menceramahinya seraya mendiskreditkan salah satu organisasi eksternal yaitu HMI. Dia bilang bahwa kamu jangan masuk HMI karena HMI itu organisasi sesat. Kamu jangan terlalu dekat dengan anak-anak HMI, mereka itu pemikirannya sesat. Kader-kadernya banyak yang nyeleneh. Kebetulan dia ini merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang dekat dan sering bergaul dengan kader-kader HMI.

Setelah mendengar ceritanya, saya bilang saja sama dia bahwa mahasiswa beriman tadi sudah terjerumus pada kesalahan berpikir atau dalam bahasa Yunani biasa disebut fallacy.

Apa itu fallacy? Fallacy berasal dari bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan ‘ngawur’.

Ada dua pelaku fallacy, yaitu pelaku yang sengaja ber-fallacy (sofisme), dan pelaku yang tidak sadar berfallacy (paralogisme) . Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya.

Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi amoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.

Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur fallacy, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bias mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Karena itu, al-Qur’an sering kali mencela bahwa ‘sebagian besar manusia tidak berakal’, tidak berpikir’, dan sejenisnya.

Beberapa macam-macam fallacy:

  1. Fallacy of dramatic instance yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation).

Contoh: Mahasiswa beriman tadi yang mengatakan bahwa HMI itu organisasi yang sesat, kiri, liberal karena melihat beberapa kadernya yang menurut pandangannya sebagai orang sesat, kiri, dan liberal.

  1. Argumentum ad hominem adalah argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara atau dalam bahasa kerennya dikenal dengan istilah Personal Attack.
  2. Argumentum ad verecundiam adalah kesalahan berpikir akibat argumen dengan menggunakan argumen yang bersifat otoritas meskipun otoritas itu tidak relevan.

Contoh: A sedang berdiskusi dengan B. Lalu A berkata kepada B, pendapat Anda bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Ini bentuk kesalahan berpikirnya. Bahwa, sebenarnya B tidak bertentangan dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sepanjang yang A pahami.

  1. Fallacy of Composition yaitu cara berpikir berdasar dugaan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasti juga berhasil untuk semua orang.

Contoh: Kemarin saya sakit batuk, setelah saya obati dengan obat X, langsung sembuh. Kamu juga pasti cepat sembuh batuknya kalau kamu minum obat X.

  1. Argumentum Auctoritatis adalah argumentasi yang diajukan berdasarkan kewibawaan atau pengaruh besar seseorang, bukan berdasarkan penalaran.

Contoh: Saya yakin dengan apa yang dikatakannya karena ia pemimpin partai besar.

6.      Argumentum ad misericordiam adalah argument yang diajukan berupa ancaman dan desakan lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif terhadap dirinya.

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Desember 8, 2007, in Makalah. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. klen mank gk betul boy,,
    klo jelaskan ya pake ayat al-qur’an yg dh ditakwilkan ulama besar dan sudah merupakan ijma para ulama… bukan cm pake dalil artikan sndiri atau pake teori noni..

  1. Ping-balik: Sri Mulyani & JK Berfantasi « equiVALENT’s Web

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: