KRISIS EKONOMI DAN KONSTELASI POLITIK LUAR NEGERI

by : Aldian Andrew Wirawan

Melihat sedikit ke akhir tahun 2008 jatuhnya Wall street di Amerika Serikat (AS) menyebabkan krisis ekonomi pasar global yang mengakibatkan jutaan orang kehilangan pekerjaan di seluruh dunia. Krisis kapitalisme modern ini terjadi akibat terlalu banyak uang yang berputar di pasar modal. Adanya investasi moneter tanpa disertai investasi riil menjadikan uang sebagai komoditas yang cepat datang tetapi juga cepat menghilang. Krisis kapitalisme ini bukanlah yang pertama terjadi di dunia. Sejak kapitalisme dipakai sebagai sistem dunia sudah beberapa kali krisis mengguncang. Yang pertama adalah krisis di tahun 1920an yang menyebabkan resesi di AS, kedua krisis pada tahun 1970an yang menimpa negara negara Eropa, ketiga krisis ekonomi yang menyebabkan jatuhnya perekonomian Asia dan terakhir di tahun 2008 adalah yang terparah dari semuanya sehingga menurut FAO lewat laporannya pada 28 Juni lalu akan menyebabkan 1,02 Miliar warga bumi kelaparan. Penanggulangan krisis kapitalisme inipun berbeda- beda namun yang jelas tidak bisa mengatasi kontradiksi yang terdapat dalam kapitalisme itu sendiri seperti yang dikatakan oleh Karl Marx. Jika pada awal abad 20 krisis ekonomi diatasi dengan perang dunia yang disebut Lenin sebagai perang imperialis,krisis kedua dengan kebijakan ekonomi pasar yang diperluas yang sering disebut neoliberalisme maka krisis kali ini belum jelas kemana akan berujung. AS sebagai pengusung utama sistem kapitalisme ternyata tidak bisa mengandalkan kekuatan pasar untuk mengobati krisis ekonomi tersebut sehingga harus meminta uang pajak dari rakyatnya untuk disuntikkan kepada perusahaan-perusahaan multinasional yang terancam kolaps. Yang menarik adalah dengan terpilihnya Obama sebagai presiden kulit hitam pertama diharapkan akan dapat membawa dunia dapat melewati krisis ekonomi dengan kebijakan yang berbeda dengan para pendahulunya, namun tampaknya tidak ada yang berubah dengan kebijakan ekonomi politik laur negeri AS untuk melakukan upaya tersebut jika dilihat apa yang terjadi dengan perkembangan politik dunia awal periode 2009ini.

Setelah Iran diguncang kerusuhan pasca pemilihan presiden yang menewaskan puluhan orang kemarin, dunia kembali dikejutkan dengan adanya peristiwa kudeta yang menimpa salah satu negara Amerika latin Honduras. Presiden yang terpilih secara sah Manuel Zelaya digulingkan oleh pihak militer dengan alasan karena dia berupaya merubah konstitusi agar memungkinkannya dipilih kembali (Solopos,30/5). Sebelumnya di Iran hasil pemilihan umum presiden yang dimenangkan secara mutlak oleh Ahmadinejad diwarnai unjuk rasa yang dimotori pendukung lawannya Mousavi yang berakhir dengan kerusuhan selama hampir seminggu. Melihat posisi negara yang sedang terguncang stabilitas politiknya tersebut tidak bisa dilepaskan dari apa kebijakan luar negeri republik islam tersebut. Iran sebagai negara penghasil cadangan minyak terbesar ke 3 di dunia sejak presiden Ahmadinejad berkuasa selalu memposisikan dirinya sebagai musuh dari Imperialisme AS. Lewat beberapa kebijakan yang dibuat pemerintah Iran seperti melakukan nasionalisasi tambang milik AS, menolak bergabung dengan WTO serta mengecam keberadaan Israel di Palestina, pihak Iran sudah beberapa kali mendapat tekanan dari pihak AS terkait pada isu nuklir. Ancaman serangan beberapa kali dilontarkan oleh AS ke negeri Mullah tersebut walaupun sampai saat ini belum terjadi kontak militer secara langsung. Kesulitan untuk melakukan agresi militer langsung ke Iran karena AS sendiri masih dikecam oleh dunia karena agresi militernya ke Irak dengan alasan memiliki senjata nuklir belakangan ternyata tidak terbukti. Maka momentum pemilihan presiden di Iran adalah momentum yang bisa ditunggangi oleh AS dan sekutunya untuk memecah kedaulatan Iran dari dalam. Namun demikian rakyat Iran bisa bertahan dari perpecahan setelah kerusuhan berhasil diredakan oleh Garda Revolusi Iran sebagai penjaga tidak resmi revolusi negara republik Islam Iran. Empat orang berkewarganegaraan Inggris sekarang sedang diperiksa berkaitan dengan kasus kerusuhan ini, Ahmadinejad pun meminta Obama bertanggung jawab atas kerusuhan yang dibuat di negerinya lewat pernyataan keras sehari setelah kerusuhan mereda.

Sedangkan Honduras adalah negara di Amerika Latin yang sekarang dikenal dekat dengan negara berhaluan kiri seperti Venezuela, Ekuador dan Nikaragua. Seperti diketahui negara- negara di Amerika Latin telah membentuk Aliansi Alternatif Bolivarian (ALBA) untuk membendung laju imperialisme AS. Gerakan ini semakin besar setelah terpilihnya beberapa pemimpin negara benua amerika tersebut yang berhaluan kiri seperti Hugo Chavez,Evo Moralez dan Daniel Ortega. Kekuatan ekonomi AS di Amerika Latin jelas terganggu dengan kehadiran pemimpin yang dianggap berseberangan dengan kebijakan Pemerintah AS untuk meliberalkan pasar di seluruh dunia. Aliansi negara penghasil minyak ini melakukan perlawanan terhadap AS karena resep AS untuk mengatasi krisis ekonomi di Amerika Latin pada tahun 80an justru membuat negara negara berkembang tersebut jatuh ke krisis ekonomi yang lebih dalam lagi (Petras,2001). Honduras dipilih AS sebagai negara pertama yang bisa mempengaruhi negara-negara tetangganya jika berhasil dikuasai secara tidak langsung oleh AS lewat kudeta militer. Sehari setelah kudeta pernyataan dari pemerintah AS justru menunjukkan keberpihakan mereka terhadap oposisi yaitu pihak militer padahal jelas sikap seperti ini menunjukkan standar ganda mereka yang selalu mengutamakan demokrasi dan supremasi hukum. Semakin terlihat bahwa segala cara akan dilakukan pemerintah AS untuk menyelamatkan diri dari krisis ekonomi global kali ini.

Melihat hal- hal tersebut di atasperlu kita mewaspadai tindakan apa yang akan dilakukan AS untuk menyelamatkan sistem Neoliberalisme kali ini. Momentum Pemilihan presiden di Indonesia yang baru saja dilalui besar kemungkinan dimanfaatkan oleh AS dengan menunggangi setiap kesempatan. Karena Indonesia selain dikenal dengan Sumber Daya Alamnya yang melimpah juga merupakan pasar yang potensial untuk digarap. Konsolidasi dan penguatan kembali tentang makna demokrasi dari seluruh elemen diperlukan agar demokrasi ini tidak dibajak oleh kepentingan asing. Semoga.

Posted on Juli 20, 2009, in Artikel. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Kalau Amerika bakal berusaha menunggangi proses pemilu di Indonesia, itu jelas. Tetapi tentunya, bisa jadi polanya akan berbeda dengan pola yang diterapkan pada honduras dan Iran.

  2. salam.

    klo tulisan itu berupa asumsi,, saya jg pnya asumsi buruk buat hal itu .. namun saya terkendala hal kongkrit yang menghubungkan hal tersebut, yaitu antara pemilihan presiden dengan tunggangan dari amerika.. mngkin kalo penulis pnya info yang lebih bisa di share kan .. untuk menemukan pola, kyk kt mas yasser, dan kita bisa menentukan langkah gerak yang lebih konkrit pula..

    menurut saya itu lebih penting dilakukan drpd hanya melontarkan wacana yang jg sangat asumtif..

    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: