MAKRIFATULLAH*

allah-300x225

Oleh:  M. Ali Ridho

Ketua Bidang Kajian Keilmuan HMI Kom. FH UNS

Penjelasan mengenai hal-hal yang berbau ketuhanan, banyak akan berisi tentang sebab akibat. Posisi Tuhan atau sang Pencipta sebgai prima principia membuat dia adalah sang maha sebab itu sendiri. Posisi sebab yang tidak membutuhkan akibat atas keberadaannya membuat dia tidak tergantung atas apapun yang menjadi makhluknya (akibatnya).

Pengakuan akan keberadaan Tuhan baik dia memang ada melalui penjelasan firmanya atau hanya berasal dari upaya pengkonstruksian ide manusia akan esensi tidak dapat dielakan merupakan akibat dari sang prima principia. Walaupun konsepsi itu salah, maupun wahyu yang ternyata hanya merupakan karangan manusia, namun pada intinya pengakuan atau usaha pencarian  kebenaran atas apa yang dirasakan membuat kita berusaha mengadakan Tuhan itu sendiri dalam interaksi sosial kita sehari-hari.

Proses “penciptaan” Tuhan itu sendiri mengalami dua siklus. Pertama memilih konsepsi yang layak dan relevan dengan masyarakat agar konsepsi ketuhanan itu sendiri dapat bermamfaat dan diterima oleh masyarakat. Kedua adalah fase pembunuhan Tuhan, parahnya ketika ide tersebut tidak relevan lagi maka secara berangsur-angsur konsepsi itu akan ditinggalkan digantikan dengan konsepsi ketuhanan yang baru.

Karen Amstrong dalam bukunya mengatakan bahwa konsepsi awal tentang ketuhanan sebelum munculnya dewa-dewa adalah konsep Tuhan yang tunggal (monoteisme). Dengan menggunakan istilah Tuhan langit masyarakat suku pedalaman afrika meyakini bahwa Tuhan merupakan zat yang tidak bisa tervisualisasikan. Nama dewa langit pun digunakan untuk menggambarkan Tingginya posisi tuhan yang mereka yakini tersebut.

Menurut mereka Tuhan yang mereka yakini melihat dan mengawasi apa yang mereka lakukan serta memberikan prestasi atas dosa yang mereka lakukan. Namun permasalahnya jarak yang jauh antara mereka dengan Tuhan sendiri membuat Tuhan tersebut menjadi sangat ekslusif. Ditambah lagi Tuhan yang mereka yakini tidak memberikan satupun Manifestasinya yang dapat mereka fahami.tidak adanya perwakilan Tuhan di Bumi sebagai sosok ideal Tuhan tersebut membuat tidak jelasnya kepercayaan tersebut.

Tidak berlangsung lama kehidupan dari si “Tuhan Langit” pun berakhir. Secara berangsur-angsur namun pasti konsepsi tuhan tersebut digantikan dengan konsepsi tuhan yang dipandang lebih dekat dengan mereka. Akhirnya dari semula yang bersifat non material, si Tuhan bermetamorfosa menjadi patung-patung kuil.

Dari sepotong cerita diatas jelas bahwa pemosisian tuhan sebagai “al-awalun Sabab” tidak lah terjadi. Tuhan merupakan ciptaan manusia yang terkreasikan dari alam ide mereka. Seorang filosof Yunani mengatakan tidak mungkin seorang manusia mampu untuk menggambarkan tuhan dalam kehidupannya. Manusia jika diminta menggambarkan Tuhanya maka hasil yang didapat tidak jauh dari sifat2 manusiawinya itu sendiri.

Para filosof tempo dulu seperti Plato, Aristoteles, Anaximendes dll melewati banyak proses yang panjang, baik itu prose pemikiran maupun prosses sosial sehingga terciptanya sebuah konsepsi ketuhanan itu sendiri. Ada yang berkesimpulan Tuhan itu air, dikarenakan air merupakan awal dari kehidupan. Ada  yang menggambarkan tuhan itu adalah api, dikarenakan api mampu membinasakan semua yang ada didunia ini. Bahkan Phytagoras, menurut adik saya yang masih duduk dibangku SMA mengetahuinya sebagai ahli Matematika mempunyai konsepsi sendiri tentang Tuhan. Menurutnya rentetan angka adalah alat yang paling tepat untuk menjelaskan tuhan. Menurutnya Tuhan tergambarkan dengan angka 1, dia beranggapan bahwa 2,3,4, dst berasal dari angka satu, namun angka satu tidak berasal dari manapun dikarenakan dia adalah bilangan awal yang bukan berasal dari penjumlahan. Namun konsepsi ini pun terbananhkan dengan adanya konsep ahadiyah yang mengatakan dulu pun Tuhan tidak menjadi angka 1 dengan penjelasan bahwa setelah angka satu ada 2,3,4 dst. Sebelum fase wahidiyah atau sama sepeti yang dijelaskan oleh phytagoras Tuhan berada pada fase Ahadiyah. Dimana tidak ada 2,3,4,dst.

Dari pemaparan diatas jelas bahwa pemahaman manusia tentang konsepsi Tuhan belum bisa dapat dikatakan final, karena masih banyak hal yang belum terjawabkan. Apa yang dilakukan oleh parafilosof ataupun masyarakat dipedalam afrika tadi seperti layaknya orang yang mencari sesuatu, namun kita sampainya mereka pada tempat dimana akal tidak lagi ampu menjadi penerangan bagi mereka maka berhentilah perjalannannya.

Kegelapan yang dialamai oleh para filosof mapun para pencari tuhan yang lain dikarenakan mereka tidak mempunyai dasar yang kuat dalam melakukan pencarian tersebut. Penggunaan akal sebagi alat utama dalam proses pencarian Tuhan tersebut jelas-jelas masih kurang. Harus ada instrument lain yang digunakan selain akal. Namun kita tidak dapat menyalahkan apa yang dilakukan oleh para pencari tuhan tersebut. Usaha yang mereka lakuakn berhenti pada titik yang seharusnya. Titik dimana akal sudah tak mampu menjadi penerangan Atas pencariannya.

Mengenal Tuhan sering disebut sebagai Ma’rifat atau Ma’rifatullah. Ditinjau dari segi bahasa, para ulama mengatakan bahwa semua ilmu adalah makrifat dan semua makrifat adalah ilmu. Namun pendapat ini mash perlu dikritisi karena makrifat itu sendri lebih luas dari ilmu. Objek dariu ilmu hanya terbatas pada hal-hal yang materi, sedangkan makrifat merupakn ilmu yang berobjekan tidak hanya fisik namun juga pada hal yang berada diluar fisik (metafisik). Setiap orang yang berilmu disebut dengan alim, namun orang yang memiliki ilmu makrifat disebut dengan arif. Alat yang digunakan dalam ilmu adalah akal, namun dalam makrifat yang digunakan adalah akl dan hati.

Definisi dari arif sendiri adalah bijaksana, konteks bijaksana disini adalah ketika sesorang mampu meilhat sesuatu tidak hanya berdasarkan apa yang nampak oleh indra namun dapat mengungkapkan hal-hal yang berada dibalik materi tersebut.

Nah inilah jawaban dari kegelapan yang dialami oleh para pencari tuhan. Proses makrifat atau mengenal tuhan tidak hanya didaptkan ketika kita hanya memaksimalkan fungsi akal.

Apa ada proses yang harus dilalui sebelum kita mendapatan gelar sebagi makrifatullah? Sebelum melakukan proses pengenalan tuhan kitapun harus melewati proses syariat dan hakikat.

Syariat adalah disiplin ubudiyah, serdangkan hakikat adalah musyahadah Ketuhanan. Setiap syariat yang tidak dikukuhkan dengan nhakikat, tidak dapat diterima. Sebaliknya hakikat tranpa dengan syariat maka hakikat yang didapatkan bersifat kosong.

Syariat turun dengan tugas-tugas dari sang Khalik, sementara hakikat adalah merupakan implementasi pelakasanaan kebenaran. Syariat berarti anda menyembah-Nya, sedang hakikat berarti anda menyaksikan-Nya. Syariat berarti bangkit sesuai apa yang diperintahkan-Nya, sementara hakikat adalah menyaksikan apa yang diqadhakan dan ditakdirkan, apa yang tersembunyi dan apa yang tampak.

Perlu kita ketahui, syariat itu sendiri adalah hakikat, bila dilihat bahwa syariat adalah keharusan untuk menjalankan perintah-Nya. Begitupun hakikat adalah syariat, dari segiu bahwa ma’rifat-ma’rifat kepada-Nya, karena perintah-Nya.

—————————————————————————————–

*disampaikan dalam diskusi buku yang diselenggarakan oleh Bidang Kajian Keilmuan pada tanggal 1 September 2009 di Wisma Becak.

Posted on September 4, 2009, in Artikel, Reportase and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. sedikit kritik nih do.

    Diatas tertulis, “Posisi Tuhan atau sang Pencipta sebgai prima principia…”

    gak salah tuh? Bukannya prima pricipia itu adalah prinsip dasar logika? kalau tuhan sebagai sebab utama, yang benar adalah causa prima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: