DASAR REVOLUSI KESADARAN

DASAR REVOLUSI KESADARAN

Ini dasar bukan puncak, perkembangan yang cepat (revolusi) hanya bisa tumbuh
dari dasar yang tetap tidak goyah. Sesuatu dikatakan memiliki Puncak
ketika ia juga memiliki akar yang menghujam dengan kuat.

***
Kesadaran adalah suatu keadaan, dimana setiap orang yang memiliki kesadaran, ia akan mengetahui apa yang ia ketahui. Dari setiap apa-apa yang sudah ia ketahui tersebut, secara langsung akan berfungsi sebagai pijakan untuk pengetahuan atau kesadaran lebih lanjut. ini menunjukan bahwa kesadaran akan menempuh lapisan-lapisan. Semakin tinggi lapisan kesadaran sesorang, pada saat yang sama sebetulnya membuktikan semakin mendasar pula pengetahuan orang itu. Lebih dasarnya suatu pengetahuan akan menuntunnya menemukan prinsip-prinsip yang nyata dalam kehidupan. Prinsip nyata biasanya sederhana, jelas, dan mudah bagi semua orang. Hal inilah yang nantinya akan berguna bagi manusia untuk menganalisis kenyataan kehidupan, tentunya kenyataan yang beragam, hidup penuh dinamika, majemuk, dan kita memang berada di alam yang tersusun(majemuk). Jika anda ingin menganalisis suatu persoalan yang begitu majemuk-beragam, kembalilah pada prinsip pengetahuan. Melalui hal yang prinsipil anda akan mudah melakukan penilaian, tentunya penilaian yang mudah dipahami.
Penilaian yang mudah dipahami, bersifat universal, artinya gampang dipahami oleh sebagian besar orang. Universalitas pemahaman ini muncul, karena secara nyata setiap orang telah memiliki kesamaan. Dengan kesamaannya membuat antar manusia mampu berkomunikasi (commune=sama), Juga mampu bertukar pikiran. Walaupun memang dalam berkomunikasi dan tukar pikiran dapat terjadi salah tukar atau salah paham. Tetapi hal itu tidak menafikan sifat kesamaan manusia satu sama lain.
Dalam hal berpikir, ada prinsip yang pasti dimiiliki setiap orang. Setiap orang memiliki prinsip identitas, yaitu kemampuan untuk menyatakan bahwa sesuatu itu adalah sesuatu itu, bukan sesuatu yang lain, dan setiap segala sesuatu memiliki identitasnya, yang kedua adalah prinsip non – kontradiksi yaitu ketidakmauan atau ketidakmampuan pikiran mengalami “konslet” atau kontradiksi, sehingga mustahil ada dua hal yang bertentangan diyakini dalam waktu yang bersamaan, misalnya melekatkan sifat “jujur sekaligus bohong” pada seseorang, ini jelas tidak mungkin, jelas kontradiksi. dan yang ketiga prinsip kausalitas dengan alasan bahwa segala akibat memiliki sebab, sampai pada Sebab yang tidak memiliki sebab lagi. Universalitas prinsip-prinsip ini adalah dasar untuk merevolusi kesadaran.

***
Kesadaran hanya didapat dari pengetahuan, antara kesadaran dan pengetahuan sangat berkaitan erat. Juga dengan bahasa. Karena Setiap pengetahuan hanya bisa diketahui ketika diwakilkan melalui simbol-simbol yang berhubungan satu sama lain yaitu bahasa. Fungsi relasi simbol-simbol, kemampuan menghubung-hubungkan ada karena prinsip-prinsip pengetahuan di atas tadi, juga karena prinsip untuk menghubungkan telah ada di saat akal ada pada diri manusia.
Prinsip menghubungkan dalam dimensi matematis misalnya pada operasi bilangan : jumlah (+) kurang () kali (x) bagi (:) Lebih kurang (<, >) sama dengan (=) telah ada secara inhern pada diri manusia, dengan simbol yang disepakati bersama. Semua orang dalam jagat ini pasti memiliki pahaman yang sama mengenai konsep matematis ini. Selain itu, prinsip menghubungkan yang ada dalam dimensi bahasa juga inhern sebagaimana pada dimensi matematis di atas. Kata Depan (Proposition) yang menghubungkan kata dan kata, dan kata sambung (Conjuction) yang menghubungkan kalimat dengan kalimat, akan dipahami secara pasti oleh setiap orang walau dengan bahasa yang berbeda. Dengan prinsip-prinsip inilah manusia mampu berkomunikasi. Memang ada komunikasi yang mampu menyampaikan gagasan tanpa reduksi pemahaman dari pendengar, dan adakalanya suatu gagasan tereduksi pada saat penyampaian, ini tergantung seberapa ketat prinsip-prinsip ini atau prinsip komunikasi dipergunakan. Bahasa sangat berkaitan erat dengan pengetahuan dan kesadaran, tanpa bahasa yang baik maka orang tidak mungkin memiliki kesadaran penuh.
Bahasa, Kesadaran, dan pengetahuan adalah tiga hal yang tidak mungkin dipisahkan, ketiganya akan selalu menyertai perjalanan manusia yang memiliki potensi berpikir, dan orang yang berpikir akan menempuh perjalanan kesadarannya, lebih tinggi lagi. Kalau kita ingin tahu bagaimana setiap orang mengawali pengetahuannya, bagaimanakah proses terjadinya pengetahuan dan bahasa pada semua orang ? Pertanyaan ini bisa kita jawab dengan asumsi bahwa : kita menggunakan pengetahuan yang sudah ada pada diri kita untuk menanti jawaban. Seperti halnya kita belajar bahasa, sudah tentu kita mempelajarinya dengan bahasa yang sudah melekat pada diri kita.
***
Jangan khawatir untuk menggunakan aql, dengan aql atau berpikir yang konsisten kita akan menemukan kebenaran secara PASTI. Nanti, dalam banyak persoalan disana-sini kita akan berpapasan dengan paham-paham pemikiran yang berbeda. Kaum relativis, skeptis, nihilis, dll. Dimana mereka berupaya menyalahkan segala hal tanpa ada ujung solusi, merusak sendiri tatanan kejelasan, yang dengan berbagai dalil-dalil mereka merelatifkan segala sesuatu…, ketika mereka ingin merelatifkan segala sesuatu, mereka menggunakan dalil-dalil yang sebenarnya bagi mereka adalah dalil mutlak, pada saat yang sama mereka menolak pendapatnya sendiri,
Contoh :
Seorang nihilis akan berkata
“sesungguhnya tidak ada sesuatupun di alam ini!”
( apakah alam yg dimaksud tidak ada ?)

Seorang skeptis akan berkata
“ Jika sesuatu itu pun ada, maka tidak bisa diketahui ! ”
( apakah ini bukan pengetahuan ?)

“Jika bisa diketahui, maka tidak bisa disampaikan kepada yang lain!”
[ kalimat ini adalah kalimat berita, penyampaian, apalagi ada penekanan penyampaian –
dengan menggunakan tanda seru (!) ]

kaum relativis akan berkata
“ Kebenaran itu relatif “
(apakah pernyataan ini masih relatif kebenarannya)
kalau memang masih relatif, berarti tidak perlu dipercaya, padahal dapat dipastikan
orang yang berpendapat ini ingin pendapatnya dipercaya

“jangan percaya pada aql, karena aql terbatas”
( apakah kalimat ini juga tidak perlu kita percaya)
(kalau memang terbatas berarti kita tahu batasannya)

itulah beberapa pendapat yang masih banyak diperdengarkan orang-orang lalu bagaimana kita membahasnya.

Batasan aql atau pikiran adalah ketidaktahuan. Tidak tahunya aqal bukanlah pembatas menuju pengetahuan, potensi aql untuk mengetahui lebih lagi, akan selalu ada. Kalau memang aql masih tidak dipercaya, apalagi sumber pengetahuan yang bisa dipercaya: apakah mata, telinga, kulit, hidung, padahal semuanya itu juga terbatas, sebagaimana hati kita, ia juga terbatas. Ada hati yang bersih, ada hati yang kotor, tentunya berbeda, lalu bagaimana anda membedakannya ? Aql atau pikiran juga mengalami beberapa kondisi, ada kondisi dimana pikiran mencapai sesuatu yang pasti benar dan ada pikiran yang pasti salah, sementara kondisi yang lain yaitu ragu-ragu tidak memiliki penilaian, ada di persimpangan jalan atau tidak punya nilai selain sarana untuk mengetahui sesuatu. Dari semua sumber pengetahuan tadi: alat-alat indra, aql, dan hati, masing-masing memiliki peran yang sudah tentu. Ada syarat yang pasti agar aql kita menemui kebenaran, sebagaimana ada syarat yang pasti agar hati kita bersih, yaitu pikiran yang sehat, konsisten, dan jelas. Hati tak pernah berbohong, itu ekuivalen dengan pikiran yang konsisten, logis.
***
Dari uraian diatas, dinyatakan bahwa kesadaran setiap orang akan menempuh tahapan-tahapannya, kondisi ini tidak mungkin tercegah, bahkan dibatasi. Karena kecendrungan alami manusia agar menetapkan sesuatu secara pasti, sehingga meyakini sesuatu dengan mantap. Upaya untuk membatasi perkembangan kesadaran hanya akan membuktikan adanya kebutuhan kepada kesadaran yang lebih tinggi. Kita ingin kepastian, dan diketahui secara universal.
Untuk menempuh pengetahuan yang universal, kita harus memulainya dari dasar-dasar pengetahuan yang universal, yaitu sesuatu yang sudah jelas pada diri kita semua. Berawal dari yang paling jelas, kita akan berupaya untuk memperjelas yang lain yang belum jelas. Kembalilah pada prinsip, inilah paham kita: paham absholutisme.
****

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Januari 6, 2008, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: