Memahami Anarkisme Untuk Wartawan

Belakangan ini, media massa panen kata “anarkis”. Maklum, setelah pemerintah menyatakan akan menaikkan harga BBM, unjuk rasa terjadi di mana-mana dan beberapa di antaranya berakhir dengan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Dan, seperti biasa, koran-koran dan televisi pun memberitakan:

Demo bla bla bla Berakhir Anarkis

Atau:

Tindakan Anarki Warnai Demo bla bla bla

Begitulah, dari dulu dan sepertinya sampai kapan pun, para wartawan selalu dan akan selalu menggunakan kata anarkis untuk menggantikan kata “rusuh”, “bentrok”, “kekerasan”, “aksi liar” dan lain-lain yang semakna. Padahal, anarkisme itu sebuah paham politik, seperti halnya sosialisme, marxisme dan isme-isme yang lain, dan oleh karenanya kata anarkis merujuk pada orangnya, yakni mereka yang menganut paham anarkisme.

Di antara paham-paham lain, anarkisme barangkali memang relatif tidak populer, tapi setidak-tidaknya tetap saja ada penganutnya. Kita perlu menghargai mereka. Jadi, ayolah, para wartawan, hentikan menggunakan kata anarkis untuk menyebut tindakan kekerasan yang mewarnai sebuah demo. Bahasa Indonesia cukup kaya kok dengan kata-kata untuk melukiskan situasi ricuh, kacau tak terkendali, yang ditimbulkan oleh perseteruan dua pihak, seperti sering terjadi antara demonstran dengan polisi. Dan, tak perlu menjadi orang jenius untuk tidak selalu menyalahpahami kata anarki, anarkis dan anarkisme.

Belakangan ini saya sering mematikan HP, sesuatu yang tak pernah saya lakukan sebelumnnya, sejak pertama kali memiliki benda suci itu. Saya sedang menghindari “kejaran” seseorang. Ada mbak-mbak dari sebuah bank asing yang membujuk saya untuk membuat kartu kredit. Awalnya saya heran, dari mana dia mendapatkan nomer HP saya. Belakangan saya merasa naif dengan keheranan saya itu. Mestinya sejak awal saya sadar, bahwa itu bagian dari konsekuensi hidup sebagai warga negara di bawah sebuah sistem pemerintahan: kau dicatat, didaftar, diurutkan, dipajaki, dinomori, ditaksir, diizinkan, ditegur, dilarang, dirombak, dikoreksi, dihukum. Dan, seperti pernah dibilang oleh Pierre Proudhon, semua itu atas nama keperluan publik, dan atas nama itu pula kita ditariki iuran, dilatih, dijatah, dieksploitasi, dimonopoli, diperas, ditekan, dibingungkan…

Proudhon mengatakan itu lewat bukunya yang terbit pada 1923. Pada era sekarang, daftar tersebut tentunya bisa diperpanjang sesuai dengan teknik-teknik kontrol yang baru seiring kemajuan teknologi: divideo, dikamera, dimonitor, diselia, didokumentasi, diklasifikasi, dirinci, di-password, difoto, diotorisasi, didigitalisasi, di-barcode, dikategorisasi, dikurikulum, dikartudiskonkan, di-CCTV-kan, dikartuidentitaskan, didata, dikaji, diobjektifikasi. Proudhon adalah orang pertama yang menggunakan istilah anarkisme sebagai filsafat politik. Kegemarannya menggunakan kata kerja pasif merujuk pada berbagai lembaga yang mengejawantahkan kekuasaan.

Kata anarkisme sendiri berasal dari bahasa Yunani, tersusun dari dua kata “an” (tidak) dan “archy” (ketua). Anarkisme berarti tidak adanya pemimpin, tidak adanya pemerintahan. Para penganut anarkisme menolak kebutuhan akan otoritas tersentral atau negara tunggal, satu-satunya pemerintahan yang kita kenal sampai hari ini. Sebagaimana diterima sampai hari ini pula, negara berdaulat adalah sumber otoritas politik, yang menentukan harga cabe, membuat peraturan mengenai pembatasan penjualan bensin, dan mengumumkan kenaikan harga BBM naik, sekaligus merancang sebuah sistem kompensasi untuk meredam protes masyarakat.

Yang ditolak oleh kaum anarkis sebenarnya bukanlah konsep pemerintah sebagai negara, melainkan ide tentang suatu tatanan berkuasa yang menuntut dan menghendaki kepatuhan (bahkan kalau perlu nyawa) warganya. Tatanan ini membuat siapa pun yang tidak patuh akan ditindas, didenda, diremehkan, diusik, diburu, disiksa, dipukuli, dilucuti, dicekik, dipenjara, dihakimi, dihukum, ditembak, dideportasi, dikorbankan.

Pertanyaan yang kemudian muncul, jika tidak ada sebuah tatanan yang berkuasa memerintah, bagaimana sebuah masyarakat bisa berjalan? Bayangkan kau bangun pada pagi hari dan pemerintah sudah dibubarkan, siapa yang akan mengosongkan tempat sampah? Siapa yang akan menangkap pembunuh? Siapa yang akan menjaga agar rak-rak supermarket dekat rumah kita tetap terpasok bir-bir kalengan untuk pesta besok malam?

Atas pertanyaan-pertanyaan klasik seperti itu, yang secara tersirat memandang betapa naif kaum anarkis ini, anarkisme tentu saja memiliki banyak agumentasi teoritis-teknis yang kuat dan masuk akal. Namun, apa pun penjelasannya, pandangan umum tetap akan sulit membayangkan, bagaimana masyarakat berlangsung tanpa negara dan pemerintahan. Jadi, untuk sementara, lupakan dulu bagian tentang bagaimana bentuk “tatanan” pemerintahan ideal yang diangankan oleh kaum anarkis. Yang lebih penting untuk kita ketahui hari ini, layaknya tradisi pemikiran politik dan filsafat lainnya, anarkisme bukanlah suatu bentuk pemikiran yang hanya merujuk pada satu tedensi saja.

Dalam kata-kata tokoh anarkis Amerika Naom Chomsky, anarkisme sebagai pemikiran maupun praksis memiliki sangat banyak bentuk dan karakteristik. Sedangkan menurut Emma Goldman, anarkisme bukanlah suatu teori mengenai masa depan, melainkan kekuatan yang menggerakkan keseluruhan hidup manusia, yang terus-menerus menciptakan keadaan-keadaan baru, berjuang dalam keadaan apa pun untuk menolak segala sesuatu yang bisa menghambat perkembangan manusia.

Kata-kata Goldman mengingatkan saya pada salah satu praktik politik pemerintah Orde Baru yang menempelkan cap tapol pada KTP warga negaranya yang dianggap tidak “bersih lingkungan”. Seseorang yang mendapat cap tersebut akan terbatasi ruang geraknya sebagai individu yang mestinya bebas menentukan pilihan dan nasibnya. Teman sekelas saya di SMA gagal masuk sekolah ikatan dinas impiannya, hanya karena dalam rangkaian proses seleksinya diketahui dia berasal dari sebuah keluarga yang dulu tersangkut G 30 S/PKI. Itu dulu. Sekarang bentuk-bentuk represi dan kontrol dari negara yang menghambat pertumbuhan warganya tetap ada dan akan selalu ada, dalam bentuk-bentuk yang lain lagi, dan itulah sebabnya anarkisme selalu relevan.

Sean M Sheehan dalam bukunya Anarchisme (2003) memetakan adanya dua tendensi besar dalam paham anarkisme, yakni anarkisme komunis (kolektif) yang berakar pada –siapa lagi kalau bukan- Marx dan anarkisme individual yang berakar pada Nietzsche. Dalam refleksi Sheehan, anarkisme merupakan sebuah tegangan antara dua kutub, antara kebersamaan dan kesendirian, antara komunisme dan individualisme, antara kekuasaan dan batas rasionalisme, antara asa dan putus asa, antara sikap menolak kekerasan dan pengakuan atas keterbatasan pasivisme, antara menikmati kesenangan yang ada sekarang dan mempersiapkan perlawanan terhadap kapitalisme.

Anarkisme tidak picik melihat kemajuan tak terelakkan dalam globalisasi sains dan teknologi terutama bidang transportasi dan komunikasi yang menjadi fondasi kemajuan ekonomi global. Tapi, pada saat yang sama, juga tidak lalai melihat bagaimana globalisasi dikemas dan disajikan dengan begitu culas. Dengan kata lain, kaum anarkis mengingatkan kita semua bahwa yang sedang kita jelang adalah sebuah dunia tempat Starbucks dan McDonald’s tersedia di mana saja dan BUKAN sebuah dunia di mana setiap orang akan berkecukupan untuk bisa makan enak di restauran. Yang ditolak anarkisme adalah kerangka pikir borjuis yang melihat hidup ini sebagai pertandingan di atas lapangan ekonomi: ada pemenang dan ada pecundang. Sungguh mengejutkan bahwa belakangan ini kita banyak mendapatkan karya-karya film yang meledek habis-habisan pola pikir seperti itu, dari Little Miss Sunshine hingga Into the Wild.

Ekonomi yang berjalan dia atas hukum penawaran dan permintaan (dan bukannya berlandaskan kebutuhan dan ketersediaan) mungkin memang bisa membuat orang bahagia, tapi hanya sebentar, untuk kemudian menemukan diri terasing dan menyadari: bahwa kartu kredit ini ada bukan karena kita memang demikian membutuhkannya, melainkan semata karena kalau kau punya kartu kredit ini, kau bisa mendapat potongan harga untuk bebek panggang madu yang kau makan di restauran A, atau dengan kartu kredit ini kau hanya perlu membayar satu untuk dua caramel latte yang kau pesan di kafe B. Kita hidup di zaman ketika hampir semua lini kegiatan ekonomi bergandeng tangan bahu-membahu untuk mendorong seluruh gerak individu hanya tertuju ke arah konsumsi.

Tangan-tangan kapitalis menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru setiap hari. Tiba-tiba saja kita merasa perlu untuk mengambil kredit kamera digital, semata karena ada tawaran diskon khusus yang menarik. Kita menelepon seseorang bukan karena perlu, melainkan semata-mata karena kini tarif pulsa berbicara semakin murah. Iklan-iklan dari operator telepon selular sudah sangat berlebihan, ekstrem dan tidak masuk akal. Hipermarket, supermarket, minimarket tumbuh di dalam kota seperti jamur di musim hujan. Sastrawan dan aktivis pada LSM Masyarakat Miskin Kota Afrizal Malna menyebut itu sebagai “teror”, dan “Tubuh menjadi mengerikan dan rapuh, berhadapan dengan teror seperti ini.” Dalam cerpennya yang berjudul Menanam Karen di Tengah Hujan, Afrizal dengan sangat bagus menciptakan tokoh “anarkis” yang menganjurkan orang lain untuk tidak perlu membayar belanjaannya di supermerket.

….sambil melempar-lempar telur-telur mentah ke berbagai sudut bangunan. “Ambil setiap yang kau suka, seperti kita memeras diri sendiri selama ini. Ini bukan soal moral. Ini semata soal ekonomi. Soal kesewenang-wenangan, yang dibuat resmi lewat insitusi-institusi ekonomi.” ….kemudian memanjat salah satu rak kue-kue kering…melempar kaleng minuman yang telah kosong…ke arah kasir. “Setiap pajak yang kamu bayar dari setiap belanjaanmu, tidak pernah peduli dengan hari esokmu. Kita tidak wajib percaya bahwa ada hari esok, pada setiap lembar uang yang kita miliki….”

Layaknya isme-isme lain di dunia yang hari ini kita pandang sebagai “warisan”, anarkisme hanyalah salah satu cara untuk mengada, sumber kearifan yang terbuka untuk ditengok kembali, salah satu jalan untuk mengembalikan kepercayaan kita bahwa masih ada hari esok, yang lebih baik, yakni ketika orang bekerja satu sama lain berdasarkan kebutuhan akan keadilan, secara sukarela, tanpa hieraki. Momen-momen semacam itu kerap personal sifatnya, atau hanya berlangsung dalam kelompok kecil, tapi tak menutup kemungkinan juga bisa bersifat publik.

Penulis adalah Alumni FISIP UNS Jurusan Komunikasi angkatan 1993

About ressay

Pada dahulu kala, ada seorang ibu yang hendak melahirkan anak pertamanya. ibu itu dengan susah payah, dengan tenaga yang ia miliki berjuang untuk mengeluarkan anaknya dari rahim. dan pada hari senin tgl 21 Juli 1987 lahirlah sesosok bayi yang imut, cakep, putih, lucu ke dunia ini. ketika bayi itu lahir, gemparlah seluruh dunia. daun-daun bersemi kembali. sungai yang tadinya kering menjadi di aliri air dengan derasnya. langit menurunkan airmatanya. bumi tidak mau kalah mengeluarkan tumbuhan yang berbunga indah. itulah tanda-tanda kelahiran sesosok bayi penerus bangsa ini.hehehehe....Amieeen..!! Ketika berumur 4 tahun bayi itu di masukkan ke TK Al-Irsyad. di situ ia di gembleng dengan kerasnya oleh guru2. dan ia menjadi salah seorang anak yang terpintar di TK tersebut. 2 tahun telah di lewati ia meneruskan pendidikannya di SD Al-Irsyad. 6 tahun kemudian ia lulus dari SD tersebut dan melanjutkan pendidikannya di SMP 3 Tegal. Namun, entah mengapa, orang tuanya membuang ke bandung. ia di masukkan ke sebuah SMA Favorite seluruh Indonesia. sekolah itu bernama SMU (Plus) MUTHAHHARI BANDUNG. Sekarang, anak itu sedang berjuang di fak. Hukum UNS SOLO Hobi anak itu adalah main musik. ia bercita-cita untuk menguasai bangsa ini, dan memimpinnya dengan sebaik-baiknya.

Posted on Juni 28, 2008, in Artikel and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: