Kampanye Politik, Stop Gunakan Bahasa Langit!

Oleh: Syailendra Wisnu Wardhana

Dalam negara demokrasi seperti di Indonesia, kebebasan untuk berbicara dijamin dengan undang-undang, termasuk di dalamnya juga kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan berpendapat baik secara lisan maupun tulisan (Pasal 28 UUD 1945).


Semua orang bebas berbicara sesuai dengan kehendak dan tujuan mereka masing-masing. Termasuk juga kebebasan untuk berkampanye untuk tujuan politik.


Pelaksanaan demokrasi dalam negara demokrasi modern seperti di Indonesia sudah tidak mungkin lagi dilakukan dengan cara langsung seperti di zaman Yunani kuno yang menggunakan sistem demokrasi langsung. Sistem demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.


Pada masa Yunani kuno masih dimungkinkan untuk melangsungkan demokrasi langsung karena disebabkan oleh beberapa faktor antara lain wilayah negara pada saat itu yang belum terlalu luas dan hanya berbentuk negara kota (polis), jumlah warga yang belum terlalu banyak, dan masalah masyarakat yang ada pada saat itu yang belum terlalu kompleks. Pada masa sekarang ini, rata-rata wilayah negara sudah sangat luas, rakyatnya banyak, dan masalah yang terjadi dalam masyarakatnya mulai kompleks.


Hal tersebut tidak memungkinkan bagi negara demokrasi modern seperti Indonesia menerapkan sistem demokrasi langsung. Untuk mempertahankan konsep dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat maka salah satu caranya adalah dengan menggunakan sistem pemilihan umum (Pemilu).

Pemilu merupakan sebuah sendi demokrasi. Pemilu digunakan untuk memilih wakil-wakil rakyat. Wakil-wakil rakyat yang akan menduduki jabatan di pemerintahan dipilih oleh rakyat melalui partai-partai politik yang ada. Untuk mendapatkan kursi dalam jabatan di suatu pemerintahan, dibutuhkan suara yang cukup yang diberikan oleh rakyat dalam Pemilu. Untuk memenuhi jumlah suara itulah digunakan cara kampanye.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kampanye berarti kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan di parlemen dan sebagainya untuk mendapatkan dukungan masa pemilih dalam suatu pemungutan suara.


Dalam kampanye untuk memenangi Pemilu, partai politik melangsungkan kampanye dengan gencarnya. Mengumbar janji-janji yang indah untuk masyarakat. Tidak jarang, mereka menggunakan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti yang katanya bahasa intelektual. Terkadang masyarakat menyebut dengan bahasa langit, bahasa yang hanya digunakan kaum-kaum terpelajar. Entah, apakah nantinya janji-janji itu akan ditepati atau tidak. Rakyat butuh bukti, bukan hanya janji.


Kasus korupsi

Kenyataannya, kebanyakan wakil-wakil rakyat yang duduk dalam pemerintahan bukannya menepati janji untuk menyejahterakan rakyat, tetapi justru mengeluarkan kebijakan yang sering kali merugikan masyarakat. Kebijakan terakhir yang dirasa merugikan rakyat adalah kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Kenaikan BBM membuat kepercayaan masyarakat terhadap eksekutif mulai berkurang. Itu baru dari bidang eksekutif. Belum lagi kasus-kasus yang menyandung para pejabat di tataran legislatif. Kepercayaan masyarakat yang diberikan dijawab oleh para anggota Dewan yang terhormat dengan kasus korupsi, atau perbuatan lain yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh seorang anggota Dewan.


Al Amin Nasution yang tersangkut kasus korupsi, atau Max Moein yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap asisten pribadinya, membuat kepercayaan masyarakat terhadap para wakil rakyat pun mulai menurun. Hal tersebut diperparah dengan keadaan bahwa Badan Kehormatan (BK) DPR tak banyak bergerak menyikapi kasus-kasus ini, membuat masyarakat semakin tidak percaya.


Bukti nyata mulai berkurangnya kepercayaan masyarakat kepada para wakil rakyat adalah tingginya tingkat Golput dalam beberapa pemilihan gubernur yang diselenggarakan di beberapa daerah di Indonesia. Ambil sajalah contoh Pilgub Jateng, beberapa waktu yang lalu. Tingkat Golput mencapai 45,84% dari total pemilih di Jateng.
Apakah dengan tingkat Golput yang sedemikian tinggi dapat dikatakan mewakili masyarakat Jateng? Apakah calon gubernur terpilih adalah gubernur yang diinginkan rakyat Jateng?


Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu selanjutnya, terutama Pemilu 2009, tugas partai politiklah untuk dapat menarik minat masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan kampanye. Tetapi bukan kampanye yang menggunakan bahasa langit, bahasa yang membodohi masyarakat, bahasa yang hanya memberikan janji bagi masyarakat, namun realisasinya nol, susah diwujudkan.


Apapun partainya, akan menjanjikan kesejahteraan masyarakat. Namun dalam kenyataannya sama saja. Rakyat masih susah. Janji yang dulu diberikan hanya sebatas janji, keadaan ini membuat kepercayaan masyarakat kepada wakil rakyat berkurang. Janganlah berjanji terlalu tinggi jika sulit ditepati. Gunakan saja target realistis selama masa jabatan yang akan diembannya. Dan jika nantinya terpilih, mulai lakukan perubahan. Rakyat butuh bukti, bukan janji! –

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum UNS

Sumber: SOLOPOS

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Juli 15, 2008, in Artikel. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Yang anda tulis itu benar adanya, aku setuju.
    Tapi itu baru sebatas opini…Solusinya bagaimana?

  2. Betul, kasih solusi donk ? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: