MENGKHAWATIRKAN GERAKAN MAHASISWA

Oleh: Arif Giyanto

Belakangan, batin bangsa ini kembali terenyuh. Buntut kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM kembali menggerakkan mahasiswa untuk turun ke jalan. Seperti yang sudah-sudah, mereka memprotes kebijakan tersebut lantaran dinilai semakin menambah penderitaan rakyat kecil.

Entah skenario apa yang ada di balik semua ini, rekaman media atas pembakaran mobil dan perobohan pagar gedung MPR/DPR-RI tiba-tiba lebih dominan daripada isu yang mereka usung. Ratusan mahasiswa juga ditangkapi aparat kepolisian karena dianggap perusuh, dan hingga kini, proses ini belum berakhir.

Pada posisi objektif, tindak kekerasan atas nama apa pun tentu akan menggelisahkan banyak pihak. Berderet fakta dapat ditemukan pada referensi sejarah-sejarah bangsa yang pernah ada di dunia ini. Selain itu, perilaku kekerasan juga mencerminkan budaya masyarakat yang belum terdidik dan bar-bar.

Namun, untuk menilai protes mahasiswa atas naiknya harga BBM yang berakhir dengan pembakaran mobil sebagai anarki, bahkan diarsiteki oleh beberapa aktor intelektual tentu berlebihan. Selain tidak mencerminkan budaya konsolidasi bangsa yang baik, sikap pemerintah yang lebih memosisikan gerakan mahasiswa sebagai lawan politik adalah preseden. Perkara ini menjadi semakin rumit bila kemudian, mahasiswa dianggap perusak tatanan demokrasi, lantaran perilaku mereka yang dianggap tidak taat hukum dan tidak menghormati hak-hak masyarakat.

Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Moral?

Pertanyaan serius khalayak tentang kemurnian gerakan mahasiswa harus segera dijawab. Siapa pun pantas untuk memberikan penjelasan tentang hal ini. Sebab, tanpa perkembangan opini yang seimbang, gerakan mahasiswa hanya akan tampak sebagai menu rebutan opini dan akan diarahkan pada kepentingan kelompok-kelompok tertentu untuk menguatkan posisi politiknya.

Umumnya, konfigurasi politik memang sering melibatkan gerakan mahasiswa. Sebagai komunitas yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap carut-marutnya bangsa, gerakan mahasiswa jelas sangat reaktif dalam menyambut isu-isu oposisi yang biasanya, mengatasnamakan kepentingan rakyat. Dengan reputasi moral yang relatif terpercaya, gerakan mahasiswa bahkan sangat menggiurkan bagi kelompok politik mana pun. Sebab, bila gerakan mahasiswa selaras dengan isu bikinan mereka, simpati publik tentu akan semakin membesar.

Bila kemudian gerakan mahasiswa menjadi sangat dekat dengan kekuatan politik praktis, tentu ini merupakan perkara serius. Selain karena peran ekstraparlementer mereka selama ini, gerakan mahasiswa sering menyuarakan kegelisahan moral; bukan pesanan atau skenario kelompok politik tertentu. Independensi gerakan membuat eksistensi mereka terasa sangat kuat di mata publik.

Tanpa independensi etis dan organisatoris, gerakan mahasiswa akan sangat gampang dideteksi sebagai pengikut kekuatan politik tertentu. Kedisiplinan untuk mempertahankan kemoderatan gerakan mereka sangat ampuh untuk mengontrol progresivitas kekuatan-kekuatan politik yang bisa jadi, lebih berpihak pada kekuasaan tiran ketimbang rakyat kecil. Ditambah dengan komitmen akademis mereka, kesan tentang bersihnya gerakan mahasiswa dari pengaruh elite politik menjadi sangat perlu di tengah ketidakpercayaan publik pada aktor-aktor politik yang telanjur buruk.

Jadi, pada konteks kritisme gerakan mahasiswa secara genuine sangatlah sulit dikategorikan sebagai mesin politik kelompok tertentu. Sebab, hal tersebut justru akan mengaburkan karakter mereka selama ini. Perkara kemudian ada beberapa kelompok mahasiswa yang tertarik untuk masuk dalam lingkaran politik praktis, itu perihal pilihan yang perlu ditelaah lebih dalam, sebelum terburu-buru menganggapnya buruk.

Surutnya Gerakan Mahasiswa

Pasca gerakan reformasi 1998, ada beberapa hal penting yang bisa dicatat dari gerakan mahasiswa. Pertama, mahasiswa kesulitan mengawal enam visi reformasi. Pemerintahan Habibie, Gus Dur, dan Megawati memang disibukkan dengan isu gerakan mahasiswa yang menuntut penurunan presiden. Namun, setelah SBY-Kalla berkuasa, model gerakan ini tidak lagi menemui pasarnya. Sulitnya, publik tak lagi bersimpati dengan isu-isu serupa lantaran dikhawatirkan destruktif ketimbang menghasilkan solusi menjanjikan. Hasilnya, mahasiswa pun kesulitan menegakkan eksistensinya di mata publik.

Kedua, pasar bebas diberlakukan di Indonesia menggantikan kapitalisme negara Orde Baru. Kompetisi global akhirnya membaiat gaya-gaya neo-liberalisme seperti privatisasi, penghilangan batas-batas negara, dan berkuasanya informasi. SDM Indonesia, terutama mahasiswa, lantas kesulitan beradaptasi dengan tren ini. Para mahasiswa pun tak lagi tertarik membicarakan gerakan mahasiswa, lantaran seperti tak berkaitan erat dengan masa depan mereka kelak. Rata-rata dari mereka berpikiran cepat lulus agar biaya pendidikan mereka tidak terus membengkak, sementara tak ada jaminan dari kampus tempat mereka belajar pada pekerjaan yang layak setelah lulus.

Konsentrasi Ganda

Semakin susahnya mengawal gerakan yang sarat dengan tanggung jawab moral itu akhirnya membentuk pola baru gerakan mahasiswa. Sebab, untuk membangun konsolidasi internal gerakan yang semakin kompleks, mempertahankan eksistensi, dan berpikir masa depan dalam satu bingkai pikir tentu bukanlah hal mudah. Apalagi, lantaran rumor tentang gerakan mahasiswa yang sering ditunggangi kelompok politik tertentu terus merebak, publik pun mulai meragukan independensi mereka.

Betapa rumit kondisi mereka. Di satu sisi, gerakan mahasiswa disibukkan oleh kesungsangan agenda internal yang belum terencana sempurna, sementara di sisi lain penetrasi berbagai kelompok politik untuk melibatkan mereka pada aktivitas politik praktis juga menawarkan janji-janji yang menyilaukan. Praktis, gerakan mahasiswa pun menjadi tersendat, hanya karena tidak adanya prioritas untuk bergerak. Parahnya, setelah terkatung-katung pada pilihan-pilihan yang sulit, dengan gampang mereka akan disusupi kepentingan politik praktis yang justru, semakin menyulitkan mereka.

Jadi, gerakan mahasiswa harus dikembalikan pada koridor moral dan pembenahan internal serius. Karena, apa pun alasannya, pemuda adalah tumpuan bangsa ini di masa depan. Penanaman nilai-nilai kebangsaan dan cara hidup berdikari tentu akan sangat penting bagi eksistensi bangsa untuk berkompetisi di tengah bangsa-bangsa lain di dunia. Pemuda juga sangat penting dalam menetralisasi rakusnya kelompok kepentingan pada kekuasaan.

Mahasiswa dapat membangun kelompok-kelompok diskusi kritis berikut silabus khusus pengembangan diri. Di sana, transformasi ideologis dapat dilangsungkan dan lahirlah komunitas kecil yang ideologis. Forum-forum kecil seperti ini dapat diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa, baik intelektual maupun spiritual.

Kalau pun ada rekomendasi untuk menggelar demonstrasi, semua itu telah melalui pembahasan sistematis di tataran internal gerakan mahasiswa, bukan reaktif atau temporer. Dengan begitu, gerakan mahasiswa akan steril dari politik praktis, karena ditunjang konsolidasi yang memadai dan terukur.

Tawaran ini jelas tidak diarahkan untuk menghilangkan budaya kritis mahasiswa. Sah-sah saja bila mahasiswa terus mendesakkan agenda-agenda perubahan versi mereka. Namun, sekali lagi, bila konsentrasi mereka masih berkelindan dengan pengaruh berbagai kelompok politik yang sarat dengan kepentingan politik praktis maka reputasi mereka akan semakin memburuk.

Lebih jauh, kampus harus mulai berpikir tentang integrasi agenda gerakan mahasiswa dengan rutinitas akademis. Selama ini, aktivitas gerakan mahasiswa sering dipisahkan dengan kegiatan perkuliahan yang menurut kampus, lebih baik. Semestinya, kampus membersamai kritisme gerakan mahasiswa pada koridornya dengan tanpa menomorduakan kuliah. Sebab, tanpa kebersamaan yang intens, gerakan mahasiswa justru akan sangat merepotkan kampus, lantaran lebih tertarik beroposisi pada kampus.

Akhirnya, gerakan mahasiswa akan semakin dicintai rakyat, lantaran komitmen mereka yang asli lahir dari mereka; bukannya pesanan kelompok-kelompok kepentingan yang ada. Adalah benar bahwa bangsa yang dewasa akan selalu mencintai generasi mudanya seperti menyayangi diri mereka, bagaimanapun keadaannya.

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Juli 27, 2008, in Artikel and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Terimakasih informasinya.
    Saran saya mahasiswa tetap melakukan gerakan moral secara kritis, medianya dapat melalui demontrasi damai, diskusi, atau pemberdayaan masyarakat.
    Saat ini masyarakat sedang menghadapi kesulitan yang berat. Pada satu sisi masyarakat terancam kemiskinan (dan tentu kelaparan), di sisi lain, masyarakat kesulitan mendapat akses untuk keluar dari kemiskinan.
    Oleh karena itu, para mahasiswa sepatutnya menjadikan kesulitan masyarakat ini sebagai bahan pertimbangan perjuangan.
    Untuk share silahkan klik “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com

  2. Baiknya jika gerakan mahasiswa bukan hanya menjadi gerakan sinterklas yang membagi-bagikan hadiah, sembako, uang kepada rakyat miskin. Tapi gerakan mahasiswa juga harus mampu memberdayakan masyarakat kelas bawah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: