Dekonstruksi Identitas Muslim

Dekonstruksi Identitas Muslim

Oleh: Aulia Latif

Apa yang kita kenal dengan konsep mengenai identitas? Mungkin lebih khusus, apa yang anda jawab apabila ditanya siapakah anda? Saya yakin, sebagian besar dari kita akan menjawab dengan menyebutkan nama. Apakah itu sudah menjawab apa yang disebut dengan identitas? Pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu membayangi manusia sepanjang hidupnya, entah disadari atau tidak. Jelasnya, identitas selalu berubah sifatnya tidak mutlak sepanjang waktu. Sedikit pencerahan mungkin akan kita peroleh jika membaca tentang strukturalisme, yang akan saya pakai disini adalah konsepnya mengenai oposisi binernya yang nantinya akan kita bahas dengan pembacaan dekonstruktif. Terkait dengan tema yang akan dibahas tentang muslim sebagai identitas, pertama-tama harus dipahami bahwa siapapun yang menyebut dirinya muslim adalah orang yang beragama Islam. Dan, identitas muslim ini menjadi muncul karena ada orang yang beragama lain. Identitas adalah bentuk dari penandaan yang diperoleh dari konsep dengan pembandingan dengan yang lain (the other, dalam literatur berbahasa Indonesia sering dipakai kata liyan-pen).

Dengan kata lain, secara ekstrem (bagi sebagian besar orang yang mengidentifikasikan diri sebagai muslim, tapi biasa saja dalam kerangka strukturalis)- identitas muslim dikenal karena ada yang bukan muslim sebagai liyan. Apa yang akan terjadi apabila semua orang dimuka bumi beragama Islam, apakah identitas muslim dapat dipertahankan? Tentunya menjadi buyar seluruh konsepsi identitas muslim. Selanjutnya implikasi dari disadarinya hal ini adalah memikirkan kembali mengenai pandangan pluralistik, keberagaman dan toleransi pada yang lain/ liyan. Mengapa demikian, karena jika tak ada yang lain, identitas yang kita peroleh akan hilang bersama keseragaman. Pandangan mengenai yang lain sebagai musuh abadi perlu diubah, betapapun besarnya rasa tidak suka terhadapnya- liyanlah yang menunjukkan identitas kita.

Semua manusia pernah dilahirkan, dari proses membuka mata hingga memakai bahasa. Prosesnya dilalui dibantu dengan yang lain, misalnya diberikan nama oleh orangtua (berlaku sebagai liyan), hingga diperkenalkan dengan agama. Betapa lemahnya kita tanpa ada yang lain (liyan) sebagai tonggak penandaan. Manusia akan terombang ambing tanpa identitas.

Identitas muslim yang dikenal tidaklah berakhir, hanya sampai pada orang beragama Islam. Selanjutnya ada konsep identitas muslim sejati yang dikenal dengan insan kamil. Definisi dari insan kamil sendiri pun beragam, pendekatan terakhir yang cukup fenomenal adalah yang dilakukan oleh Muhammad Iqbal, filsuf muslim dari Pakistan yang nge-trend dengan bukunya “Reconstruction of Religious Thought in Islam”. Secara lebih konkret dicontohkan oleh Rasullullah, namun keautentikannya tidak dapat kita saksikan karena hidup dizaman yang berbeda. Iqbal menyatakan bahwa insan kamil adalah co-creator Tuhan atau bahasa klasiknya khalifatul fil ardhi. Saya menggunakan Iqbal sebagai contoh karena rasanya sedikit lebih mengerti dibandingkan dengan konsep pemikir lain. Disini saya tidak akan mengotak-atik definisi dari kategorisasi dari definisi insan kamil, tetapi implikasinya secara praktis. Membacanya memberikan saya gambaran mengenai Tuhan yang menciptakan perbedaan seharusnya manusia juga mengafirmasi perbedaan yang ada. Jadi identitas insan kamil dalam persepsi saya bukan lagi menjadi identitas sebagai yang berbeda dari lainnya, tapi bagaimana me-manage perbedaan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.

Sebagai tulisan singkat beritupun kesimpulannya, singkat saja, mulai dari konsep identitas (muslim) hingga idealisme identitas (insan kamil) dapat dibaca dengan menangkap identitas muslim dari yang lain dan mengimplementasikannya sebagai pembawa kebahagian bagi yang lain. Bukan sebagai yang benar memusuhi yang salah. Dalam persepsi saya, Rasulullah mencontohkan demikian. Mungkin saja pengkafiran diantara sesama orang beragama Islam (baca: masih meyakini Tauhid secara utuh -rukun islam-pen) yang sedang mewabah saat ini dibutuhkan dalam rangka memperkuat identitas muslim yang “paling benar”.

NB : Tulisan yang singkat ini sangatlah jauh dari bagus dan seterusnya akan terbuka bagi kritik.Semoga bermanfaat….

Posted on Juni 7, 2009, in Artikel. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Sedikit urun pendapat ah. Walaupun sebetulnya agak sedikit takut. karena pendapat saya ini agak berbeda dengan penulis yang telah menelan banyak buku-buku postmo. Opo meneh kuwi?

    Aku menangkap apa yang dipaparkan oleh penulis mengenai identitas. Kalau boleh sedikit mengkritik, aku ndak terlalu sepakat jika hal yang membedakan itu kemudian kita namakan sebagai identitas.

    Identitas sesuatu melekat dengan sesuatu itu sendiri walaupun tidak ada sesuatu diluarnya.

  2. salam.

    @ressay

    contohnya seperti apa mas ressay?? biar saya juga jelas ..
    klo menurutku idetitas memang melekat, tapi itu ada karena ada yang lain yang membuat identtas tu melekat..
    kalo bunga itu mawar semua, maka g perlu ada bunga mawar, cukup dsebut bunga..

    salam.

  3. Itu persoalan penamaan.

    Persoalan penamaan berbeda dengan persoalan identitas bung.

    Keberadaan sesuatu, sudah PASTI membawa identitasnya.

    Kalau itu kita hadapkan pada Tuhan (apapun itu namanya), maka identitas Tuhan melekat pada Tuhan semenjak Tuhan berada, walaupun Tuhan tidak menciptakan makhluk.

  4. Orang-orang yang memberikan jawaban identitas pada pertanyaan siapa anda, adalah orang yang kurang percaya diri. sangat sedikit orang yang dengan percaya diri menjelaskan siapa ia sebenarnya apabila di beri pertanyaan seperti itu. jadi identitas hadir karena mereka ingin ada yang sama dengan mereka, dan keinginan untuk masuk ke dalam sebuah golongan tertentu.

  5. salam.

    @ressay
    Iya keberadaan sesuatu pasti membawa identitas..
    tapi begini bang, pasti membawa identitas karena ada yang lain.. maksudnya ketika sesuatu hanya ada 1 tanpa ada yang lain apakah identitas tsb berlaku..
    misalnya, orang yang bertakwa ada karena ada karena ada yang kurang bertakwa atau lebih bertakwa..

    klo contohnya Tuhan, jika tidak ada manusia (yang lain, entah makhluk/benda lain) apakah identitas Tuhan itu berlaku??

    gitu bang..

    salam.

  6. Pada hakekatnya, identitasnya tetap ada walaupun tidak ada yang lain. Identitas itu sesuatu yang melekat pada sesuatu.

    Bedakah status dengan identitas? hayu….

    Kalau aku, identitas dengan status itu berbeda. Status itu dipengaruhi oleh faktor eksternal sesuatu itu. sedangkan identitas, tetap melekat pada sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: