Padamu Negeri

Padamu negri kami berjanji

Padamu negri kami berbakti

Padamu negri kami mengabdi

Bagimu negri jiwa raga kami…

Lagu Padamu Negri sangat bermakna bagi orang Indonesia di masa lalu. Bukan hanya karena kandungan makna yang ada didalamnya, tapi juga memang lagu ini telah memberikan maknanya kedalam setiap orang yang menyanyikan dan mendengarnya. Sehingga sekian waktu yang lalu, lagu ini telah memberikan satu kekuatan semangat dan tekad pada orang Indonesia untuk memperjuangkan tanah air dan negerinya.

Tanpa harus membahasnya secara syariat apakah makna kata berbakti dan mengabdi hingga menyerahkan jiwa raga untuk negara dapat dibenarkan oleh syariat atau tidak. Adakah ungkapan itu dapat merusak tauhid seseorang atau tidak. Tentu pembahasan ini akan menarik kalau saja dengan hati yang tenang dan dengan landasan keIslaman yang kuat dan ketauhidan yang mendalam. Karena kata-kata ini dapat bermakna dalam tanpa harus merusak keimanan kepada Allah dan agama serta tidak akan merusak nilai tauhidnya. Malah lagu ini dapat menjadi barometer pelaksanaan Islam bagi muslimin di manapun dia berada.

Lagu Padamu Negri ini, sekarang sudah banyak dilupakan oleh orang Indonesia, terutama generasi mudanya. Generasi yang akan membangun Negara Indonesia. Ini dapat kita buktikan dengan mudah, yaitu dengan mencari sekian banyak anak-anak yang dapat menyanyikan lagu ini. Maka hasinya akan mengejutkan, karena sekian banyak mereka tidak bisa menyanyikannya, karena mereka telah meletakkan otaknya untuk menghafal lagu lagu dari penyanyi yang sedang populer sekarang ini. Jadi mereka  akan dengan mudah menyanyikan lagu dari penyanyi yang sedang ada di papan atas, tapi lagu kebangsaan yang membangkit  semangat juang ini sudah lama tidak terdengar dan didengarkan.

Tentu banyak alasan kenapa hal ini terjadi, dan sekian banyak alasan yang dapat kita katakan untuk menjawab kenapa hal ini terjadi. Mulai dari masalah ekonomi yang mengakibatkan kemiskinan, hingga masalah politik yang membuat masyarakat putus asa memikirkan masa depan bangsanya. Dapat juga dikatakan alasan yang kuat kalau dinyatakan bahwa kaum muda tidak mengumandangkan lagu ini lagi karena sudah terjadi pergesaran nilai atas keyakinan dan harapan masa depan bangsa, atau terjadi pergesaran nilai budaya yang sedang merubah manusia Indonesia dengan budaya lain. Juga terjadi pergesaran nilai militansi kebangsaan atau nilai nasionalisme yang sudah tidak lagi di pacu untuk dimilki oleh setiap anak bangsa Indonesia. Yang pasti, nilai patriotisme sudah mengalami karosi dan pengkaratan karena banyaknya limbah budaya yang diekspor dari bumi lain ke Indonesia.

Kenyataannya adalah kita melihat bahwa mulai dari bawah hingga keatas nilai untuk bangsa sudah nyaris tidak ada, tapi nilai pribadi merupakan dominasi setiap individu. Masyarakat sudah kehilangan nilai masyarakatnya, nilai kebersamaan sebagai satu anak bangsa, yang ada adalah mendahulukan kepentingan pribadi demi mengambil keuntungan dari masyarakat. Dengan kata lain, bahwa masyarakat adalah lahan untuk mendapatkan keungungan bagi pribadi. Sehingga tidak heran kalau didapatkan sekian puluh dari jumlah wakil rakyat yang ada di DPR tersangkut dengan kasus korupsi.

Bagaimana hendak membayangkan, karena sangat sulit untuk dapat dibayangkan, kalau wakil rakyat telah melakukan hal itu maka bagaimana hendak menilainya? Dengan apa yang semustinya, atau dengan hal yang tidak semustinya?!. Wakil rakyat dianggap oleh institusi dan juga dianggap oleh rakyat adalah wakil pilihan rakyat, yang tentunya mereka adalah mewakili inspirasi rakyat, tetapi pada kenayatanya mereka justru menjadi drakula bagi rakyat dan menghisap kehidupan rakyat. Ada dua kemungkinan kenapa hal itu terjadi.

Kemungkinan pertama: Rakyat telah salah memilih, yaitu rakyat telah dibohongi dengan sandiwara kampanye atau instrumen lain sehigga rakyat tidak dapat melihat dengan pasti siapa wakil pilihannya.

Kemugkinan kedua: Wakil rakyat telah mengkhianati amanat rakyat. Hal ini pun membawa dua kemungkian, yaitu memang rakyat salah memilih atau karena watak wakil rakyat yang memang bejat, sehingga mereka telah berani mengkhanati amanah tersebut dan berpesta diatas jerit tangis rakyat.

Kedua kemungkinan ini tidak lain adalah putaran yang sangat sensitif kalau dilihat dari kaca mata nasinalisme atau patriotisme bangsa. Wakil rakyat adalah rakyat itu sendiri, yaitu mereka yang ada diantara rakyat, yang semestinya rakyat dan masyarakat mengatahui dia dengan baik, sehingga rakyat tidak akan memilih dia kalau saja dia tidak baik, karena rakyat hendak memilih manusia yang hendak membawakan inspirasi mereka. Sehingga kalau saja personal ini tidak diketahui, berarti adanya dinding pemisah antara rakyat dengan orang tersebut sehingga tuduhan pada mekanisme pemilihan, yaitu pemilihan hanyalah satu mekanisme yang tidak membawakan nilai etika dan kebersamaan serta militansi nasionalisme dan patriotisme. Yang ada hanyalah rakyat harus memilih karena tidak mau kehilangan haknya memilih, tanpa mengetahui siapa dan bagaimana mereka yang akan membawakan aspirasi mereka.

Dari kedua kemungkinan ini juga terbuka kemungkinan lain bahwa masyarakat –umum, rakyat dan wakilnya – telah dipermainkan instrumen politik yang bernama partai. Yaitu partai dimana rakyat berkumpul hendak mengutarakan inspirasi dan aspirasinya telah digunakan oleh orang tertentu untuk membawa keuntungan pribadi sendiri, atau kelompok yang menguntungkan sebahagian dari pada partai itu. jadi keuntungan bukan hanya tidak terbatas pada partai tapi lebih kecil dari sekedar partai, personal dan atau kelompok yang ada di partai itu. Yang terjadi adalah eksploitasi manusia dalam mengusai manusia, sekalipun kelompok yang mendukungnya. Maka sulit untuk dibayangkan manusia macam apa ini. Dengan jerih payah orang lain, dia hendak mengambil keuntungan darinya. Jadi orang yang telah berjuang untuk mendapatkan suatu kekuatan, maka ketika kekuatan itu sudah di dapatkan maka orang yang lain hendak menggunakan kekuatan itu demi keuntungan dan perut sendiri.

Sudah harus diterima sebagai konsekwensi logis dari putaran fenomena ini, karena dengan sebab yang ada pastilah akibatnya tidak akan keluar dari apa yangmenjadi motivasi sebab tersebut. Kita tidak akan mengatakan bahwa orang pandai telah mengusai orang bodoh, tidak – disini bukan permasalahan orang pandai mengusai orang bodoh. Karena kalau orang pandai maka dia akan membentuk keuntungan semua sehingga akan terjadi keuntungan yang merata sehingga setiap keuntugan akan terjaga dengan baik, yaitu semua nilai sudah terkandung didalamnya. Karena dengan adanya keseimbanan keuntungan maka keuntungan setiap pribadi akan terjaga, karena satu sama lain merasa bahwa telah terjadi pembagian keuntungan sesuai dengan kadar pengorbanan (baca: usaha) yang diberikannya. Tapi  dengan apa yang terjadi dari fenomena diatas, adalah mereka adalah sekumpulan manusia yang tidak beretika dan tidak memiliki semangat kebersamaan apakah semangat nasionalisme dan patriotisme, jauh dari ini. Mereka tidak lain adalah seorang maniak egois yang psikopat atau kata jelasnya adalah drakula bermuka manusia. Karena orang ini adalah mereka  yang telah tega melihat orang lain mengorbankan semua untuk dirinya dan dia merasa bahagia dengan keuntungan dari pengorbanan yang dilakukan orang lain itu. Dia bersuka ria dengan semua derita dan penderitaan orang yang membawakan keberuntungan bagi dirinya. Yang aneh inilah gejala nasional, dan dapat dilihat dengan nyata dalam kehidupan sehar-hari di Negara yang kita katakana cinta padanya – Indonesia -. Fenomena ini adalah keseharian dari rakyat Indonesia.

Kemungkinan yang lain. Telah terjadinya tata nilai nasional sehingga semua merasa hal inilah merupakan hasil dari apa yang diusahakan mereka. Jadi semua tidak melihat hal ini sebagai satu kesalahan, malah sebaliknya,  hal inilah yang harus diterima. Kalau ini sudah terjadi, maka tidak akan dapat dibayangkan betapa hancurnya bangsa dan negara Indonesia ini. Maka kita akan tolak kemungkinan ini, sekalipun mungkin terjadi, karena tentunya setiap kesalahan akan dirasakan oleh yang lain, sehingga yang lain akan mencoba membenahinya. Sulit untuk dibayangkan ketidaktahuan nasional terhadap kesalahan bersama. Karena tidak ada kesepakatan untuk melakukan kesalahan tersebut.

Maka bagaimana dengan bangsa dan Negara, bagaimana dengan rencana berbakti dan pengabdian dengan kesiapan untuk mengorbankan jwa dan raga. Atau ini hanya sekedar lagu lama yang sudah usang dan tidak patut didengar lagi, karena sekarang sudah ada lagu yang membawa kita lupa dengan liukan tubuh penyanyinya atau gerak patah yang menyertai lagu dari negeri antah berantah itu.

Indonesia sekarang telah kehilangan banyak nilai. Bukan hanya kehilangan lagu nasional karena sudah tidak dikumandangkan lagi, tapi rakyat Indonesia telah kehilangan semangat bakti dan pengabdian pada negaranya. Janji yang diberikan tidak lebih dari pada acara serimonial yang dijadikan sebagai penyemangat satu kode etik untuk dimulainya aktifitas penindasan hak-hak rakyat yang dilegalisir oleh semua.

Tidak…. Indonesia masih meninggalkan sebahagian penyanyi Padamu Negri, kalaupun mereka bukan penyanyi lagu itu, tapi mereka mengingatkan setiap kata yang ada pada lagu itu dan berusaha untuk berbakti dan mengabdi  pada Negara dan bangsa indonesia dengan seluruh jiwa dan raganya. Mungkin sedikit, tapi sedikit ini adalah cukup banyak untuk satu usaha membenahi masa depan yang tampaknya telah menjadi reruntuhan nilai itu.

Selalu masih ada, dari sekian banyak, masih ada jumlah yang siap melakukan pengorbanan untuk membela hak dan nilai bangsa Indonesia yang dicintainya. Karena ini merupakan hukum alam. Tidak akan ada kebatilah tanpa ada kebenaran sebagai lawannya, dan tidak ada penindasan kalau tidak ada yang ditindas….dan orang yang ditindas ini nanti akan muncul dikemudian hari sebagai pembela kebenaran itu. mungkin mereka sekarang ditindas atau dibodohi, tapi alam akan mengajarkan pada mereka nilai perjuangan dan pengabdian untuk sampai pada nilai sempurna yang patut dinikmati oleh setiap orang. Untuk itu mereka siap memberikan jiwa dan raganya.[IM/R]

Sumber: IM

About hmibecak

Kami adalah sebuah organisasi kemahasiswaan eksternal kampus Fakultas Hukum yang bergerak di lingkup kampus UNS Surakarta. Kami selaku OKP yang bergerak di dalam kampus selalu berusaha untuk mengusung berbagai isu kampus FH UNS pada khususnya dan UNS itu sendiri pada umumnya. kami juga selalu berusaha untuk bekerjasama dengan element eksternal lainnya dengan tujuan selain untuk mendukung usaha kami juga untuk membina tali silaturahmi kami dengan rekan seperjuangan dan sejalan dengan tujuan kami. personel kami terdiri dari mahasiswa Fakultas Hukum UNS dari segala angkatan, baik yang sekarang duduk di kursi kepengurusan atau berstatuskan anggota.dan rencana kami dalam waktu dekat ini akan berusaha untuk meningkatkan kader HMI kami, baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. Amienn.. YAKIN USAHA SAMPAI

Posted on Agustus 8, 2008, in Artikel. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. niy tulisan siapa?

    kader HMI uns ya?

    hebat euy……….!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: