Kebangkitan Nasional dan Polemik Harga Minyak

Beberapa waktu yang lalu kita sebagai bangsa Indonesia sedang memperingati momen 100 tahun kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional merupakan momentum awal yang membuka jalan perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Kebangkitan nasional menyadarkan para pejuang bahwa dengan adanya persatuan, maka perjuangan akan berhasil. Perjuangan yang bersifat kedaerahan dan terkesan jalan sendiri-sendiri akan sangat mudah untuk dipatahkan pihak lawan.

Sebelum Indonesia merdeka, perjuangan yang terjadi merupakan perjuangan yang bersifat melawan kolonialisme. Kolonialisme yang terjadi pada saat itu merupakan bentuk penindasan yang sungguh menyengsarakan rakyat. Oleh karena itu, timbullah rasa persatuan dan kebangsaan yang kuat di kalangan mahasiswa STOVIA yang kemudian mendirikan Boedi Oetomo yang diprakarsai dr. Soetomo, dr. Wahidin Soedirohoesodo, dan kawan-kawan.

Tantangan masa kini
Dewasa ini, bangsa Indonesia berada di persimpangan dunia. Bangsa Indonesia dihadapkan pada derasnya arus neoliberalisme global. Secara kultural, paham liberalisme baru dengan segala bentuknya dan kapitalisme jelas tidak sesuai dengan keadaan masyarakat yang ada.

Neoliberalisme yang melanda Indonesia saat ini memaksa segala sesuatu diserahkan pada mekanisme pasar. Adanya liberalisme baru dengan segala bentuknya ini jelas membahayakan masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah. Paham jenis ini seakan-akan memaksa negara untuk “melepas” sistem ekonomi yang ada, tanpa disertai adanya perlindungan terhadap masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah.

Paham jenis ini berkembang karena dipengaruhi paham “nacht waker staats”, yaitu paham bahwa negara hanya berperan sebagai “penjaga malam”. Negara tidak turut campur dalam proses kegiatan perekonomian.

Neoliberalisme tidak sesuai dengan negara kita di mana negara kita menganut paham negara kesejahteraan. Dalam negara kesejahteraan, negara turut ikut campur dalam urusan kesejahteraan rakyat. Subsidi tetap diperlukan dalam negara yang menganut paham negara kesejahteraan, semata-mata demi menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Selain itu, Indonesia dihadapkan pada krisis energi terutama dengan semakin melambungnya harga minyak dunia. Dalam hal ini, Indonesia seakan tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa kebijakan energi nasional yang dibangun pada masa lalu sangat rapuh dan terlalu bergantung pada bahan bakar fosil.

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan bertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) semakin bertambah. Dalam hal ini, maka pemerintah terpaksa mencari solusi dalam menghadapi krisis energi dan semakin melambungnya harga minyak dunia.

Solusi yang tidak prorakyat
Pemerintah akhirnya memutuskan untuk menaikkan harga jual BBM bersubsidi. Pemerintah menganggap bahwa kebijakan menaikkan harga jual BBM bersubsidi harus dilakukan untuk menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menanggung beban subsidi yang semakin berat terutama berkaitan dengan semakin naiknya harga minyak dunia.

Sebagai antisipasi terhadap dampak kenaikan harga jual BBM bersubsidi, pemerintah akhirnya kembali meluncurkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) seperti yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 2005 saat menaikkan harga jual BBM bersubsidi.

Program BLT yang dilakukan pemerintah pada tahun ini dirasa sebagai sebuah program yang terlalu dipaksakan. BLT dikeluarkan semata-mata sebagai sebuah legitimasi terhadap kenaikan harga jual BBM bersubsidi. BLT yang dikeluarkan pada tahun ini terlihat tanpa persiapan yang matang. Hal ini terbukti dengan digunakannya kembali data penerima BLT pada 2005 yang mana data tersebut tentu sudah banyak yang tidak sesuai dengan keadaan riil yang ada pada saat ini. Ketidaksiapan lain dalam program BLT tahun ini terlihat dari hanya dibagikannya BLT pada tahap awal di sepuluh kota besar di Indonesia.

Apabila melihat keadaan pada tahun 2005, program BLT tahun ini sangat rawan menimbulkan konflik. Beberapa aparat pemerintah di daerah banyak yang menyatakan menolak untuk dilibatkan dalam program BLT, namun pemerintah pusat bergeming dengan tetap meneruskan program BLT, pemerintah pusat memperingatkan akan memberi sanksi terhadap aparat daerah yang tidak mendukung program BLT. Aparat di daerah seperti mengalami pengalaman traumatik terhadap program BLT tahun 2005. Kenyataan yang banyak terjadi pada BLT 2005, BLT ialah kependekan dari Bantuan Langsung Tawuran.

Pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman tahun 2005 bahwa pelaksanaan program BLT pada tahun 2005 dinilai gagal karena banyak sekali konflik yang terjadi. Dana BLT yang diterima masyarakat miskin tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup yang harus ditanggung akibat kenaikan harga BBM. Bagaimana pun program BLT hanyalah sebuah program jangka pendek yang terkesan seperti upaya mencari simpati rakyat miskin untuk ikut mendukung kenaikan harga jual BBM bersubsidi. Selain itu program BLT juga bukan merupakan program yang mendidik rakyat untuk hidup mandiri. Rakyat miskin dibuat “terbuai” dengan kenikmatan BLT yang diterimanya yang notabene BLT itu tidak diterima dalam jangka panjang, melainkan hanya beberapa bulan saja. Setelah habis masa BLT, maka rakyat miskin kembali berkutat dengan kemiskinan.

Bantuan khusus mahasiswa
Setelah adanya program BLT, pemerintah membuat gebrakan dengan meluncurkan program Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) bagi mahasiswa tidak mampu. Adanya program BKM ini sedikit mengejutkan karena pada awalnya tidak ada rencana pemberian BKM sebagai salah satu instrumen kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi

Program BKM ini peluncurannya terlihat seperti program yang dipaksakan dan bersifat reaktif. Setelah kenaikan harga jual BBM bersubsidi naik, banyak elemen mahasiswa yang mengadakan aksi demonstrasi menentang kenaikan harga jual BBM bersubsidi.

Sikap pemerintah yang tidak terarah seperti ini tentu banyak menimbulkan tanda Tanya. Apakah dengan mengucurkan program BKM, pemerintah berniat untuk “meredam” aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa? Ataukah program BKM ini memang murni untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu sebagai bantuan biaya studi mahasiswa?

Kenaikan harga jual BBM bersubsidi memang sudah terjadi, untuk itu pemerintah harus melaksanakan sebuah kebijakan kompensasi yang menyertai kenaikan harga jual BBM bersubsidi. Kompensasi kenaikan harga BBM bersubsidi sebaiknya digunakan untuk menggerakkan sektor riil yang dapat menyerap tenaga kerja. Selain itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan dan kesehatan masyarakat miskin. Hal tersebut akan lebih terasa manfaatnya daripada pemerintah melaksanakan program “bagi-bagi duit”.

Dalam momentum 100 tahun kebangkitan nasional ini, pemerintah sebaiknya mengevaluasi kembali segala kebijakan yang diambilnya serta akibat dari kebijakan tersebut secara obyektif. Segala kebijakan yang ditempuh hendaknya merupakan kebijakan yang pro terhadap rakyat karena pemerintah bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya, terlebih lagi karena rakyat pula yang memilih pemimpinnya secara langsung. Semua ini ditujukan agar momentum kebangkitan nasional yang sedang kita peringati tidak berhenti sebagai sebuah cita-cita semu belaka dan tidak berubah menjadi “keterpurukan nasional” yang nyata.

Penulis adalah

AZFAN LUTHFI
Mahasiswa Fakultas Hukum UNS

Pemerhati masalah sosial politik

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Juni 6, 2008, in Artikel and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Artikel ini bila merupakan kutipan dari artikel yang dibuat orang lain, mohon dicantumkan nama orang yang membuatny di bawah judul diberi “Oleh: (nama orang yang membuat artikel)”. Kemudian dicantumkan tempat artikel didapatkan dan dituliskan di akhir tulisan “dikutip dari: www. …”
    Jazakumullah Khairan Katsiraa.

  2. Maaf bro, kelupaan. Aku kira udah tak cantumkan di bawah. Ternyata belum. Segera diperbaiki…!!!!!!

  3. Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com
    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com/kebangkitan_nasional_dan_polemik_harga_minyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: